Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa Itu Supply Chain Management? Pengertian, Cara Kerja, dan Manfaat
ilustrasi kegiatan supply chain di sebuah pelabuhan(unsplash.com/Bernd Dittrich)
  • Supply chain management mengoordinasikan sourcing, produksi, penyimpanan, distribusi, hingga penerimaan produk agar tersedia tepat jumlah, lokasi, waktu, biaya, dan kualitas.

  • SCM melibatkan supplier, produsen, gudang, logistik, distributor, retailer, e-commerce, dan pelanggan melalui aliran barang, informasi, serta keuangan yang saling terhubung.

  • Tahap SCM mencakup perencanaan, pengadaan, produksi, penyimpanan, distribusi, pengembalian, dan evaluasi untuk meningkatkan efisiensi, mengendalikan biaya, menjaga stok, serta memperbaiki customer service.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Apa itu supply chain management? Pernah penasaran bagaimana produk yang kamu beli secara online bisa sampai ke rumah dengan cepat? Padahal, sebelum tiba di tanganmu, produk tersebut mungkin sudah melewati banyak proses, mulai dari sourcing/pengadaan bahan baku, produksi, penyimpanan, hingga pengiriman.

Nah, seluruh proses tersebut merupakan bagian dari supply chain atau rantai pasok, lho! Agar setiap tahap berjalan lancar, perusahaan membutuhkan sistem pengelolaan yang disebut supply chain management (SCM).

Menariknya, supply chain modern tidak lagi sesederhana memindahkan barang dari produsen ke konsumen. Di balik satu produk, ada jaringan bisnis yang saling terhubung, termasuk supplier, perusahaan logistik, gudang, distributor, hingga platform e-commerce.

Lantas, bagaimana cara kerja supply chain management dan mengapa sistem ini begitu penting bagi dunia bisnis? Yuk, kita bahas satu per satu!

1. Apa itu supply chain management?

ilustrasi distribusi barang (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Supply chain management (SCM) adalah proses pengelolaan dan koordinasi seluruh aktivitas supply chain/rantai pasok, mulai dari pengadaan bahan baku, produksi, penyimpanan, distribusi, hingga produk diterima oleh pelanggan. Sederhananya, SCM bertujuan memastikan produk yang dibutuhkan konsumen tersedia dalam jumlah tepat, di lokasi yang sesuai, dan pada waktu yang dibutuhkan, dengan biaya serta kualitas yang tetap terjaga.

Namun, perlu dipahami bahwa supply chain management tidak hanya berkaitan dengan pengiriman atau pengelolaan gudang. SCM juga mencakup perencanaan kebutuhan pasar, pemilihan supplier, pengaturan produksi, pengelolaan stok, hingga koordinasi pembayaran kepada mitra bisnis.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan minuman kemasan perlu memastikan bahan baku tersedia, mesin produksi beroperasi, kemasan siap digunakan, dan produk dapat dikirim ke toko tepat waktu. Jika salah satu bagian mengalami masalah, seluruh proses bisnis bisa ikut terganggu.

Nah, di sinilah peran SCM, yaitu menghubungkan berbagai aktivitas tersebut agar dapat berjalan secara terkoordinasi.

Perlu diketahui juga, supply chain dan supply chain management bukanlah istilah yang sama.

Supply chain merupakan jaringan pihak dan aktivitas yang terlibat dalam penyediaan produk atau layanan. Sementara itu, supply chain management adalah cara mengatur dan mengoptimalkan jaringan tersebut.

Begitu pula dengan logistik. Logistik merupakan salah satu bagian dari SCM yang berfokus pada pergerakan, penyimpanan, dan penanganan barang serta informasi terkait.

