Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Fitch: Dampak Perubahan Status Pasar Modal RI Bergantung Inflow

3 min read
Fitch: Dampak Perubahan Status Pasar Modal RI Bergantung Inflow
ilustrasi bursa saham (IDN Times/Auriga Agustina_
  • Fitch menilai potensi penurunan status pasar Indonesia oleh MSCI dapat memengaruhi profil kredit pemerintah, bank, dan korporasi, tergantung keberlanjutan arus keluar modal serta kondisi pendanaan.
  • Konsultasi MSCI memicu aksi jual saham dan tekanan rupiah, meski pasar mulai stabil pada 20 Oktober 2026. BI telah menaikkan suku bunga 100 basis poin dan berintervensi.
  • Cadangan devisa Indonesia mencapai 146 miliar dolar AS pada September 2026, tetapi intervensi berkepanjangan dan naiknya kewajiban valas BI berpotensi menekan ketahanan eksternal serta likuiditas perbankan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Fitch Ratings menilai potensi penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market oleh penyedia indeks global MSCI dapat memengaruhi profil kredit pemerintah, perbankan, dan korporasi.

Namun, dampaknya akan sangat bergantung pada kondisi pendanaan eksternal dan domestik.

  1. 1. Konsultasi MSCI telah memicu aksi jual saham dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah

    Ilustrasi IHSG. (IDN Times/Aditya Pratama)
    Ilustrasi IHSG. (IDN Times/Aditya Pratama)

    Direktur dalam tim Sovereign Fitch Ratings, George Xu, mengatakan, konsultasi MSCI telah memicu aksi jual saham dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

    "Meski demikian, dampak yang lebih luas terhadap profil kredit Indonesia akan ditentukan oleh apakah penurunan kepercayaan investor berlanjut menjadi arus keluar modal asing secara persisten dan memperketat kondisi keuangan domestik," ungkapnya dalam keterangan tertulis," Kamis (22/10/2026).

  2. 2. Fitch mengingatkan intervensi yang berkelanjutan berpotensi menggerus cadangan devisa

    Ilustrasi cadangan devisa. (IDN Times/Arief Rahmat)
    Ilustrasi cadangan devisa. (IDN Times/Arief Rahmat)

    Ia menjelaskan pasar keuangan Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi pada 20 Oktober 2026, ketika pasar saham menguat dan rupiah mencatatkan apresiasi terbatas.

    Fitch menilai perkembangan tersebut perlu dicermati karena tekanan terhadap kepercayaan investor berpotensi meningkatkan biaya pendanaan dan memperlemah ketahanan eksternal Indonesia.

    Sebelumnya, pada 4 Maret 2026, Fitch merevisi prospek peringkat utang atau outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, dengan peringkat kredit berdaulat tetap di level BBB. Revisi tersebut mencerminkan risiko terhadap sentimen investor dan penyangga eksternal akibat meningkatnya ketidakpastian kebijakan.

    "Sejak saat itu, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin dan melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk meredam tekanan terhadap rupiah," tegasnya.

    Namun, Fitch mengingatkan intervensi yang berkelanjutan berpotensi menggerus cadangan devisa. Sementara itu, tekanan eksternal lebih lanjut dapat meningkatkan biaya pendanaan di dalam negeri.

  3. 3. Cadangan devisa jadi penyangga di tengah dampak konsultasi MSCI

    ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)
    ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)

    Bagi pemerintah, Fitch menilai konsultasi MSCI menambah risiko yang telah tercermin dalam prospek peringkat utang Indonesia yang negatif.

    Meski demikian, perubahan klasifikasi pasar modal tersebut diperkirakan tidak langsung menimbulkan dampak material terhadap profil kredit pemerintah.

    Indonesia masih memiliki penyangga berupa cadangan devisa yang cukup besar, yakni 146 miliar dolar AS pada akhir September 2026. Selain itu, pemerintah dan otoritas moneter memiliki sejumlah instrumen kebijakan untuk menarik modal asing.

    Meski begitu, Fitch menyoroti peningkatan kewajiban jangka pendek BI.

    "Posisi kewajiban valas bersih jangka pendek BI tercatat meningkat dua kali lipat dalam setahun menjadi 32 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026," ucapnya.

    Menurut Fitch, penurunan cadangan devisa secara tajam dan berkelanjutan akibat melemahnya kepercayaan investor atau meningkatnya kekhawatiran terhadap tata kelola dapat menambah tekanan terhadap profil kredit pemerintah.

    Di sektor perbankan, Fitch menilai bank-bank yang diperingkatnya memiliki ketergantungan langsung yang relatif rendah terhadap pendanaan dari pasar saham.

    Rasio permodalan perbankan umumnya masih tinggi dan hanya sedikit bank yang baru-baru ini melakukan penambahan modal melalui penerbitan saham.

    Ruang margin bunga bersih atau net interest margin juga dinilai dapat membantu perbankan menyerap kenaikan biaya pendanaan.

    Namun, tekanan kredit dapat meningkat jika arus keluar modal asing yang berkelanjutan memperketat kondisi moneter dan likuiditas secara signifikan.

    "Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kesulitan debitur dalam melakukan pembiayaan kembali utang, sekaligus memperburuk kualitas aset dan profitabilitas bank," ujarnya.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More