Mobil Bersejarah yang Menjadi Saksi Perjuangan Indonesia

- Buick Limited 8 1939 berpelat REP-1 menjadi mobil kepresidenan pertama Soekarno, setelah Sudiro memperoleh kuncinya dari sopir Jepang di Gambir pada 1945.
- De Soto 1942 berpelat REP-2, hadiah Djohan Djohor, menjadi kendaraan dinas Mohammad Hatta dalam aktivitas kenegaraan dan perjalanan bergerilya saat mempertahankan kemerdekaan.
- Chrysler Imperial 1938 selamat dari Peristiwa Cikini 1957, sementara Cadillac 75 Fleetwood digunakan dalam kegiatan kenegaraan saat Indonesia mulai menerima tamu asing.
Mobil pada masa awal kemerdekaan Indonesia punya cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar urusan transportasi. Di tengah kondisi negara yang baru berdiri, kendaraan menjadi bagian dari simbol kedaulatan sekaligus mendukung aktivitas para pemimpin republik.
Menariknya, sejumlah mobil yang digunakan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta memiliki sejarah unik. Ada yang diperoleh dari peninggalan pemerintahan Jepang, pemberian pengusaha, hingga kendaraan yang menjadi saksi peristiwa penting dalam sejarah Indonesia.
1. Buick 8 menjadi mobil kepresidenan pertama

ilustrasi mobil Buick (image by Gemini) Buick Limited 8 keluaran 1939 dikenal sebagai salah satu mobil paling bersejarah pada masa awal Republik Indonesia. Kendaraan ini digunakan Presiden Soekarno dan memiliki nomor polisi REP-1, yang menandai statusnya sebagai kendaraan kepresidenan pertama Indonesia.
Mobil tersebut awalnya digunakan Kepala Jawatan Kereta Api Jepang atau Raikuyu Somubucho. Pada pertengahan 1945, pemuda bernama Sudiro menemukan kendaraan itu terparkir di sebuah garasi di kawasan Gambir, Jakarta. Sudiro kemudian membujuk sopir Jepang yang dikenalnya untuk menyerahkan kunci mobil demi kepentingan negara yang baru merdeka.
Setelah kunci diberikan, mobil tersebut kemudian diserahkan kepada Soekarno. Buick 8 pun menjadi kendaraan penting bagi Presiden dalam menjalankan aktivitas pada masa-masa awal republik.
2. De Soto 1942 menemani perjalanan Bung Hatta

ilustrasi mobil De Soto (image by Gemini) Wakil Presiden Mohammad Hatta juga memiliki kendaraan bersejarah, yakni De Soto keluaran 1942. Mobil buatan Chrysler Corporation asal Amerika Serikat tersebut menggunakan nomor polisi REP-2 dan menjadi kendaraan dinas Bung Hatta.
De Soto tersebut merupakan pemberian pengusaha asal Minangkabau, Djohan Djohor. Kendaraan ini kemudian menemani berbagai aktivitas kenegaraan Hatta, termasuk perjalanan dinas di Pulau Jawa ketika situasi politik dan keamanan Indonesia masih belum stabil.
Mobil tersebut juga digunakan dalam periode perjuangan mempertahankan kemerdekaan, termasuk perjalanan bergerilya setelah Agresi Militer Belanda. Karena itu, De Soto bukan hanya kendaraan dinas, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan perjuangan Hatta.
3. Chrysler Imperial menjadi saksi peristiwa cikini

ilustrasi mobil Chrysler Imperial (image by gemini) Chrysler Imperial keluaran 1938 merupakan salah satu mobil mewah yang digunakan Soekarno. Kendaraan buatan Amerika Serikat ini tidak hanya digunakan untuk keperluan kenegaraan, tetapi juga perjalanan keluarga Presiden.
Salah satu catatan sejarah paling terkenal terjadi dalam Peristiwa Cikini pada 1957. Saat itu, mobil digunakan untuk mengantar anak-anak Soekarno ke Perguruan Cikini. Ketika Soekarno menghadiri acara di sekolah tersebut, terjadi serangan granat.
Mobil mengalami kerusakan akibat ledakan dan lemparan granat. Meski demikian, Soekarno beserta anak-anaknya selamat dari peristiwa tersebut. Kisah ini membuat Chrysler Imperial memiliki tempat tersendiri dalam sejarah kendaraan kepresidenan Indonesia.
4. Cadillac 75 Fleetwood Limousine

ilustrasi mobil Cadillac 75 Fleetwood Limousine (image by Gemini) Cadillac 75 Fleetwood Limousine menjadi salah satu kendaraan kepresidenan yang mencerminkan perubahan posisi Indonesia setelah kemerdekaan mulai mendapatkan pengakuan internasional. Mobil bermesin V8 ini menawarkan kenyamanan dan performa yang lebih tinggi dibandingkan sejumlah kendaraan sebelumnya.
Cadillac tersebut kerap digunakan dalam kegiatan kenegaraan, termasuk ketika Indonesia mulai menerima kunjungan para tamu negara asing setelah pengakuan kedaulatan melalui Konferensi Meja Bundar. Kehadirannya ikut menggambarkan perkembangan Indonesia sebagai negara berdaulat yang mulai aktif dalam hubungan internasional.
Keempat mobil tersebut kini tidak sekadar dikenang sebagai kendaraan lawas. Buick 8, De Soto, Chrysler Imperial, dan Cadillac 75 Fleetwood menjadi bagian dari cerita perjalanan Indonesia pada masa awal kemerdekaan, ketika sebuah mobil bisa sekaligus menjadi alat perjuangan, simbol negara, dan saksi berbagai peristiwa bersejarah.

