2. Siapa saja yang terlibat dalam Supply Chain Management?

ilustrasi gudang logistik (pexels.com/Tiger Lily)

Kalau membayangkan supply chain sebagai jalur sederhana dari pabrik ke toko, gambaran tersebut sebenarnya belum lengkap. Dalam praktiknya, supply chain modern merupakan jaringan yang melibatkan banyak perusahaan dan pihak dengan tanggung jawab berbeda. Bahkan, satu produk bisa membutuhkan bahan baku dari beberapa negara, diproduksi di lokasi berbeda, lalu dikirim melalui sejumlah penyedia layanan logistik sebelum sampai ke customer.

Secara umum, berikut pihak-pihak yang terlibat beserta jobdesk-nya dalam supply chain management:

  • Supplier (pemasok): Menyediakan bahan baku atau komponen yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk. Supplier juga dapat memiliki jaringan supplier lainnya, yang dikenal sebagai supplier multi-tier.

  • Manufacturer (produsen): Mengolah bahan baku atau merakit komponen menjadi produk siap jual.

  • Warehouse (gudang): Menjadi tempat penyimpanan dan pengelolaan persediaan sebelum barang dikirim ke tujuan berikutnya.

  • Logistics service provider: Menangani kebutuhan pengiriman, transportasi, hingga pengelolaan distribusi. Penyedia 3PL biasanya menjalankan layanan logistik tertentu, sedangkan 4PL lebih berfokus pada koordinasi beberapa penyedia dan pengelolaan jaringan logistik yang lebih luas.

  • Distributor: Membantu menyalurkan produk dari produsen ke berbagai saluran penjualan atau wilayah pemasaran.

  • Retailer dan e-commerce: Menjual produk kepada konsumen melalui toko fisik maupun platform digital.

  • Customer (pelanggan): Pihak yang membeli atau menggunakan produk sekaligus memberikan informasi mengenai kebutuhan dan pengalaman mereka.

Menariknya, setiap pihak dalam supply chain tidak selalu bekerja secara berurutan karena alur distribusi bisa berbeda tergantung kebutuhan bisnis.

Misalnya, ketika kamu membeli buku melalui platform e-commerce, pesanan tersebut bisa langsung diambil dari gudang penjual atau penerbit. Setelah dikemas, buku diserahkan kepada pihak kurir untuk dikirimkan langsung ke alamatmu, tanpa harus melewati distributor atau toko fisik.

Namun, jika supplier buku mengalami keterlambatan dalam menyediakan stok, proses pengiriman juga bisa ikut terganggu dan membuat customer harus menunggu lebih lama. Artinya, keberhasilan SCM tidak hanya bergantung pada kinerja satu pihak, tetapi juga kemampuan seluruh pihak untuk saling berkoordinasi agar produk sampai ke customer dengan lancar.

3. Bagaimana cara kerja Supply Chain Management? Kenali 3 aliran utamanya

ilustrasi ekspedisi (freepik.com/freepik)

Supply chain management modern bekerja dengan menghubungkan 3 aliran penting, yaitu barang, informasi, dan keuangan. Ketiganya saling berkaitan dan dapat bergerak ke berbagai arah sesuai kebutuhan bisnis.

1. Aliran Barang (Product Flow)

Aliran barang mencakup perpindahan bahan baku, komponen, dan produk jadi di sepanjang jaringan supply chain. Contohnya, bahan baku dikirim dari supplier ke pabrik, kemudian produk hasil produksi disimpan di gudang sebelum didistribusikan kepada customer.

Aliran dari supplier menuju konsumen ini dikenal sebagai forward flow.

Namun, pergerakan barang tidak selalu berakhir setelah diterima customer. Produk yang rusak, salah kirim, atau sudah habis masa pakainya dapat dikembalikan untuk diperiksa, diperbaiki, digunakan kembali, atau didaur ulang. Proses pengembalian tersebut merupakan bagian dari reverse flow atau reverse logistics.

2. Aliran Informasi (Information Flow)

Selain barang, supply chain juga membutuhkan pertukaran informasi secara terus-menerus.

