Toyota Veloz Hybrid melantai di GJAW 2025. (IDN Times/Fadhliansyah)
Adapun kinerja masing-masing unit bisnis, pada segmen otomotif mencatatkan laba bersih Rp5,9 triliun, naik 9 persen secara year on year (yoy). Pertumbuhan ini didorong oleh naiknya penjualan mobil baru dan performa kuat divisi komponen.
Secara industri, penjualan mobil nasional tumbuh 16 persen menjadi 437 ribu unit, sedangkan penjualan mobil Astra naik 10 persen dengan menguasai pangsa pasar 51 persen melalui merek Toyota dan Daihatsu. Sementara itu, penjualan sepeda motor Honda naik 1 persen menjadi 3,1 juta unit dengan pangsa pasar 77 persen. Kontribusi laba bersih divisi komponen melesat 23 persen menjadi Rp921 miliar.
Sektor jasa keuangan membukukan kenaikan laba bersih sebesar 6 persen menjadi Rp4,6 triliun. Penyaluran pembiayaan baru pada divisi pembiayaan konsumen naik 10 persen menjadi Rp61,8 triliun.
Laba bersih dari pembiayaan sepeda motor menyumbang Rp2,4 triliun (naik 4 persen) dan pembiayaan mobil berkontribusi Rp1,2 triliun (naik 6 persen). Selain itu, pembiayaan alat berat menyalurkan dana baru Rp8,1 triliun dengan kontribusi laba Rp130 miliar. Dari lini asuransi, kontribusi laba bersih naik 7 persen menjadi Rp906 miliar berkat peningkatan pendapatan operasional dan investasi.
Laba bersih bisnis solusi pertambangan dan alat berat merosot 46 persen menjadi Rp2,7 triliun. Jika memperhitungkan item non-rekuring sebesar Rp2,1 triliun pada divisi panas bumi dan nikel, laba bersih segmen ini anjlok 88 persen menjadi Rp0,6 triliun.
Penurunan dialami akibat terhentinya sementara operasional tambang emas Martabe di awal tahun. Perusahaan mencatat penjualan emas turun signifikan menjadi 23 ribu ons dari 125 ribu ons tahun lalu), serta pemangkasan kuota produksi batu bara nasional (RKAB).
Hal ini menekan penjualan alat berat Komatsu hingga turun 27 persen menjadi 1.994 unit, pengupasan tanah (overburden removal) turun 10 persen, dan penjualan batu bara milik sendiri terkikis 10 persen menjadi 6,0 juta ton.
Laba bersih segmen lain-lain tumbuh 31 persen menjadi Rp1,6 triliun dari sebelumnya Rp1,2 triliun. Faktor pendorong utamanya adalah kenaikan harga dan volume penjualan minyak kelapa sawit pada divisi agribisnis, serta tambahan kontribusi dari platform gudang industri baru di divisi properti.
Segmen ini turut mencatatkan kerugian penyesuaian nilai wajar non-rekuring senilai Rp259 miliar, membaik dibandingkan kerugian semester I-2025 yang mencapai Rp484 miliar.