Inovasi dalam pengolahan sagu sebagai pengembangan pangan lokal di Sulawesi Selatan. (Dok. Sagu Cooker)
Guru Besar Universitas Hasanuddin Prof. Dorothea Agnes Rampisela menilai inovasi dalam pengolahan sagu dapat membantu meningkatkan nilai ekonomi komoditas tersebut sekaligus mempermudah masyarakat memanfaatkan pangan lokal.
"Inovasi ini bisa menjadi solusi modern agar masyarakat Indonesia Timur dapat mengolah pangan lokal secara lebih mudah, higienis, efisien, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sagu sebagai salah satu identitas pangan Nusantara," ujar Dorothea yang dikenal sebagai Profesor Sagu itu, di sela-sela acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Kabupaten Toraja Utara, Sabtu (25/7/2026).
Dukungan juga datang dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang melihat inovasi berbasis sagu sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan diversifikasi pangan daerah. Rencananya, pengenalan inovasi tersebut akan berlanjut dalam Festival Sagu Merah Putih yang digelar di Palopo pada Agustus 2026 dan melibatkan pelaku UMKM berbasis sagu.
Pengembangan pangan lokal tidak cukup hanya mengandalkan potensi alam yang dimiliki Indonesia. Inovasi teknologi, dukungan pemerintah, akademisi, hingga keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar komoditas seperti sagu semakin mudah diolah, lebih banyak dikonsumsi, dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi daerah penghasilnya. Dengan demikian, pangan lokal tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga dapat berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.