Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BI Waspadai Dampak Perang AS-Iran, Ketidakpastian Global Kembali Naik
Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers RDG edisi Novemer. (IDN Times/Triyan).
  • Bank Indonesia menyoroti meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik AS-Iran yang mengganggu rantai pasok dan mendorong kenaikan harga minyak serta komoditas dunia.
  • Perry Warjiyo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2026 hanya sekitar 3 persen dengan inflasi naik ke 4,5 persen, disertai kebijakan moneter global yang makin ketat.
  • Eskalasi konflik memicu arus modal keluar dari negara berkembang menuju aset aman di AS, memperkuat dolar dan menuntut sinergi kebijakan fiskal-moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta,IDN Times - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan ketidakpastian ekonomi global kembali meningkat setelah memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada awal Juli 2026. Kondisi tersebut dinilai memicu gangguan rantai pasok global dan meningkatkan tekanan terhadap perekonomian dunia.

Perry menjelaskan, eskalasi konflik membuat lalu lintas di Selat Hormuz kembali terganggu sehingga menghambat distribusi perdagangan internasional. Dampaknya, harga minyak dan berbagai komoditas global kembali mengalami kenaikan.

"Ketidakpastian global kembali meningkat pasca re-eskalasi intensitas perang antara Amerika Serikat dan Iran pada awal Juli 2026. Lalu lintas di Selat Hormuz kembali terhambat sehingga mengganggu produksi dan rantai pasok perdagangan antarnegara, serta mendorong kenaikan harga minyak dan berbagai komoditas dunia," ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (22/7/2026).

1. Ekonomi global diprediksi tumbuh 3 persen di akhir tahun

Ilustrasi Logo Bank Indonesia. bi.go.id

Menurut Perry, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan tetap lemah di level 3,0 persen, sementara inflasi global meningkat menjadi sekitar 4,5 persen.

"Kebijakan moneter global menjadi lebih ketat sebagai respons terhadap makin tingginya tekanan inflasi tersebut," jelasnya.

2. The Fed diprediksi akan segera naikkan suku bunga acuan

ilustrasi The Fed (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Di sisi lain, BI juga memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve, akan mempercepat kenaikan suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR) ke kuartal IV 2026 sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang semakin tinggi.

Sementara itu, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS juga terus meningkat. Hingga 20 Juli 2026, yield US Treasury tenor 10 tahun mencapai 4,56 persen, sedangkan tenor dua tahun berada di level 4,18 persen. Perry menilai yield masih berpotensi naik seiring pelebaran defisit fiskal AS.

3. Aliran modal asing keluar dari negara berkembang

ilustrasi mata uang dolar Amerika (pexels.com/Pixabay)

Kondisi tersebut turut memicu pergeseran aliran modal global. Investor cenderung menarik dana dari negara berkembang (emerging markets) dan mengalihkannya ke pasar keuangan AS maupun aset-aset yang dianggap aman (safe haven assets).

"Perpindahan modal itu ikut mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang negara maju maupun negara berkembang," jelasnya.

Perry menegaskan, meningkatnya ketidakpastian global tersebut menuntut penguatan respons kebijakan di dalam negeri. Menurutnya, sinergi kebijakan fiskal dan moneter perlu terus diperkuat untuk menjaga ketahanan eksternal, mempertahankan stabilitas ekonomi, serta mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

Curated For You

Editorial Team

Related Article