Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

9 BUMN Bakal Masuk Holding Logistik Pos Indonesia

9 BUMN Bakal Masuk Holding Logistik Pos Indonesia
Logo Pos Indonesia di Pos Bloc, Jakarta Pusat. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Intinya Sih
  • Danantara Indonesia menunjuk PT Pos Indonesia sebagai holding logistik yang akan menaungi sembilan BUMN, dengan proses konsolidasi bertahap dimulai pada 1 Juli 2026.
  • Konsolidasi dilakukan untuk mengatasi tumpang tindih bisnis dan fragmentasi di sektor logistik BUMN, yang selama ini hanya menguasai kurang dari tiga persen pangsa pasar nasional.
  • Penggabungan ini ditargetkan memperluas jaringan distribusi hingga 160 lini bisnis, menekan biaya logistik nasional, dan mendorong nilai pasar logistik mencapai Rp3.372 triliun pada 2026.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Danantara Indonesia tengah melakukan konsolidasi BUMN logistik, dengan menunjuk PT Pos Indonesia (Persero) sebagai holding. Secara total, akan ada sembilan BUMN yang bergabung di bawah holding logistik di bawah PT Pos Indonesia, namun proses konsolidasinya akan dilakukan secara bertahap.

Proses konsolidasi anak-anak usaha BUMN yang bergerak di sektor logistik tidak dilakukan dengan langsung memindahkan kepemilikan saham pada Pos Indonesia. Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero), Daud Joseph mengatakan, konsolidasi akan diawali dengan penggabungan tujuh perusahaan ke PT Multi Terminal Indonesia (MTI), yang merupakan cucu usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo pada 1 Juli 2026.

Tujuh perusahaan itu, antara lain PT MTI dan PT Prima Indonesia Logistik (PIL) yang berada di bawah Pelindo, PT Pos Logistik Indonesia (Poslog) milik Pos Indonesia, PT Sarana Bandar Logistik (SBL) milik PT PELNI (Persero), PT KBN Prima Logistik (KPL) milik PT Danareksa (Persero), PT Varia Usaha Dharma Segara (VUDS) yang merupakan anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SIG, serta PT Krakatau Jasa Logistik (KJL) yang merupakan bagian dari PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

1. Pelindo bakal kantongi saham mayoritas di awal

IMG-20260204-WA0071.jpg
Kondisi perairan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang yang menjadi sarana vital untuk bongkar muat curah. (dok. Pelindo Tanjung Emas Semarang)

Daud mengatakan, pada tahap awal, Pelindo masih akan mengantongi saham mayoritas dari BUMN logistik itu, yakni 73 persen, Pos Indonesia 9 persen, dan 17 persen dimiliki lima perusahaan lainnya. Selanjutnya pada 2027, seluruh saham perusahaan akan dimiliki Pos Indonesia.

Di fase kedua, konsolidasi akan diperluas bergabungnya perusahaan berbasis cargo owner, yaitu PT Semen Indonesia Logistik (Silog) yang menjadi pendukung distribusi semen nasional, serta PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) yang mendukung distribusi pupuk dan produk turunannya.

“Nantinya berarti sudah ada sembilan BUMN logistik yang bergabung di bawah perusahaan Pos Indonesia,” kata Daud dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, di Jakarta.

2. Ada tumpang tindih bisnis BUMN logistik

WhatsApp Image 2025-06-30 at 11.30.02.jpeg
Wisma Danantara Indonesia (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Daud mengatakan, konsolidasi BUMN logistik merupakan salah satu dari empat langkah utama dalam manajemen portofolio Danantara Asset Management (DAM), dan telah masuk dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP), serta menjadi program prioritas RKAP 2026.

Adapun konsolidasi itu dilakukan karena adanya fragmentasi bisnis, duplikasi fungsi, dan keterbatasan skala usaha di lingkaran 15 perusahaan logistik BUMN. Hal itu menyebabkan pangsa pasar BUMN logistik masih relatif kecil, yakni kurang dari 3 persen. Padahal, aset dan jaringan yang dimiliki tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

“Karena mereka beroperasi sendiri-sendiri, skala usahanya juga sangat terbatas, Pak. Dari Rp3 ribu triliun market logistik, perusahaan-perusahaan ini hanya mengambil kurang dari 3 persen. Kecil sekali,” tutur Daud.

Kondisi itu juga menyebabkan tumpang tindih bisnis karena menempati rute yang sama, sehingga terjadi persaingan dalam menjaring pelanggan.

“Secara kapabilitas mereka juga kadang-kadang tidak bisa saling mengisi ketika ada yang penuh saat berangkat tetapi kosong saat pulang, sehingga masing masing bergerak di bidangnya sendiri-sendiri,” ucap Daud.

3. Incar kapitalisasi pasar Rp3.372 triliun

ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)
ilustrasi rupiah (unsplash.com/Mufid Majnun)

Dengan konsolidasi BUMN logistik, maka akan terjadi sinergi yang lebih luas terhadap jaringan distribusinya. Kekuatan yang sebelumnya hanya di wilayah tertentu kini bisa diperluas ke berbagai wilayah di Indonesia.

“Sehingga jumlahnya yang hari ini hanya ada 78 titik kumulatif, nantinya bisa bertambah menjadi sekitar 150 atau bahkan 160 lini bisnis," ujar Daud.

Selain itu, konsolidasi juga mampu menekan biaya logistik nasional. Dia mengatakan, selama ini setiap mata rantai logistik dijalankan oleh perusahaan berbeda yang masing-masing mengambil margin keuntungan sendiri.

"Nantinya setelah digabung menjadi satu perusahaan, profit margin-nya hanya menjadi satu, sehingga nanti akan bisa memotong duplikasi profit margin dan akan menurunkan biaya logistik secara keseluruhan,” tutur Daud.

Setelah konsolidasi, diperkirakan pertumbuhan industri logistik nasional terkerek sekitar 6 persen per tahun, khususnya pada sektor freight forwarding dan pergudangan (warehousing). Dia memaparkan, nilai pasar logistik nasional tercatat sekitar Rp2.800 triliun pada 2022, meningkat menjadi Rp2.913 triliun pada 2023, dan Rp3.048 triliun pada 2024.

Nantinya, pangsa pasar logistik secara nasional diproyeksikan tumbuh menjadi Rp3.190 triliun pada 2025, Rp3.372 triliun pada 2026, dan mencapai Rp3.617 triliun pada 2027.

“Bapak, ibu kalau kita melihat tabel paling kanan bernilai Rp2,38 triliun, itulah nanti besarnya revenue dari perusahaan gabungan ini. Dari Rp2,38 triliun ini akan bisa menghasilkan profit di tahun ini kira-kira sebesar Rp100 miliar," kata Daud.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More