Kenali Pretensioner, Fitur Sabuk Pengaman yang Bekerja Saat Kecelakaan

- Pretensioner mengencangkan sabuk pengaman secara cepat saat benturan terdeteksi, mengurangi kelonggaran dan membantu mengontrol gerakan tubuh pada fase awal kecelakaan.
- Sistem ini bekerja bersama force limiter: pretensioner menarik sabuk lebih awal, sedangkan force limiter mengendalikan gaya sabuk yang diteruskan ke tubuh saat beban meningkat.
- Setelah pretensioner aktif, buckle tetap bisa dilepas normal, tetapi sistem keselamatan harus diperiksa dan komponen terpicu diganti sesuai prosedur pabrikan.
Jakarta, IDN Times - Sabuk pengaman menjadi salah satu perangkat keselamatan paling mendasar di mobil.
Namun, pada kendaraan modern, sabuk pengaman tidak hanya berfungsi menahan tubuh ketika terjadi benturan. Ada sejumlah mekanisme yang bekerja secara otomatis untuk membantu mengontrol pergerakan tubuh selama kecelakaan.
Salah satunya adalah seat belt pretensioner. Teknologi ini digunakan pada seluruh model Peugeot yang dipasarkan di Indonesia dan dirancang untuk bekerja ketika kendaraan mendeteksi kondisi benturan tertentu.
1. Pretensioner mengencangkan sabuk dalam waktu singkat

ilustrasi memakai seat belt (freepik.com/freepik) Secara sederhana, pretensioner berfungsi mengurangi kelonggaran pada sabuk pengaman dengan menarik sabuk secara cepat ketika terjadi benturan.
Mekanisme tersebut membantu membuat posisi tubuh pengemudi maupun penumpang lebih terkendali pada fase awal kecelakaan.
Head of After Sales Astra Peugeot, Rafii Sinurat, menjelaskan bahwa ketika terjadi kecelakaan, kendaraan mengalami perlambatan secara tiba-tiba. Sementara itu, tubuh manusia masih memiliki kecenderungan bergerak ke depan.
“Pretensioner membantu mengurangi gerakan tersebut sehingga posisi tubuh lebih terkontrol dan dapat bekerja bersama sistem keselamatan lainnya, termasuk airbag,” ujar Rafii belum lama ini.
2. Bekerja bersama force limiter

ilustrasi pakai seat belt (pixabay.com/cfarnsworth) Kerja pretensioner tidak berdiri sendiri. Pada sistem sabuk pengaman, perangkat ini juga dapat bekerja bersama force limiter yang memiliki fungsi berbeda tetapi saling melengkapi.
Pretensioner bertugas mengurangi kelonggaran sabuk pada awal benturan. Sementara itu, force limiter membantu mengendalikan gaya yang diteruskan sabuk kepada tubuh ketika beban meningkat.
Kombinasi keduanya membuat sistem sabuk pengaman tidak hanya berusaha menahan tubuh secepat mungkin, tetapi juga mengelola gaya yang diterima tubuh selama proses benturan.
3. Setelah aktif, pretensioner harus diperiksa

Ilustrasi sabuk pengaman (pexels.com/Luke Miller) Salah satu hal yang perlu diketahui pemilik mobil adalah kondisi sabuk pengaman setelah pretensioner bekerja. Aktivasi pretensioner tidak membuat buckle terkunci secara permanen. Sabuk tetap dapat dilepaskan dengan menekan tombol pelepas seperti biasa.
“Pretensioner bekerja dengan mengencangkan sabuk pengaman. Hal tersebut bukan berarti buckle terkunci secara permanen. Jadi, penumpang tidak perlu memotong sabuk pengaman hanya karena pretensioner telah aktif,” jelas Rafii.
Meski begitu, bukan berarti sabuk pengaman dan sistem pretensioner yang sudah aktif bisa langsung digunakan seperti kondisi normal. Setelah benturan yang memicu pretensioner, sistem keselamatan perlu diperiksa dan komponen yang sudah terpicu harus diganti sesuai prosedur pabrikan.
Pemeriksaan juga penting karena sistem keselamatan mobil modern bekerja secara terintegrasi, mulai dari sabuk pengaman, pretensioner, force limiter, airbag hingga sensor dan sistem pengendali keselamatan.
Selain memastikan sistem keselamatan diperiksa setelah kecelakaan, posisi sabuk pengaman saat digunakan juga tetap penting. Bagian atas sabuk harus melewati bahu dan dada dengan posisi yang tepat, sedangkan bagian pangkuan berada di area panggul.






![[QUIZ] Andai Motormu Bisa Ngomong, Apa yang Dikatakannya?](https://image.idntimes.com/post/20260117/upload_797d7de42b965ecd989ed7b4a6d5b1bc_bb6e136e-8ba6-4b77-a281-58de2cc7a9bb.jpg)













