Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BI Harapkan Perbankan Optimalkan Peran sebagai Lembaga Intermediasi
Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti (Tangkapn layar)
  • BI meminta perbankan mengoptimalkan fungsi intermediasi dengan menyalurkan lebih banyak kredit ke sektor riil, bukan terlalu banyak menempatkan dana pada surat berharga.
  • Melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial, BI akan memberi potongan Giro Wajib Minimum bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas, termasuk UMKM, mulai 1 September 2026.
  • Selain menjaga rupiah dan inflasi, BI menyatakan akan mendukung pertumbuhan ekonomi lewat kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pengembangan UMKM, ekonomi syariah, dan ekonomi hijau.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Parapat, IDN Times - Bank Indonesia (BI) berharap perbankan mengoptimalkan perannya sebagai lembaga intermediasi, terutama dalam menyalurkan kreditnya. Hal itu diharapkan akan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal tersebut disampaikan Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti saat memberikan paparan dalam Editors Briefing BI secara daring, Jumat (31/7/2026).

1. Bank diharapkan lebih banyak salurkan kredit

ilustrasi bank (vecteezy.com/MUHAMMAD NUR)

Destry menjelaskan, melalui kebijakan likuiditas makroprudensial yang baru dirilis, BI tidak ingin perbankan terlalu banyak menempatkan dananya ke surat berharga.

"Dengan kita baru mengeluarkan kebijakan likuiditas makroprudensial yang tujuannya adalah bagaimana lebih mengelola atau me-manage kepemilikan bank terhadap surat-surat berharga, karena kita juga enggak mau bank terlalu banyak menempatkan alat likuidnya kepada surat surat berharga," tutur Destry.

BI berharap perbankan kembali ke fungsinya sebagai lembaga intermediasi antara sektor keuangan ke riil.

"Yang kami harapkan, bank itu harus kembali kepada fungsi awal, yaitu bagaimana dia menjadi lembaga intermediasi antara sektor keuangan kepada sektor riil. Mereka harus menyalurkan kreditnya," ujar Destry.

2. BI akan beri insentif

Ilustrasi insentif (IDN Times/Arief Rahmat)

BI melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM menawarkan potongan Giro Wajib Minimum (GWM) kepada perbankan yang gencar menyalurkan kredit. Insentif ini akan berlaku efektif mulai 1 September 2026.

"BI memberikan pengurangan GWM kepada bank-bank yang menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas, termasuk ke UMKM," ujar Destry.

Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang mengatakan, untuk mendapatkan insentif KLM dari BI tidak sulit.

"Bank tinggal report ke BI sudah menyalurkan kredit untuk mendapat KLM," ujarnya.

3. BI dukung pertumbuhan ekonomi

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi (Pexels/Monstera Production)

Sementara itu, Destry memastikan, BI selain menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi, juga mendukung pertumbuhan ekonomi.

"Untuk pertumbuhan (ekonomi), tentu kita akan mengoptimalkan kebijakan kami makroprudensial, sistem pembayaran atau termasuk juga kebijakan kami dalam mengembangkan UMKM dan juga ekonomi syariah termasuk ekonomi hijau," tuturnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article