- Pertama, keengganan menerima kerugian (loss aversion). Investor biasanya merasakan kerugian lebih menyakitkan daripada kebahagiaan yang diperoleh dari keuntungan dengan nilai serupa. Akibatnya, menjual saham yang merugi terasa seperti mengakui kegagalan, sehingga keputusan menjual terus ditunda.
- Kedua, keinginan mengamankan keuntungan. Ketika harga saham naik, investor bisa merasa takut keuntungan yang sudah terlihat akan hilang jika harga kembali turun. Mereka akhirnya buru-buru menjual saham meskipun masih ada peluang pertumbuhan berdasarkan analisis yang objektif.
- Ketiga, keterikatan pada harga beli. Harga ketika pertama kali membeli saham sering dijadikan patokan utama untuk menentukan keputusan. Padahal, harga beli tidak selalu mencerminkan nilai wajar perusahaan saat ini. Investor perlu menilai kembali prospek bisnis, kondisi keuangan, dan risiko sebelum memutuskan untuk menjual atau mempertahankan saham.
Apa Itu Disposition Effect di Saham? Penyebab dan Cara Mengatasinya

- Disposition effect adalah bias saat investor cepat menjual saham untung, tetapi terlalu lama menahan saham rugi karena keputusan dipengaruhi emosi dan harga beli.
- Bias ini dipicu keengganan mengakui kerugian, takut keuntungan hilang, serta keterikatan pada harga beli, bukan semata kondisi perusahaan dan valuasi terkini.
- Dampaknya, potensi keuntungan terpotong dan modal tertahan; investor dapat menguranginya melalui rencana investasi, evaluasi fundamental serta risiko, dan jurnal transaksi.
Pernah menjual saham yang sedang untung karena takut harganya turun, tetapi justru mempertahankan saham yang merugi dengan harapan harganya kembali naik? Pola pengambilan keputusan tersebut disebut disposition effect, yakni kecenderungan psikologis yang dapat memengaruhi cara investor menentukan waktu untuk menjual atau mempertahankan saham. Jika dibiarkan, pola tersebut berpotensi membuat strategi investasi menjadi kurang optimal.
Memahami disposition effect penting bagi kamu yang ingin berinvestasi saham dengan lebih rasional. Bias ini sering berkaitan dengan emosi, seperti rasa takut kehilangan keuntungan dan keengganan mengakui kerugian. Lantas, apa penyebabnya, bagaimana dampaknya terhadap portofolio, dan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya?
1. Apa itu disposition effect di saham?

saham Amerika (pexels.com/Rafael Minguet Delgado) Disposition effect atau efek disposisi adalah bias perilaku ketika investor cenderung menjual saham yang sedang menghasilkan keuntungan terlalu cepat, tetapi menahan saham yang sedang merugi terlalu lama. Fenomena ini banyak dibahas dalam bidang keuangan perilaku (behavioral finance), yang mempelajari pengaruh psikologi terhadap keputusan keuangan.
Contohnya, kamu membeli saham perusahaan A seharga Rp1.000 per lembar. Ketika harganya naik menjadi Rp1.200, kamu langsung menjualnya karena ingin mengamankan keuntungan. Namun, saat membeli saham perusahaan B seharga Rp1.000 dan harganya turun menjadi Rp800, kamu memilih menahannya karena berharap harganya kembali naik.
Keputusan tersebut belum tentu salah dalam setiap situasi. Menjual saham yang untung bisa menjadi langkah tepat jika valuasinya sudah terlalu tinggi, sedangkan mempertahankan saham yang turun juga bisa masuk akal jika prospek bisnisnya masih bagus. Keputusan menjadi kurang tepat ketika investor lebih mengandalkan harga beli dan perasaan pribadi daripada mempertimbangkan kondisi perusahaan serta target investasinya.
2. Penyebab utama disposition effect

ilustrasi saham (pexels.com/Aedrian Salazar) Ada beberapa faktor psikologis yang membuat investor sulit mengambil keputusan secara objektif ketika berhadapan dengan keuntungan dan kerugian.
3. Dampak negatif pada portofolio investor ritel

saham (pexels.com/StockRadars Co.) Disposition effect bisa memengaruhi hasil investasi karena keputusan transaksi tidak selalu didasarkan pada prospek saham. Salah satu dampaknya adalah keuntungan dari saham yang sedang berkembang bisa terpotong ketika investor menjualnya terlalu cepat.
Sebaliknya, mempertahankan saham yang harganya terus turun tanpa meninjau kondisinya bisa membuat dana investasi tertahan lebih lama dan sulit dimanfaatkan untuk peluang lain. Modal tersebut sebenarnya bisa dialihkan ke instrumen lain yang lebih sesuai dengan tujuan dan profil risiko investor.
Bias ini juga dapat membuat pengelolaan portofolio menjadi kurang seimbang. Investor mungkin mempertahankan saham yang fundamentalnya memburuk, tetapi menjual saham berkualitas hanya karena khawatir keuntungan sementara menghilang.
Meski begitu, kerugian tidak selalu berarti saham harus segera dijual, begitu pula keuntungan tidak selalu berarti saham harus dipertahankan. Keputusan yang tepat bergantung pada kondisi perusahaan, valuasi, risiko, dan rencana investasi masing-masing.
4. Cara mengatasi disposition bias saat berinvestasi

ilustrasi saham (pexels.com/StockRadars Co.) Untuk mengurangi pengaruh bias ini, kamu bisa menerapkan beberapa kebiasaan berikut.
- buat rencana investasi sejak awal. Tetapkan target investasi, durasi kepemilikan saham, toleransi kerugian, dan kriteria yang menjadi pertimbangan untuk melepas saham tersebut. Rencana ini membantu kamu menghindari keputusan impulsif ketika harga bergerak tajam.
- evaluasi berdasarkan fundamental. Jangan hanya melihat harga beli atau persentase keuntungan dan kerugian. Periksa perkembangan bisnis, laporan keuangan, valuasi, dan faktor lain yang relevan untuk menilai apakah alasan awal membeli saham masih berlaku.
- tetapkan aturan evaluasi risiko. Tentukan kondisi yang mengharuskanmu meninjau kembali posisi saham, misalnya ketika prospek perusahaan berubah atau risiko investasi sudah melebihi toleransi. Aturan ini sebaiknya disesuaikan dengan strategi dan jangka waktu investasimu.
- catat alasan setiap transaksi. Buat jurnal investasi yang berisi alasan membeli, menjual, atau mempertahankan saham. Setelah beberapa waktu, tinjau catatan tersebut untuk mengetahui apakah keputusanmu lebih banyak dipengaruhi analisis atau rasa takut dan berharap berlebihan.
Disposition effect di saham merupakan bias perilaku yang membuat investor cenderung cepat menjual saham yang untung, tetapi terlalu lama menahan saham yang merugi. Penyebabnya dapat berupa keengganan menerima kerugian, ketakutan kehilangan keuntungan, dan keterikatan pada harga beli.
Dengan membuat rencana investasi, mengevaluasi fundamental perusahaan, serta mencatat alasan transaksi, kamu bisa mengurangi pengaruh bias tersebut. Ingat, keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada analisis dan tujuan keuangan, bukan semata-mata pada emosi ketika melihat harga saham naik atau turun.






















