Jumlah Pengangguran per Mei Capai 7,22 Juta Orang, Ini Rinciannya
.jpg)
- BPS mencatat 7,22 juta pengangguran pada Mei 2026, dengan TPT 4,65 persen, turun dari 4,68 persen pada Februari 2026.
- TPT laki-laki 4,85 persen dan perempuan 4,32 persen; pengangguran perkotaan 5,54 persen masih lebih tinggi daripada perdesaan 3,19 persen.
- Angkatan kerja mencapai 155,41 juta orang, dengan 148,19 juta bekerja; akomodasi-makan minum menambah pekerja terbanyak, sementara pertanian tetap penyerap tenaga kerja terbesar.
Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia pada Mei 2026 mencapai 7,22 juta orang atau setara dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 4,65 persen.
Angka ini lebih rendah dibandingkan Februari 2026 sebesar 4,68 persen atau jumlah pengangguran 7,24 juta orang. Di sisi lain, jumlah pekerja informal masih jauh lebih besar dibandingkan pekerja formal.
"Penurunan tingkat pengangguran terbuka ini juga terjadi pada laki-laki, pekerja laki-laki maupun perempuan. Penurunan tingkat pengangguran terbuka juga konsisten terjadi di wilayah perkotaan dan perdesaan," ucap Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud dalam konferensi pers BPS, Rabu (5/8/2026).
1. Rincian tingkat pengangguran terbuka laki-laki dan perempuan

TPT laki-laki pada Mei 2026 tercatat sebesar 4,85 persen, turun dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 4,88 persen. Sementara itu, TPT perempuan berada di level 4,32 persen, turun tipis dari posisi 4,36 persen pada Februari 2026.
Jika dibandingkan dengan November 2025, TPT laki-laki meningkat dari 4,75 persen menjadi 4,85 persen. Sebaliknya, TPT perempuan turun dari 4,71 persen pada November 2025 menjadi 4,32 persen pada Mei 2026.
Berdasarkan wilayahnya TPT di wilayah perkotaan pada Mei 2026 tercatat sebesar 5,54 persen, turun tipis dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 5,60 persen.
"Sementara itu, TPT di perdesaan berada di level 3,19 persen, juga menurun dari 3,20 persen pada Februari 2026," jelasnya.
Jika dibandingkan November 2025, TPT di perkotaan turun dari 5,65 persen menjadi 5,54 persen. Adapun TPT di perdesaan menyusut dari 3,31 persen menjadi 3,19 persen.
Data tersebut menunjukkan tingkat pengangguran di wilayah perkotaan masih lebih tinggi dibandingkan perdesaan. Pada Mei 2026, selisih TPT antara kedua wilayah mencapai 2,35 poin persentase.
2. Sektor penyerap banyak tenaga kerja

Edy menjelaskan, sektor akomodasi dan makan minum menjadi penyerap tenaga kerja terbesar sepanjang Februari-Mei 2026. Sebaliknya, sektor perdagangan besar dan eceran justru mencatat penurunan tenaga kerja paling dalam pada periode tersebut.
Adapun jumlah penduduk bekerja pada Mei 2026 mencapai 148,19 juta orang atau bertambah 522 ribu orang dibandingkan Februari 2026.
"Pada bulan Mei 2026, tiga lapangan usaha yang menyerap banyak tenaga kerja yakni pertanian, perdagangan besar dan eceran dan industri. Jika dibandingkan Februari 2026, sebagian lapangan usaha alami peningkatan jumlah tenaga kerja. Lapangan usaha akomodasi dan makan minum mengalami pemingkatan jumlab tenaga kerja terbanyak sebesar 195 ribu orang, kemudian disusul transportasi dan pergudangan 121 ribu orang," tuturnya.
Meski demikian, secara keseluruhan sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia dengan kontribusi 28,75 persen terhadap total penduduk bekerja. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 17,80 persen, serta industri pengolahan sebesar 13,53 persen.
3. Jumlah angkatan kerja capai 148,19 juta orang

BPS mencatat jumlah angkatan kerja pada Mei 2026 mencapai 155,41 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 148,19 juta orang bekerja, sedangkan 7,22 juta orang menganggur.
Dibandingkan Februari 2026, jumlah penduduk yang bekerja bertambah 522.000 orang. Sementara itu, jumlah pengangguran turun sekitar 24.000 orang.
"Jika dilihat tingkat partisipasi angkatan kerja atau TPAK tercatat naik di Mei 2026 sebesar 70,57 persen atau naik dari Februari 2026 sebesar 70,56 persen," tegasnya.
















