Ilustrasi tersenyum (pexels.com/jersy)
Narasimman Tivasiha Mani, co-founder sekaligus executive director Impart, melihat banyak anak muda seperti menjalani kehidupan dalam pola yang sudah otomatis. Mereka melewati sekolah dasar, sekolah menengah, hingga pendidikan tinggi tanpa banyak kesempatan untuk benar-benar memikirkan pilihan dan otonomi pribadi. Pola seperti ini bisa membuat seseorang terbiasa mencari jawaban yang benar daripada memahami apa yang sebenarnya ingin dijalani. Ketika memasuki dunia kerja yang penuh pilihan, kebiasaan tersebut akhirnya bisa membuat proses menentukan arah terasa lebih membingungkan.
Attiya Ashraf Ali juga membagikan pandangan bahwa perubahan arah dalam hidup sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar. Percakapan dengan profesornya setelah lulus membuatnya memahami bahwa berganti pekerjaan atau mengubah rencana bukan berarti seseorang gagal. Kamu boleh mengatakan bahwa kamu masih mencari tahu apa yang cocok, karena perjalanan karier memang gak selalu berjalan lurus. David Chua bahkan menekankan pentingnya lingkungan yang tidak menghakimi agar anak muda bisa mengatakan, "Saya masih mencari tahu," tanpa merasa tertinggal dari orang lain.
Kecemasan karier anak muda Singapura menunjukkan bahwa kondisi pasar kerja gak bisa hanya dilihat dari angka pengangguran. Memiliki pekerjaan memang penting, tapi rasa percaya diri terhadap masa depan, kesempatan berkembang, dan kemampuan beradaptasi juga punya peran besar.
Buat kamu yang sedang berada di fase mencari arah, gak perlu merasa harus langsung memiliki semua jawaban, ya. Karier bisa menjadi perjalanan dengan banyak belokan, dan pengalaman dari setiap pilihan dapat membantumu memahami jalan yang paling sesuai.