Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Inovasi Sagu untuk Mendorong Pengembangan Pangan Lokal
Ilustrasi sagu (commons.wikimedia.org/Fumikas Sagisavas)
  • Sagu, pangan pokok turun-temurun di Indonesia Timur, tumbuh di lahan rawa dan gambut serta berpotensi menjadi sumber karbohidrat alternatif yang tahan perubahan iklim.
  • Pemanfaatan sagu masih terkendala pengolahan rumit, termasuk pembuatan papeda, sehingga inovasi Sagu Cooker Bellatrix dikembangkan untuk memasak sagu lebih praktis.
  • Akademisi dan Pemerintah Sulawesi Selatan mendukung inovasi sagu untuk diversifikasi pangan, peningkatan nilai ekonomi, serta pelibatan UMKM melalui Festival Sagu Merah Putih 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada beras. Indonesia memiliki beragam pangan lokal yang berpotensi menjadi sumber karbohidrat alternatif, salah satunya sagu. Bahkan, sagu telah lama menjadi makanan pokok masyarakat di berbagai wilayah Indonesia Timur dan dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan di tengah tantangan perubahan iklim.

Meski demikian, pemanfaatan sagu masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari proses pengolahan yang belum praktis hingga minimnya inovasi yang mendukung konsumsi sehari-hari. Karena itu, berbagai upaya terus dilakukan agar pangan lokal ini semakin mudah diakses masyarakat. Berikut beberapa faktanya.

1. Sagu merupakan warisan pangan lokal yang telah dikonsumsi turun-temurun

Ilustrasi Sagu

Sagu telah menjadi makanan pokok masyarakat di Papua, Maluku, Sulawesi, dan sejumlah wilayah Indonesia Timur lainnya selama ratusan tahun. Tanaman ini mampu tumbuh subur di lahan rawa maupun gambut, kondisi yang kurang cocok untuk budidaya padi.

Selain itu, pohon sagu memiliki masa panen yang panjang dan mampu menghasilkan pati dalam jumlah besar sehingga menjadi sumber pangan penting bagi masyarakat setempat.

2. Potensinya besar sebagai bagian dari ketahanan pangan

ilustrasi sagu mutiara (vecteezy.com/Pannarai Nak-im)

Sagu tidak hanya menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia Timur, tetapi juga dinilai memiliki potensi sebagai pangan masa depan. Dalam materi yang dibagikan, disebutkan bahwa Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menilai sagu memiliki keunggulan karena lebih tahan terhadap perubahan iklim, tidak membutuhkan perawatan intensif seperti padi, serta mampu menghasilkan panen yang melimpah.

Dengan semakin meningkatnya kebutuhan pangan dunia, pengembangan komoditas lokal seperti sagu dinilai menjadi salah satu peluang untuk memperkuat diversifikasi pangan.

3. Proses pengolahan masih menjadi tantangan

ilustrasi tepung sagu (pexels.com/Klaus Nielsen)

Di balik potensinya yang besar, konsumsi sagu belum berkembang secepat beras. Salah satu penyebabnya adalah proses pengolahan yang masih relatif rumit.

Untuk membuat papeda, misalnya, tepung sagu harus diseduh menggunakan air mendidih sambil terus diaduk hingga berubah menjadi bening dan mengental. Dibandingkan memasak nasi menggunakan rice cooker, proses ini membutuhkan waktu dan keterampilan lebih sehingga dinilai menjadi kendala bagi sebagian masyarakat.

4. Inovasi teknologi mulai dikembangkan agar sagu lebih mudah diolah

Inovasi dalam pengolahan sagu sebagai pengembangan pangan lokal di Sulawesi Selatan. (Dok. Sagu Cooker)

Menjawab tantangan tersebut, mulai bermunculan inovasi yang bertujuan mempermudah pengolahan sagu. Salah satunya adalah pengembangan alat penanak sagu atau Sagu Cooker yang dirancang agar proses memasak sagu menjadi lebih praktis.

Pengembang inovasi tersebut, Aurora Bellatrix Dakka mengatakan idenya berangkat dari keinginan menjaga warisan pangan Nusantara sekaligus menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Menurutnya, inovasi dapat menjadi salah satu cara agar pangan lokal tetap relevan di tengah perubahan gaya hidup.

“Bagi saya, sagu bukan sekadar bahan makanan tetapi sagu adalah warisan budaya Nusantara yang memiliki nilai ekonomi sekaligus identitas yang patut dipertahankan,” jelas Aurora, pendiri PT. Sagu Cooker Indonesia.

Perempuan asal Palopo, Sulawesi Selatan tersebut, melihat bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pelestarian pangan lokal adalah proses pengolahannya yang masih rumit bagi sebagian masyarakat. Karena itu, ia mencoba menghadirkan solusi yang sederhana namun relevan dengan kebutuhan sehari-hari.

Dengan niat menjaga tradisi nenek moyang, dia membuat alat penanak sagu (sagu cooker) seperti penanak nasi (rice cooker). Dia memberi nama sagu cooker itu Bellatrix. Alat ini diharapkan bisa menjadi solusi bagi masyarakat dalam proses pengolahan sagu menjadi makanan siap santap.

5. Pengembangan pangan lokal membutuhkan kolaborasi berbagai pihak

Inovasi dalam pengolahan sagu sebagai pengembangan pangan lokal di Sulawesi Selatan. (Dok. Sagu Cooker)

Guru Besar Universitas Hasanuddin Prof. Dorothea Agnes Rampisela menilai inovasi dalam pengolahan sagu dapat membantu meningkatkan nilai ekonomi komoditas tersebut sekaligus mempermudah masyarakat memanfaatkan pangan lokal.

"Inovasi ini bisa menjadi solusi modern agar masyarakat Indonesia Timur dapat mengolah pangan lokal secara lebih mudah, higienis, efisien, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi sagu sebagai salah satu identitas pangan Nusantara," ujar Dorothea yang dikenal sebagai Profesor Sagu itu, di sela-sela acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Kabupaten Toraja Utara, Sabtu (25/7/2026).

Dukungan juga datang dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang melihat inovasi berbasis sagu sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan diversifikasi pangan daerah. Rencananya, pengenalan inovasi tersebut akan berlanjut dalam Festival Sagu Merah Putih yang digelar di Palopo pada Agustus 2026 dan melibatkan pelaku UMKM berbasis sagu.

Pengembangan pangan lokal tidak cukup hanya mengandalkan potensi alam yang dimiliki Indonesia. Inovasi teknologi, dukungan pemerintah, akademisi, hingga keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar komoditas seperti sagu semakin mudah diolah, lebih banyak dikonsumsi, dan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi daerah penghasilnya. Dengan demikian, pangan lokal tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga dapat berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Curated For You

Editorial Team

Related Article