The Fed Naikkan Suku Bunga, Rupiah Tertekan ke Rp17.753

- Rupiah ditutup melemah 57 poin atau 0,32 persen ke Rp17.753 per dolar AS pada Kamis.
- FOMC menaikkan suku bunga acuan The Fed ke kisaran 3,75-4,0 persen, kenaikan pertama sejak Juli 2023.
- Rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah pada perdagangan Jumat di kisaran Rp17.750-Rp17.790 per dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (17/9/2026). Rupiah ditutup melemah ke level Rp17.753 per dolar AS sore ini.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 57 poin atau 0,32 persen. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat tertekan hingga 60 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.696 per dolar AS.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah berada di level Rp17.733 per dolar AS. Adapun rentang pergerakan rupiah sepanjang hari berada di Rp17.725-Rp17.768 per dolar AS.
1. Pasar merespons The Fed naikkan suku bunga
Federal Open Market Committee (FOMC), lembaga yang menetapkan kebijakan moneter bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), memutuskan menaikkan suku bunga acuan ke kisaran 3,75-4,0 persen.
"Ini merupakan kenaikan suku bunga pertama bank sentral AS sejak Juli 2023," kata pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi.
Ibrahim menjelaskan Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menyoroti risiko inflasi, mengingat banyak kategori barang dan jasa mencatat kenaikan harga tahunan di atas 3 persen dalam periode enam dan 12 bulan.
Warsh juga mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.
Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump meminta The Fed menurunkan suku bunga menjadi 1 persen atau lebih rendah. Permintaan tersebut disampaikan beberapa jam setelah pengumuman kenaikan suku bunga.
Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya perbedaan sikap antara Gedung Putih dan The Fed yang merupakan lembaga independen.
2. Kebijakan APBN dan sinyal suku bunga BI
Menteri Keuangan (Menkeu) Suhasil Nazara menegaskan pengelolaan keuangan negara diarahkan untuk menjaga APBN sebagai instrumen pendukung pertumbuhan dan stabilitas perekonomian Indonesia.
Pengelolaan APBN juga ditujukan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat melalui aktivitas ekonomi, termasuk konsumsi, investasi, belanja pemerintah, hingga ekspor.
Di sisi lain, ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikkan suku bunga acuan dinilai semakin terbatas menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September 2026.
"Menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan bergulir pada 22-23 September 2026, sinyalemen bertahannya status quo kebijakan moneter semakin menguat di kalangan analis," ujar Ibrahim.
BI sebelumnya telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin (bps). Langkah tersebut dinilai sebagai kebijakan pre-emptive atau antisipasi lebih awal, bahkan lebih agresif dibandingkan The Fed. Karena itu, BI dinilai tidak perlu terburu-buru mengubah arah kebijakan moneternya.
3. Rupiah diproyeksikan lanjut melemah akhir pekan
Untuk perdagangan akhir pekan, Jumat (18/9/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah. Rupiah diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp17.750-Rp17.790 per dolar AS.
Sementara itu, pelemahan atau depresiasi sejak awal tahun (year-to-date/ytd) tercatat 6,43 persen. Dalam 52 minggu terakhir, rupiah bergerak pada rentang Rp16.454-Rp18.209 per dolar AS.





