Informasi yang dibagikan bisa berupa jumlah stok, perkiraan permintaan, jadwal produksi, status pengiriman, hingga keluhan pelanggan.

Misalnya, ketika penjualan suatu produk meningkat drastis, data tersebut dapat digunakan untuk menyesuaikan produksi dan pemesanan bahan baku.

Dengan pertukaran informasi yang baik, setiap pihak dapat mengambil keputusan berdasarkan kondisi rantai pasok yang lebih aktual.

3. Aliran Keuangan (Financial Flow)

Aliran keuangan berhubungan dengan pembayaran dan transaksi finansial antarpihak dalam jaringan supply chain. Contohnya meliputi pembayaran pelanggan, tagihan distributor, pembayaran kepada supplier, hingga pengembalian dana atau refund.

Pengelolaan aliran keuangan yang baik membantu perusahaan menjaga arus kas sekaligus memastikan kewajiban pembayaran kepada mitra bisnis terpenuhi. Ketiga aliran tersebut menunjukkan bahwa supply chain bukan sekadar jalur satu arah, melainkan jaringan yang terus berinteraksi.

Produk bergerak melalui jaringan distribusi, informasi mengalir antarpihak, sementara transaksi keuangan mendukung berbagai aktivitas bisnis di dalamnya.

4. Tahapan dan proses Supply Chain Management:

ilustrasi kurir mengantarkan tumpukan paket (pixabay.com/romeosessions)

Walaupun supply chain melibatkan jaringan yang kompleks, aktivitas utamanya tetap dapat dipahami melalui beberapa tahapan penting. Namun, tahapan ini tidak selalu berjalan secara kaku atau berurutan. Dalam praktiknya, perusahaan bisa menjalankan beberapa aktivitas sekaligus dan terus melakukan penyesuaian berdasarkan kondisi pasar.

Berikut proses utama dalam supply chain management:

1. Planning (Perencanaan)

Perusahaan memperkirakan kebutuhan konsumen, menentukan target produksi, serta merencanakan jumlah bahan baku dan persediaan. Perencanaan diperlukan agar perusahaan tidak memproduksi barang terlalu banyak atau justru kekurangan stok saat permintaan meningkat.

2. Sourcing (Pengadaan)

Setelah mengetahui kebutuhan produksi, perusahaan memilih supplier dan melakukan pengadaan bahan baku atau komponen. Pada tahap ini, perusahaan perlu memperhatikan kualitas, harga, kapasitas pemasok, dan ketepatan waktu pengiriman.

3. Manufacturing (Produksi)

Bahan baku kemudian diproses menjadi barang jadi melalui aktivitas produksi atau perakitan. Selain memastikan kapasitas produksi mencukupi, perusahaan juga perlu menjaga kualitas agar produk sesuai standar yang ditetapkan.

4. Warehousing dan Distribution (Penyimpanan dan Distribusi)

Produk yang sudah selesai diproduksi dapat disimpan di gudang sebelum dikirimkan melalui distributor, toko, atau langsung kepada customer. Perusahaan harus mengatur jumlah stok, lokasi penyimpanan, dan rute pengiriman agar proses distribusi berjalan efisien.

5. Return dan Evaluation (Pengembalian dan Evaluasi)

Proses supply chain tidak otomatis selesai ketika pelanggan menerima barang. Jika terjadi kerusakan atau ketidaksesuaian produk, perusahaan perlu menangani pengembalian, perbaikan, penggantian, maupun pengolahan ulang sesuai kondisi barang.

Selain itu, data penjualan, keluhan customer, dan kinerja pengiriman digunakan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki proses berikutnya.

Dari tahapan tersebut, kita bisa memahami 3 karakter penting supply chain modern:

  • Looped (berulang): Terdapat arus balik barang dan informasi yang kembali digunakan untuk memperbaiki proses rantai pasok.

