Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Dampak Buyback Saham Terhadap Earnings per Share?

4 min read
Apa Dampak Buyback Saham Terhadap Earnings per Share?
ilustrasi investasi, saham, dividen, passive income, penghasilan pasif (vecteezy.com/Asih Wahyuni)
  • Buyback dapat menaikkan EPS secara matematis karena jumlah saham beredar berkurang, meski laba bersih perusahaan tetap sama.

  • Kenaikan EPS akibat buyback tidak otomatis mencerminkan pertumbuhan bisnis; investor perlu menilai laba, pendapatan, margin, dan arus kas.

  • Harga buyback serta penggunaan kas memengaruhi alokasi modal, termasuk kemampuan ekspansi, pembayaran utang, investasi, dan dividen.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Buyback saham merupakan aksi korporasi ketika perusahaan membeli kembali sebagian sahamnya yang beredar di pasar. Salah satu dampak yang sering diperhatikan investor adalah perubahan Earnings per Share atau EPS. Pasalnya, buyback dapat mengurangi jumlah saham yang beredar sehingga perhitungan laba per saham ikut berubah.

Namun, perubahan EPS tidak otomatis berarti laba perusahaan meningkat. EPS dipengaruhi oleh dua komponen utama, yaitu laba yang tersedia bagi pemegang saham dan jumlah saham yang menjadi pembaginya. Karena itu, memahami hubungan antara buyback dan EPS penting agar investor tidak hanya melihat kenaikan angka EPS secara terpisah.

  1. 1. Jumlah saham beredar bisa berkurang

    Ilustrasi investasi saham
    Ilustrasi investasi saham (pexels.com/AlphaTradeZone)

    Ketika perusahaan membeli kembali saham dan saham tersebut tidak lagi diperhitungkan sebagai saham beredar, jumlah saham yang menjadi pembagi EPS dapat berkurang. Jika laba bersih perusahaan tetap, jumlah saham yang lebih sedikit secara matematis dapat membuat EPS meningkat. Efek inilah yang membuat buyback sering dikaitkan dengan kenaikan EPS.

    Contoh sederhananya, perusahaan memiliki laba Rp100 miliar dan 1 miliar saham beredar. EPS secara sederhana adalah Rp100 per saham. Jika setelah buyback jumlah saham beredar efektif menjadi 800 juta sementara labanya tetap Rp100 miliar, EPS secara matematis menjadi Rp125 per saham.

  2. 2. Laba perusahaan tidak otomatis bertambah

    ilustrasi S&P 500, investasi, saham
    ilustrasi S&P 500, investasi, saham (magnific.com/tirachardz)

    Buyback tidak secara langsung membuat perusahaan menghasilkan lebih banyak laba dari kegiatan operasionalnya. Perusahaan hanya mengubah sebagian penggunaan kas dan jumlah saham yang beredar. Karena itu, kenaikan EPS akibat jumlah saham yang lebih sedikit perlu dibedakan dari pertumbuhan laba bisnis.

    Misalnya, perusahaan melakukan buyback ketika laba bersihnya sebenarnya sedang menurun. Jumlah saham beredar yang lebih rendah tetap dapat memberikan efek positif terhadap EPS secara matematis, tetapi kondisi bisnis dasarnya belum tentu membaik. Investor perlu melihat pertumbuhan laba, pendapatan, margin, dan arus kas secara bersamaan.

  3. 3. Dampaknya bergantung pada harga buyback

    ilustrasi saham
    ilustrasi saham (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

    Harga ketika perusahaan membeli kembali saham juga menjadi faktor penting. Jika perusahaan membayar harga yang relatif tinggi, kas yang digunakan untuk buyback bisa cukup besar dibandingkan jumlah saham yang berhasil dibeli. Sebaliknya, pembelian pada harga yang lebih rendah dapat memberikan dampak berbeda terhadap penggunaan modal perusahaan.

    Selain itu, kas yang digunakan untuk buyback tidak lagi tersedia untuk kebutuhan lain seperti ekspansi, pembayaran utang, investasi, atau dividen. Karena itu, perubahan EPS sebaiknya dilihat bersama dengan keputusan alokasi modal perusahaan. Angka EPS saja belum menggambarkan seluruh konsekuensi dari aksi buyback.

  4. 4. EPS bisa naik tanpa pertumbuhan bisnis yang besar

    ilustrasi saham
    ilustrasi saham (pexels.com/Yan Krukau)

    Secara matematis, perusahaan dapat mengalami kenaikan EPS hanya karena jumlah saham beredar berkurang. Kondisi ini berbeda dengan kenaikan EPS yang berasal dari peningkatan laba bersih. Keduanya sama-sama dapat meningkatkan angka EPS, tetapi sumber perubahannya berbeda.

    Karena itu, investor biasanya perlu melihat perubahan EPS bersama dengan laba bersih dan jumlah saham beredar. Jika laba naik sementara jumlah saham juga relatif stabil, pertumbuhan EPS lebih banyak mencerminkan peningkatan laba. Sebaliknya, jika laba tidak banyak berubah tetapi EPS meningkat setelah buyback, pengurangan jumlah saham dapat menjadi faktor utama.

  5. 5. Buyback juga memengaruhi metrik per saham lainnya

    ilustrasi investasi saham
    ilustrasi investasi saham (pexels.com/Alesia Kozik)

    Pengurangan jumlah saham beredar tidak hanya dapat memengaruhi EPS. Beberapa metrik lain yang menggunakan jumlah saham sebagai bagian dari perhitungan juga dapat berubah, seperti laba per saham dilusian dan sejumlah rasio berbasis nilai per saham. Dampaknya bergantung pada struktur modal dan karakter aksi korporasi masing-masing perusahaan.

    Namun, perubahan metrik per saham tetap perlu dibaca bersama kondisi fundamental perusahaan. Buyback tidak otomatis membuat kinerja operasional menjadi lebih baik atau lebih buruk. Yang penting adalah memahami alasan perusahaan melakukan buyback, sumber dananya, jumlah saham yang dibeli, serta bagaimana keputusan tersebut memengaruhi posisi keuangan perusahaan.

    Buyback dapat meningkatkan EPS terutama ketika jumlah saham beredar berkurang sementara laba yang tersedia bagi pemegang saham tidak berubah banyak. Efek tersebut berasal dari perubahan pembagi dalam perhitungan EPS, bukan berarti perusahaan otomatis menghasilkan laba operasional yang lebih besar. Karena itu, kenaikan EPS setelah buyback perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.

    Saat menganalisis dampaknya, investor dapat memperhatikan laba bersih, jumlah saham beredar, harga pembelian kembali, arus kas, dan penggunaan modal perusahaan. Perbandingan EPS sebelum dan sesudah buyback juga akan lebih bermakna jika disertai penjelasan mengenai sumber perubahan tersebut. Dengan begitu, angka EPS tidak hanya dilihat sebagai angka yang naik atau turun, tetapi dipahami berdasarkan faktor yang membentuknya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More