Jakarta, IDN Times – Gelombang kebangkrutan perusahaan di Jepang kembali melewati 1.000 kasus selama dua bulan berturut-turut pada Juli. Lembaga riset kredit Tokyo Shoko Research (TSR) mencatat 1.028 kasus, naik 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan tekanan utama berasal dari krisis tenaga kerja serta meningkatnya biaya operasional.
Nilai kewajiban perusahaan juga melonjak 41,4 persen menjadi 236,3 miliar yen (sekitar Rp26,5 triliun). Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi kebangkrutan Zentoshin, penyedia sistem transaksi kartu kredit asal Osaka yang memiliki utang 115,16 miliar yen (sekitar Rp12,8 triliun). Perusahaan riset kredit Teikoku Databank Ltd. menyebutnya sebagai kebangkrutan terbesar di Jepang sepanjang tahun ini.
