Deretan Mobil Paling Boros di Dunia, Konsumsinya Bikin Geleng-geleng!

Mobil dengan mesin bertenaga besar identik dengan performa tinggi dan harga fantastis. Namun, di balik kemewahan dan tenaganya, banyak di antaranya justru masuk daftar mobil paling boros bahan bakar di dunia. Beberapa supercar bahkan hanya mampu menempuh jarak kurang dari 4 km per liter, angka yang jauh dari kata efisien.
Meski begitu, bagi para kolektor atau pecinta otomotif kelas atas, konsumsi bahan bakar bukanlah masalah utama. Yang lebih dikejar adalah sensasi mengemudi, eksklusivitas, serta prestise dari merek mobil tersebut. Lalu, mobil apa saja yang tercatat sebagai yang paling boros di dunia? Berikut kami rangkumkan dari berbagai sumber.
1. Bugatti Chiron, si rakus dengan mesin W16

Bugatti Chiron menjadi salah satu mobil dengan konsumsi BBM paling tinggi di dunia. Ditenagai mesin W16 8.0 liter quad-turbocharged yang mampu menghasilkan tenaga hingga 1.479 hp, mobil ini hanya sanggup menempuh sekitar 3,8 km/liter di dalam kota dan 5,9 km/liter di jalan tol.
Angka tersebut membuat Chiron jauh dari kata efisien, apalagi jika dibandingkan dengan mobil sport lain yang lebih ramah bahan bakar. Namun, bagi para kolektor supercar, konsumsi BBM bukanlah prioritas utama. Mereka lebih mengejar sensasi akselerasi brutal dari mesin W16 yang sanggup melesatkan mobil ini dari 0–100 km/jam hanya dalam 2,4 detik, serta kecepatan puncak yang bisa menembus lebih dari 420 km/jam.
2. Aston Martin dan Lamborghini yang sama-sama haus bensin

Aston Martin Vantage S hadir dengan mesin V12 6.0 liter yang mampu memberikan sensasi berkendara mewah sekaligus bertenaga. Konsumsinya tercatat sekitar 5,1 km/liter di dalam kota dan 7,6 km/liter di jalan tol. Meski boros, Vantage S tetap digemari karena memadukan desain elegan khas Aston Martin dengan performa mesin besar yang masih jarang dimiliki mobil sport lain di kelasnya.
Sementara itu, Lamborghini Aventador membawa mesin V12 6,5 liter yang jauh lebih agresif. Konsumsi bahan bakarnya hanya 4,6 km/liter di kota dan 7,6 km/liter di jalan tol, angka yang sebanding dengan tenaga brutal yang dihasilkan. Dengan akselerasi 0–100 km/jam hanya dalam 2,9 detik dan top speed di atas 350 km/jam, Aventador menjadi simbol supercar Italia yang mengutamakan performa tanpa kompromi, meskipun harus dibayar dengan borosnya pemakaian bahan bakar.
3. Ferrari dan Maserati dengan konsumsi ekstrem

Ferrari 812 Superfast dan Ferrari GTC4 Lusso masuk daftar supercar paling boros dengan konsumsi bahan bakar berkisar antara 3,8–6 km/liter. Kedua mobil ini sama-sama mengandalkan mesin V12 bertenaga besar yang menghasilkan performa luar biasa, dengan akselerasi cepat dan suara knalpot khas Ferrari yang jadi daya tarik utama. Meskipun boros, daya pikat Ferrari tetap kuat karena identitasnya sebagai simbol kemewahan dan teknologi balap yang dibawa ke jalan raya.
Selain Ferrari, Maserati GranTurismo Convertible juga dikenal irit dalam hal penjualan, tapi bukan dalam konsumsi bahan bakar. Mobil ini hanya mencatat angka 6,25 km/liter. Meski demikian, Maserati tetap punya penggemar setia berkat kombinasi desain elegan, kenyamanan berkendara, serta nuansa sporty khas Italia. Bagi para kolektor, konsumsi bahan bakar yang boros dianggap wajar selama mobil tetap memberikan pengalaman eksklusif yang tidak bisa ditawarkan kendaraan biasa.
4. Mobil mewah Bentley dan Mercedes-Benz yang tak kalah boros

Tidak hanya supercar, mobil mewah juga punya catatan konsumsi BBM yang tinggi. Bentley Continental GT Speed Convertible memiliki konsumsi sekitar 6,38 km/liter, sementara Bentley Mulsanne hanya 5,53 km/liter. Dari kubu Jerman, Mercedes-Benz C63 AMG Coupe pun masuk daftar dengan konsumsi sekitar 6,23 km/liter. Meski terbilang boros, segmen ini tetap laris di kalangan pembeli kelas atas yang mengutamakan kenyamanan dan status sosial.
Mobil-mobil di atas jelas tidak cocok untuk pengendara yang peduli efisiensi bahan bakar. Namun, bagi kalangan tertentu, borosnya konsumsi BBM dianggap sebagai “harga yang sepadan” untuk menikmati tenaga luar biasa, desain premium, dan teknologi canggih. Fakta ini sekaligus menunjukkan perbedaan kebutuhan pasar: ada yang mencari efisiensi, ada pula yang mengejar kemewahan tanpa memikirkan seberapa sering harus mengisi bensin.