Beli 50 Pesawat dari AS Dinilai Kurang Efektif Atasi Kekurangan Armada

- Pembelian 50 pesawat Boeing oleh Indonesia merupakan bagian dari kesepakatan perdagangan dengan AS, namun dinilai belum jadi solusi kekurangan armada dan hanya menggantikan pesawat Garuda yang sudah tua.
- Proses pengiriman pesawat diperkirakan memakan waktu beberapa tahun, dengan pengiriman pertama baru bisa dilakukan sekitar 3–4 tahun mendatang jika semua berjalan lancar.
- Saat ini maskapai di Indonesia justru mengurangi jumlah armada karena penurunan penumpang domestik sejak 2024, membuat kebutuhan pesawat baru lebih bersifat jangka panjang.
Jakarta, IDN Times - Pembelian 50 unit pesawat Boeing jadi salah satu kewajiban yang mesti dipenuhi Indonesia dalam kesepakatan perdagangan melalui Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat (AS).
Pengamat penerbangan, Alvin Lie memandang kewajiban tersebut belum bisa dijadikan solusi atas kurangnya armada pesawat yang bisa beroperasi di Indonesia sekarang. Menurut dia, pembelian 50 unit pesawat itu terkesan banyak, tetapi sebenarnya bukan satu hal luar biasa. Alvin membandingkan dengan maskapai Lion Air yang bisa memesan ratusan pesawat dalam satu transaksi.
"(Sebanyak) 50 pesawat tersebut sepertinya hanya untuk menggantikan B738-800 Garuda yang usianya sudah mulai uzur sehingga kurang efisien. Perlu diketahui juga bahwa yang akan beli pesawat adalah perusahaan leasing yang kemudian akan menyewakan jangka panjang kepada Garuda," tutur Alvin kepada IDN Times, Minggu (22/2/2026).
1. Butuh beberapa tahun untuk bisa sampai di Indonesia

Selain itu, Alvin meyakini, pesanan 50 pesawat yang dilakukan Indonesia membutuhkan waktu beberapa tahun untuk bisa sampai di Indonesia.
"Kemungkinan delivery pertama baru akan bisa dilakukan 3-4 tahun mendatang jika semua lancar. Sisanya akan dipenuhi secara bertahap," kata dia.
2. Pengadaan pesawat kebutuhan masa depan

Adapun saat ini, Boeing masih dalam kondisi backlog alias kekurangan memenuhi pesanan yang sudah ada.
"Jadi pengadaan pesawat adalah untuk kebutuhan masa depan. Bukan untuk saat ini," kata Alvin.
3. Maskapai di Indonesia mengurangi jumlah pesawat

Di sisi lain, fakta menarik disampaikan oleh Alvin bahwa saat ini maskapai-maskapai di Indonesia justru mengurangi jumlah pesawatnya. Hal itu lantaran para maskapai tengah mengurangi penerbangan rute-rute domestik yang tidak menguntungkan.
"Sejak tahun 2024, jumlah penumpang domestik kita terus menurun. Tahun 2025 bahkan 2,5 juta lebih rendah daripada 2024," ujar Alvin.
Pada 2024, jumlah penumpang domestik mencapai 65.820.592 pax. Sementara pada 2025, jumlahnya menurun hingga 63.587.478 pax.














.jpg)

