Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apa yang Terjadi jika Tak Melakukan Diversifikasi saat Investasi?

Apa yang Terjadi jika Tak Melakukan Diversifikasi saat Investasi?
ilustrasi investasi kripto (pexels.com/Alesia Kozik)
Intinya Sih
  • Tanpa diversifikasi, risiko kerugian meningkat karena seluruh dana bergantung pada satu aset yang bisa turun tajam tanpa penyeimbang dari instrumen lain.
  • Nilai portofolio menjadi sangat fluktuatif, naik turun ekstrem mengikuti pergerakan harga aset tunggal sehingga kestabilan investasi terganggu.
  • Ketiadaan diversifikasi membatasi peluang keuntungan dan menambah tekanan psikologis, membuat keputusan investasi lebih emosional dan kurang rasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bayangkan seluruh dana investasi ditempatkan hanya pada satu saham atau satu jenis aset yang sedang populer. Keputusan ini mungkin terdengar bijak, apalagi jika aset tersebut terus menunjukkan kenaikan harga. Tidak jarang juga para investor semakin percaya diri karena keuntungan terlihat jelas dan cepat. Namun, penting untuk diketahui bahwa pasar keuangan tidak pernah bergerak dalam satu arah selamanya.

Banyak investor pemula tertarik pada strategi yang terlihat sederhana dan praktis, yaitu fokus pada satu instrumen yang dianggap paling menjanjikan. Padahal, setiap aset memiliki siklus naik dan turun yang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kondisi ekonomi, perubahan kebijakan, hingga sentimen global. Di sinilah pentingnya memahami apa yang bisa terjadi jika diversifikasi saat investasi diabaikan.

1. Risiko kerugian menjadi jauh lebih besar

ilustrasi market yang turun
ilustrasi market yang turun (freepik.com/standret)

Tanpa diversifikasi, seluruh nilai investasi bergantung pada kinerja satu aset atau satu sektor. Jika aset tersebut mengalami penurunan tajam, dampaknya langsung terasa pada seluruh portofolio. Tidak ada penyeimbang yang bisa menahan kerugian. Penurunan kecil sekalipun dapat terlihat besar karena tidak ada sumber pertumbuhan lain yang membantu menjaga stabilitas nilai secara keseluruhan.

Pasar keuangan bergerak dinamis dan sering dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, atau sentimen global. Ketika hanya bertumpu pada satu instrumen, potensi kerugian menjadi lebih dalam karena tidak ada aset lain yang bergerak berlawanan untuk meredam tekanan. Dalam jangka panjang, pola seperti ini membuat investasi jauh lebih berisiko dan kurang stabil dibandingkan portofolio yang tersebar di beberapa jenis aset.

2. Nilai investasi bisa naik turun lebih tajam

ilustrasi pergerakan harga
ilustrasi pergerakan harga (unsplash.com/Maxim Hopman)

Ketika dana hanya ditempatkan pada satu aset, setiap perubahan harga akan langsung berdampak besar pada keseluruhan portofolio. Jika harga naik, kenaikannya memang bisa terasa signifikan. Namun, saat harga turun, penurunannya akan terasa lebih dalam karena tidak ada aset lain yang menyeimbangkan pergerakan tersebut.

Fluktuasi yang tajam ini sering terjadi terutama pada aset yang memiliki volatilitas tinggi seperti saham sektor tertentu atau kripto. Tanpa diversifikasi, pergerakan harian yang fluktuatif bisa terlihat ekstrem terhadap total nilai investasi. Kondisi ini membuat nilai portofolio tampak tidak stabil dari waktu ke waktu. Dalam jangka panjang, pola naik turun yang terlalu tajam juga dapat mengganggu konsistensi pertumbuhan dan membuat hasil investasi sulit diprediksi.

3. Peluang keuntungan menjadi terbatas

ilustrasi uang dan bitcoin
ilustrasi uang dan bitcoin (pexels.com/David McBee)

Saat kita berinvestasi hanya pada satu aset, berarti kita melewatkan potensi pertumbuhan dari aset lain. Dalam siklus ekonomi, ada periode di mana sektor tertentu melemah sementara sektor lain justru tumbuh. Tanpa penyebaran dana, peluang tersebut tidak bisa kita manfaatkan. Fokus yang terlalu sempit ini juga membuat hasil investasi sangat bergantung pada kinerja satu industri atau satu jenis instrumen saja.

Kondisi tersebut bisa terasa merugikan ketika tren pasar berubah. Misalnya, saat saham teknologi melambat tetapi komoditas atau obligasi justru menguat, portofolio yang tidak terdiversifikasi tidak ikut merasakan kenaikan itu. Diversifikasi membuka kemungkinan memperoleh imbal hasil dari berbagai sumber. Strategi ini tidak menjamin keuntungan maksimal, tetapi membantu menjaga keseimbangan antara risiko dan potensi imbal hasil dalam jangka panjang.

4. Tekanan psikologis lebih berat

ilustrasi pria yang sedang stres
ilustrasi pria yang sedang stres (freepik.com/tonodiaz)

Portofolio yang terfokus pada satu aset saja cenderung membuat investor lebih mudah cemas. Setiap pergerakan harga terasa sangat menentukan karena seluruh dana ada di sana. Ketika harga turun sedikit saja, kita bisa langsung khawatir karena tidak ada aset lain yang membantu menyeimbangkan nilai keseluruhan. Situasi seperti ini akan membuat investasi terasa tegang dan penuh tekanan.

Tekanan psikologis tersebut perlahan dapat memengaruhi cara kita mengambil keputusan. Saat harga melemah, kita terdorong untuk menjual sebelum semakin rugi. Sebaliknya, ketika harga melonjak, muncul keinginan untuk menambah dana investasi tanpa pertimbangan matang. Diversifikasi membantu kita meredam reaksi emosional karena risiko tidak bertumpu pada satu aset saja. Dengan komposisi yang lebih seimbang, keputusan investasi cenderung diambil dengan pikiran yang lebih tenang dan terarah.

Jika tidak melakukan diversifikasi saat investasi, maka kita menempatkan seluruh risiko pada satu titik. Walaupun terlihat sederhana dan berpotensi memberi keuntungan besar saat pasar naik, strategi ini juga membawa konsekuensi yang besar ketika kondisi pasar menurun. Dengan menyebar investasi ke berbagai aset, kita dapat mengelola risiko dengan lebih baik dan bijak sehingga investasi menjadi lebih seimbang dalam jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Business

See More