ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)
Strategi tersebut mulai tercermin pada kinerja BRI hingga semester I-2026. Total aset perseroan mencapai Rp2.352 triliun, tumbuh 11,7 persen secara tahunan.
Penyaluran kredit dan pembiayaan juga tumbuh 16,2 persen yoy menjadi Rp1.646 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 6,7 persen yoy menjadi Rp1.581 triliun.
Pertumbuhan kredit dan pendanaan tersebut menopang pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang naik 9,9 persen yoy menjadi Rp80,5 triliun. Pre-provision operating profit (PPOP) juga meningkat 12,8 persen yoy menjadi Rp65,7 triliun.
Kinerja tersebut mendorong laba bersih BRI tumbuh 17,5 persen yoy menjadi Rp31,2 triliun pada semester I-2026. Dari sisi pendanaan, peningkatan dana murah turut menekan biaya dana atau cost of fund (CoF) BRI. Secara bank only, CoF turun dari 3,0 persen pada kuartal II-2025 menjadi 2,4 persen pada kuartal II-2026.
Efisiensi operasional juga membaik. Cost to income ratio (CIR) turun dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen. Sementara itu, kualitas aset tetap terjaga dengan rasio non-performing loan (NPL) turun dari 3,0 persen menjadi 2,9 persen. Cost of credit (CoC) juga membaik dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.
"BRI tidak hanya tumbuh lebih cepat, tetapi kualitas pertumbuhannya juga semakin baik," tutur Hery.
Ke depan, BRI masih melihat ruang untuk memperluas bisnis, terutama melalui pembiayaan sektor produktif dan ekonomi kerakyatan. Kendati demikian, ekspansi akan tetap dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan penguatan manajemen risiko.
Hery menegaskan, dukungan terhadap program pemerintah dan upaya menjaga kualitas aset bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya, kata dia, harus berjalan beriringan agar pertumbuhan bisnis BRI tetap sehat dan berkelanjutan dalam jangka panjang.