Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rupiah Ditutup Lesu ke Rp17.722 per Dolar AS

Rupiah Ditutup Lesu ke Rp17.722 per Dolar AS
ilustrasi lembaran uang kertas rupiah Indonesia (pexels.com/Robert Lens)
  • Rupiah ditutup melemah 29 poin atau 0,16 persen pada Senin sore, berada di level Rp17.722 per dolar AS menurut data Bloomberg.
  • Penguatan tajam dolar AS dan pidato hawkish Kepala The Fed Warsh memperkuat ekspektasi kebijakan moneter AS, sehingga menekan pergerakan rupiah.
  • Memanasnya geopolitik Timur Tengah setelah serangan AS terhadap Iran berpotensi meningkatkan permintaan dolar AS sebagai aset safe haven.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah ditutup melemah pada akhir perdagangan, Senin (31/8/2026) sore. Rupiah parkir di level 17.722 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat melemah 29 poin atau 0,16 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

  1. 1. Rincian mata uang di akhir penutupan

    Mayoritas mata uang di Asia bergerak variatif, rinciannya:

    • Bath Thailand menguat 0,01 persen
    • Yuan China menguat 0,01 persen
    • Rupee India menguat 0,18 persen
    • Pesso Filipina melemah 0,13 persen
    • Won Korea menguat 8,89 persen
    • Yen Jepang menguat 0,52 persen

  2. 2. Perkembangan global pengaruhi pergerakan rupiah

    Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah karena penguatan dolar AS yang terjadi secara tajam menjadi salah satu faktor utama yang berpotensi menekan pergerakan rupiah.

    "Tekanan terhadap rupiah juga datang dari perkembangan global, terutama setelah pidato hawkish Kepala The Federal Reserve (The Fed) Warsh yang memperkuat ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat," ujarnya.

  3. 3. Kondisi geopolitik Timur Tengah memanas

    Di sisi lain, kondisi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah serangan Amerika Serikat terhadap Iran. Eskalasi tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, termasuk dolar AS.

    Dengan sentimen tersebut, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan geopolitik serta arah kebijakan The Fed sebagai penentu pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More