  • Continuous (berkelanjutan): Aktivitas perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi berlangsung terus-menerus selama bisnis beroperasi.

  • Connected (saling terhubung): Keputusan satu pihak dapat memengaruhi pihak lainnya, mulai dari jumlah produksi hingga ketersediaan produk di pasar.

Misalnya, ketika customer sering mengembalikan produk karena kemasan rusak, perusahaan tidak cukup hanya memproses refund.

Informasi tersebut juga perlu disampaikan kepada tim gudang, logistik, dan produksi untuk mencari penyebab masalah. Dengan begitu, proses pengembalian tidak berhenti sebagai layanan pelanggan, tetapi menjadi bagian dari perbaikan supply chain secara menyeluruh.

5. Jadi, mengapa Supply Chain Management penting bagi bisnis?

supply chain manager (pexels.com/Miroshnichenko)

Penerapan supply chain management yang baik dapat membantu perusahaan menjaga kelancaran operasional sekaligus meningkatkan daya saing. Hal ini berlaku tidak hanya untuk perusahaan manufaktur berskala besar, tetapi juga bisnis retail, e-commerce, layanan kesehatan, hingga UMKM.

Beberapa manfaat SCM antara lain:

  • Meningkatkan efisiensi operasional: Koordinasi yang baik membantu mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, keterlambatan, serta pemborosan sumber daya.

  • Mengendalikan biaya bisnis: Pengelolaan stok, produksi, dan distribusi yang lebih tepat dapat mengurangi biaya penyimpanan maupun pengiriman.

  • Menjaga ketersediaan produk: Perusahaan dapat merencanakan kebutuhan persediaan agar tidak terlalu sering mengalami kekurangan atau penumpukan barang.

  • Meningkatkan kepuasan pelanggan: Produk yang tersedia, berkualitas, dan dikirim tepat waktu dapat menciptakan pengalaman pembelian yang lebih baik.

  • Meningkatkan ketahanan bisnis: Perusahaan lebih siap menghadapi gangguan seperti keterlambatan pemasok, perubahan permintaan, atau masalah distribusi.

  • Mendukung keberlanjutan lingkungan: Pengelolaan transportasi, penggunaan kemasan, dan reverse logistics dapat membantu mengurangi limbah serta penggunaan sumber daya yang tidak efisien.

Meski manfaatnya besar, penerapan SCM juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah menjaga koordinasi antarpihak yang mungkin berada di wilayah atau negara berbeda. Perusahaan juga perlu menghadapi perubahan permintaan customer, keterbatasan bahan baku, hingga gangguan pengiriman.

Karena itu, banyak perusahaan mulai memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan visibilitas supply chain, misalnya melalui sistem manajemen inventaris, pelacakan pengiriman, dan analisis data permintaan.

Namun, teknologi saja tidak cukup. Perusahaan tetap membutuhkan perencanaan yang matang, komunikasi yang baik dengan pemasok, serta prosedur penanganan masalah yang jelas.

Sebagai contoh, sebuah UMKM makanan ringan yang berjualan melalui marketplace bisa menerapkan SCM sederhana dengan mencatat stok secara rutin, memperkirakan kebutuhan bahan baku, memiliki pemasok cadangan, dan mengevaluasi keterlambatan pengiriman. Langkah tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi dapat membantu bisnis berkembang tanpa harus selalu menghadapi masalah stok atau pesanan terlambat.

Pada akhirnya, supply chain management bukan hanya soal memastikan barang sampai ke tangan customer. Lebih jauh, SCM membantu seluruh pihak dalam jaringan bisnis bekerja secara terhubung, beradaptasi terhadap perubahan, dan terus meningkatkan efisiensi. Jadi, semakin baik perusahaan memahami hubungan antara barang, informasi, dan keuangan, semakin besar pula peluangnya membangun supply chain yang tangguh serta berkelanjutan

Curated For You

Editorial Team

Related Article