ilustrasi kurir mengantarkan tumpukan paket (pixabay.com/romeosessions)
Walaupun supply chain melibatkan jaringan yang kompleks, aktivitas utamanya tetap dapat dipahami melalui beberapa tahapan penting. Namun, tahapan ini tidak selalu berjalan secara kaku atau berurutan. Dalam praktiknya, perusahaan bisa menjalankan beberapa aktivitas sekaligus dan terus melakukan penyesuaian berdasarkan kondisi pasar.
Berikut proses utama dalam supply chain management:
1. Planning (Perencanaan)
Perusahaan memperkirakan kebutuhan konsumen, menentukan target produksi, serta merencanakan jumlah bahan baku dan persediaan. Perencanaan diperlukan agar perusahaan tidak memproduksi barang terlalu banyak atau justru kekurangan stok saat permintaan meningkat.
2. Sourcing (Pengadaan)
Setelah mengetahui kebutuhan produksi, perusahaan memilih supplier dan melakukan pengadaan bahan baku atau komponen. Pada tahap ini, perusahaan perlu memperhatikan kualitas, harga, kapasitas pemasok, dan ketepatan waktu pengiriman.
3. Manufacturing (Produksi)
Bahan baku kemudian diproses menjadi barang jadi melalui aktivitas produksi atau perakitan. Selain memastikan kapasitas produksi mencukupi, perusahaan juga perlu menjaga kualitas agar produk sesuai standar yang ditetapkan.
4. Warehousing dan Distribution (Penyimpanan dan Distribusi)
Produk yang sudah selesai diproduksi dapat disimpan di gudang sebelum dikirimkan melalui distributor, toko, atau langsung kepada customer. Perusahaan harus mengatur jumlah stok, lokasi penyimpanan, dan rute pengiriman agar proses distribusi berjalan efisien.
5. Return dan Evaluation (Pengembalian dan Evaluasi)
Proses supply chain tidak otomatis selesai ketika pelanggan menerima barang. Jika terjadi kerusakan atau ketidaksesuaian produk, perusahaan perlu menangani pengembalian, perbaikan, penggantian, maupun pengolahan ulang sesuai kondisi barang.
Selain itu, data penjualan, keluhan customer, dan kinerja pengiriman digunakan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki proses berikutnya.
Dari tahapan tersebut, kita bisa memahami 3 karakter penting supply chain modern:
Looped (berulang): Terdapat arus balik barang dan informasi yang kembali digunakan untuk memperbaiki proses rantai pasok.
Continuous (berkelanjutan): Aktivitas perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi berlangsung terus-menerus selama bisnis beroperasi.
Connected (saling terhubung): Keputusan satu pihak dapat memengaruhi pihak lainnya, mulai dari jumlah produksi hingga ketersediaan produk di pasar.
Misalnya, ketika customer sering mengembalikan produk karena kemasan rusak, perusahaan tidak cukup hanya memproses refund.
Informasi tersebut juga perlu disampaikan kepada tim gudang, logistik, dan produksi untuk mencari penyebab masalah. Dengan begitu, proses pengembalian tidak berhenti sebagai layanan pelanggan, tetapi menjadi bagian dari perbaikan supply chain secara menyeluruh.