BTN Sebut Kinerja BSN Masih Positif, Aset Tumbuh 20,1 Persen

- BTN menyatakan kinerja BSN tetap positif, dengan laba dan bisnis yang tumbuh, cost of fund 2,7 persen, serta rasio pembiayaan bermasalah di bawah 3 persen.
- Hingga Juni 2026, aset BSN naik 20,1 persen secara tahunan menjadi Rp78,8 triliun, melampaui target semester I; BSN menargetkan aset Rp87 triliun tahun ini.
- BTN menargetkan dividend payout ratio 20–25 persen dari laba 2026, tetapi keputusan final bergantung pada RUPS; sebelumnya dividen ditunda untuk akuisisi kredit pensiunan.
Jakarta, IDN Times – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menyebut kinerja Bank Syariah Nasional (BSN) masih tumbuh positif. Pertumbuhan tersebut tercermin dari kinerja laba dan bisnis BSN yang tetap terjaga.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, kinerja BSN menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik, termasuk dari sisi biaya dana atau cost of fund (CoF).
“Kalau teman-teman lihat labanya BSN only itu memang kan tadi sudah disampaikan masih tumbuh cukup baik. Bisnisnya juga masih tumbuh cukup baik. Dari sisi cost of fund mereka bahkan lebih bagus daripada induknya,” kata Nixon dalam Public Expose Live 2026 di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
1. NPL BSN masih terjaga di bawah 3 persen

Direktur Utama BTN Nixon. (Dok/Screenshot). Nixon menyebut CoF BSN berada di level 2,7 persen. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) BSN masih terjaga di bawah 3 persen.
“Mereka 2,7 persen. Dari sisi NPL juga mereka masih cukup baik. NPL-nya juga di bawah 3 persen,” ujarnya.
Menurut Nixon, kualitas pembiayaan pada segmen syariah juga relatif lebih baik dibandingkan segmen nonsyariah. Ia mengatakan, nasabah pada segmen syariah, khususnya lapisan bawah, cenderung lebih disiplin dalam memenuhi kewajiban pembiayaannya.
“Jadi segmen syariah yang di segmen bawah itu ternyata jauh lebih disiplin dibanding yang non-syariah. Kita juga sudah menemukan itu sejak lama sebenarnya,” ungkapnya.
2. Total aset BSN tumbuh 20,1 persen secara tahunan menjadi Rp78,8 triliun hingga Juni

logo Bank Syariah Nasional (BSN) (bankbsn.co.id) Nixon menilai pemisahan Unit Usaha Syariah (UUS) BTN menjadi BSN memberikan ruang yang lebih luas bagi bank syariah tersebut untuk mengembangkan bisnis dan produk.
“Kami juga percaya spin-off ini akan memberikan keleluasaan bagi mereka untuk create product yang lebih luas lagi,” ujarnya.
Berdasarkan kinerja hingga Juni 2026, total aset BSN tumbuh 20,1 persen secara tahunan menjadi Rp78,8 triliun. Capaian tersebut telah mencapai 100,8 persen dari target semester I 2026.
Pada tahun ini, BSN menargetkan total aset sekitar Rp87 triliun, pembiayaan Rp66 triliun, dan dana pihak ketiga (DPK) Rp69 triliun.
3. BTN targetkan pembayaran dividend payout ratio (DPR) 20 persen-25 persen

Menara PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN di Kuningan, Jakarta Selatan. (dok. BTN) Di sisi lain, BTN mencantumkan target rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio (DPR) sebesar 20 persen-25 persen dari laba tahun buku 2026 dalam Rencana Bisnis Bank (RBB).
Nixon mengatakan, target tersebut masih mengacu pada RBB perseroan. Namun, keputusan final mengenai pembagian dividen tetap berada di tangan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
“Di RBB kami, di 2026 memang kami tulis 20 persen-25 persen. Jadi kami masih konsisten dengan angka yang ditulis di RBB. Tapi sekali lagi nanti ini bergantung pada saat RUPS diumumkan. Karena memang dividen itu games-nya pemilik saham,” kata Nixon.
Nixon menjelaskan, BTN sebelumnya menunda pembagian dividen lantaran perseroan tengah mengakuisisi portofolio kredit dengan imbal hasil lebih tinggi. Portofolio tersebut merupakan kredit pensiunan yang memiliki tingkat bunga lebih tinggi dibandingkan kredit FLPP.
“Kalau kita mau merubah struktur laba atau struktur yield BTN ke masa depan, kita menunda membayarkan dividen supaya yield-nya nggak langsung turun,” ujarnya.















