Honda Rugi Rp45,9 triliun, Kerugian Pertama Sejak 1957!

- Honda mencatat kerugian tahunan pertama sejak 1957 sebesar Rp45,9 triliun akibat membengkaknya biaya investasi besar di sektor kendaraan listrik.
- Perusahaan membatalkan target elektrifikasi global dan menunda proyek pabrik EV senilai Rp183 triliun di Kanada demi menjaga stabilitas keuangan.
- Manajemen fokus pada efisiensi biaya dan mengandalkan penjualan sepeda motor yang mencetak rekor untuk memulihkan kinerja serta menutup kerugian divisi mobil.
Dunia otomotif global dikejutkan oleh kabar kurang sedap yang datang dari salah satu raksasa manufaktur asal Jepang, Honda. Untuk pertama kalinya sejak melantai di bursa saham pada tahun 1957 silam, perusahaan berlogo huruf H ini harus rela menelan pil pahit berupa kerugian tahunan yang sangat besar akibat ambisi besar mereka di sektor kendaraan listrik.
Langkah restrukturisasi besar-besaran untuk beralih ke era elektrifikasi ternyata menjadi bumerang finansial yang menguras kas perusahaan secara drastis. Situasi ini semakin diperparah oleh tren data penjualan unit mobil konvensional Honda secara global yang terus mengalami tren penurunan dalam beberapa waktu terakhir, memaksa manajemen untuk segera memutar otak dan merombak strategi bisnis mereka.
1. Pembengkakan biaya bisnis kendaraan listrik yang memicu kerugian triliunan

Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan tahun fiskal yang berakhir Maret lalu, seperti dikutip dari Arena EV, Honda secara resmi membukukan kerugian operasional yang sangat fantastis, yaitu mencapai 414,3 miliar yen atau setara dengan Rp45,9 triliun. Angka ini merupakan penurunan performa yang sangat drastis dan ironis, mengingat pada periode tahun fiskal sebelumnya perusahaan sebenarnya masih sanggup mencetak laba bersih yang sangat sehat sebesar 1,2 triliun yen atau sekitar Rp133 triliun.
Pemicu utama dari rapor merah ini tidak lain adalah pembengkakan biaya investasi pada sektor kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) yang sepanjang tahun tersebut telah menyedot dana hingga 1,45 triliun yen atau sekitar Rp160,8 triliun. Beban keuangan ini diprediksi belum akan mereda dalam waktu dekat, karena manajemen memproyeksikan masih akan ada pengeluaran biaya tambahan sekitar 500 miliar yen atau Rp55 triliun untuk pengembangan bisnis EV pada tahun fiskal berikutnya.
2. Pembatalan target elektrifikasi global dan penundaan mega proyek Kanada

Menanggapi situasi keuangan yang kian mengkhawatirkan di tengah data penjualan mobil yang terus menurun, CEO Honda, Toshihiro Mibe, mengambil langkah tegas dengan melakukan revisi besar-besaran terhadap peta jalan elektrifikasi perusahaan. Honda secara resmi membatalkan target ambisius mereka yang sebelumnya mencanangkan bahwa penjualan kendaraan listrik harus menyumbang seperlima dari total penjualan mobil baru pada tahun 2030 mendatang.
Tidak hanya itu, pabrikan Jepang ini juga memilih mundur dari target jangka panjang untuk sepenuhnya beralih ke penjualan kendaraan listrik dan fuel cell pada tahun 2040. Sebagai bentuk efisiensi nyata untuk menyelamatkan arus kas, Honda memutuskan untuk menunda proyek raksasa pembangunan pabrik kendaraan listrik dan baterai lokal di Kanada yang bernilai 9 miliar euro atau setara Rp183 triliun sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan.
3. Optimisme pemulihan lewat efisiensi biaya dan sokongan bisnis sepeda motor

Meskipun sedang dihantam badai keuangan di sektor roda empat, manajemen Honda tetap memelihara optimisme yang tinggi untuk bisa segera membalikkan keadaan dan kembali mencetak laba sebesar 500 miliar yen pada tahun ini. Strategi pemulihan ini akan difokuskan pada langkah-langkah efisiensi biaya operasional yang ketat di segala lini serta melakukan diferensiasi produk yang lebih realistis dan sesuai dengan serapan pasar global saat ini.
Harapan terbesar Honda untuk keluar dari zona merah ini bertumpu pada kontribusi luar biasa dari lini bisnis sepeda motor mereka yang justru berhasil mencatatkan rekor penjualan tertinggi. Penjualan kendaraan roda dua yang sangat masif di berbagai belahan dunia, terutama di pasar Asia, diharapkan mampu menjadi pahlawan finansial yang menyubsidi serta menambal kerugian besar yang ditinggalkan oleh divisi mobil dan proyek kendaraan listrik mereka.

















