Penjualan Eceran Juli 2026 Tertekan, Ini Penyebabnya

- BI mencatat penjualan eceran Juli 2026 terkontraksi 0,1 persen secara bulanan akibat normalisasi permintaan setelah HBKN dan libur sekolah, dari pertumbuhan 0,7 persen pada Juni.
- Secara tahunan, IPR Juli mencapai 224,9 atau tumbuh 1,1 persen, didorong makanan, minuman, tembakau, barang lainnya, serta suku cadang dan aksesori.
- BI memperkirakan penjualan eceran Agustus kembali terkontraksi 0,1 persen bulanan, tetapi tumbuh 0,5 persen tahunan; pertumbuhan tahunan tertinggi diproyeksikan terjadi di Manado.
Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan eceran terkontraksi 0,1 persen secara bulanan (month to month/MtM) pada Juli 2026. Kinerja tersebut melemah dibandingkan bulan sebelumnya yang masih tumbuh 0,7 persen (MtM).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan, penurunan penjualan eceran pada Juli 2026 dipengaruhi oleh faktor musiman, terutama normalisasi permintaan setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah.
“Penjualan eceran pada Juli 2026 tercatat terkontraksi sebesar 0,1 persen (MtM), dipengaruhi oleh normalisasi permintaan pascaperiode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah,” kata Denny dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).
1. Komponen penopang penjualan eceran Juli

ilustrasi perempuan belanja bahan makanan (pexels.com/Gustavo Fring) Meski secara bulanan mengalami kontraksi, kinerja penjualan eceran pada Juli 2026 masih ditopang oleh sejumlah kelompok. Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi tumbuh 9,6 persen (MtM), Kelompok Barang Lainnya tumbuh 8,4 persen (MtM), serta Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya tumbuh 1,6 persen (MtM).
Secara tahunan, penjualan eceran pada Juli 2026 masih tumbuh positif. Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat sebesar 224,9 atau tumbuh 1,1 persen secara tahunan (year on year/yoy), berbalik dari bulan sebelumnya yang terkontraksi 3,0 persen (yoy).
Sejumlah kelompok mendorong pertumbuhan penjualan eceran pada periode tersebut. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau tercatat memiliki indeks 318,0 dengan pertumbuhan 2,4 persen (yoy). Kemudian, Kelompok Barang Lainnya memiliki indeks 90,6 dan tumbuh 5,3 persen (yoy).
"Kelompok suku cadang dan aksesori juga masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,1 persen (yoy), dengan level indeks 148,9," kata dia.
2. Penjualan eceran Agustus kontraksi 0,1 persen secara bulanan

ilustrasi belanja (pexels.com/MaxFischer) Sementara itu, BI memperkirakan penjualan eceran pada Agustus 2026 masih terkontraksi 0,1 persen secara bulanan.
Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh penurunan penjualan Kelompok Barang Lainnya, di tengah pertumbuhan penjualan Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi, Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, serta Kelompok Suku Cadang dan Aksesori.
Namun, secara tahunan, penjualan eceran pada Agustus 2026 diprakirakan tetap tumbuh positif. IPR Agustus 2026 diprakirakan tumbuh 0,5 persen (yoy).
Dari sisi harga, tekanan inflasi juga diprakirakan menurun dalam beberapa bulan ke depan. Hal tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Oktober 2026 yang berada di level 146,5, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 155,2.
Ekspektasi penurunan tekanan harga juga terlihat untuk Januari 2027. IEH Januari 2027 tercatat sebesar 166, turun dari periode sebelumnya yang berada di level 168,1.
3. Laju penjualan secara Agustus secara spasial

Ilustrasi belanja (unsplash.com/Imants Kaziļuns) Pada Agustus 2026, penjualan eceran diperkirakan tumbuh di sejumlah kota yang menjadi cakupan survei, baik secara tahunan maupun bulanan.
"Secara tahunan, penjualan eceran di sejumlah kota diprakirakan meningkat. Pertumbuhan tertinggi diperkirakan terjadi di Manado dengan indeks 193,8 dan pertumbuhan 24,1 persen (yoy), diikuti Medan dengan indeks 380,8 dan pertumbuhan 21,6 persen (yoy), serta Bandung dengan indeks 152,7 dan pertumbuhan 10,7 persen (yoy)," tulis BI.
Secara bulanan, penjualan eceran di sejumlah kota juga diprakirakan meningkat. Pertumbuhan tertinggi tercatat di Bandung sebesar 1,8 persen (mtm), diikuti Medan sebesar 1,2 persen (mtm).
Di sejumlah kota lainnya, penjualan diprakirakan tetap tumbuh meski melambat, yakni Manado sebesar 3,3 persen (mtm), Denpasar 0,5 persen (mtm), dan Semarang termasuk Purwokerto sebesar 0,4 persen (mtm).
Sementara itu, kinerja penjualan eceran di Banjarmasin diprakirakan membaik meski masih mengalami kontraksi sebesar 2,0 persen (mtm).


















