Blok Masela Akhirnya Dimulai, Wamen ESDM Ungkap Akar Masalahnya

- Pemerintah akhirnya memulai pembangunan Blok Masela setelah 28 tahun tertunda karena penyelesaian berbagai persoalan mendasar seperti status kawasan hutan, perizinan, dan ganti rugi masyarakat.
- Sebanyak 60 persen produksi gas Lapangan Abadi Blok Masela akan dialokasikan untuk kebutuhan domestik guna mendukung industri pupuk, pembangkit listrik, serta pertumbuhan ekonomi nasional.
- Blok Masela menjadi salah satu proyek gas terbesar Indonesia dengan target produksi 9,5 juta ton LNG per tahun dan penerapan teknologi Carbon Capture and Storage untuk menekan emisi karbon.
Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan alasan proyek Lapangan Abadi Blok Masela baru memasuki tahap pembangunan setelah hampir 28 tahun sejak kontrak kerja sama ditandatangani pada 1998.
Menurut Yuliot, pemerintah harus lebih dulu menyelesaikan berbagai persoalan mendasar yang selama ini menghambat pengembangan proyek strategis nasional tersebut. Persoalan itu tidak hanya menyangkut aspek teknis, tetapi juga perizinan hingga penyelesaian dengan masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Yuliot kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (20/7/2026), sebelum menghadiri Sidang Kabinet Paripurna.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) Proyek LNG Abadi Masela di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, pada Kamis, (16/7/2026).
1. Pemerintah selesaikan sejumlah hambatan

Yuliot mengatakan penyelesaian proyek Masela membutuhkan waktu panjang karena pemerintah harus menyelesaikan akar persoalan terlebih dahulu sebelum pembangunan dapat dimulai. Menurutnya, proses tersebut melibatkan berbagai kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga masyarakat di sekitar proyek.
“Untuk Masela itu ya bagaimana kita bisa menyelesaikan untuk jangka waktu 28 tahun. Ini memang bukan pekerjaan yang gampang, kita harus melihat akar permasalahan terlebih dulu,” kata Yuliot.
Ia menjelaskan sejumlah persoalan yang harus diselesaikan antara lain perubahan status kawasan hutan, berbagai perizinan, pemberian ganti rugi kepada masyarakat, serta pelibatan masyarakat dalam pengembangan proyek.
“Jadi akar permasalahannya adalah yang pertama penyelesaian status kawasan hutan yang harus dialihkan. Kemudian itu ada masalah perizinan-perizinan yang kita selesaikan. Ya kemudian ada ganti rugi kepada masyarakat, ada keterlibatan masyarakat dalam proses Masela itu kita selesaikan semua,” ujarnya.
Yuliot menambahkan setelah seluruh persoalan tersebut diselesaikan, proyek akhirnya dapat memasuki tahap pembangunan. “Jadi pada saat itu sudah selesai, maka proses penyelesaiannya itu bisa berjalan sampai diresmikan oleh Presiden untuk pelaksanaan pembangunan,” ucapnya.
2. 60 Persen gas Masela untuk kebutuhan dalam negeri

Sementara itu, pemerintah menetapkan sebagian besar produksi gas Lapangan Abadi Blok Masela akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan domestik. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan sedikitnya 60 persen produksi gas akan dialokasikan untuk pasar dalam negeri, sedangkan maksimal 40 persen dapat diekspor.
“Kita akan alokasikan produksi gas Blok Masela 60 persen minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40 persen maksimal untuk kita melakukan ekspor,” kata Bahlil saat memberikan laporan kepada Presiden Prabowo, akhir pekan kemarin.
Menurut Bahlil, gas tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung industri pupuk, pembangkit listrik, hingga kebutuhan gas nasional. “Di mana sebagian kita akan memakai untuk hilirisasi daripada PT Pupuk yang berencana akan membangun industri hilirisasi di sini,” ujarnya.
Selain itu, sebagian produksi juga akan disalurkan kepada PT PLN, PGN, dan sejumlah perusahaan swasta guna meningkatkan nilai tambah dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
3. Masela jadi salah satu proyek gas terbesar Indonesia

Lapangan Abadi Blok Masela merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional yang berada sekitar 180 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut mencapai 400–800 meter.
Kontrak kerja sama wilayah kerja Masela berlaku sejak 1998 hingga 2055.
Dalam rencana pengembangannya, lapangan ini ditargetkan mampu memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA), 150 juta kaki kubik standar gas per hari (MMSCFD), serta 35 ribu barel kondensat per hari.
Pengembangan proyek mencakup fasilitas produksi bawah laut, Floating Production Storage and Offloading (FPSO), pipa gas sepanjang sekitar 175 kilometer, hingga kilang LNG di darat. Pemerintah juga merencanakan penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) sebagai bagian dari upaya mendukung pengurangan emisi karbon dalam pengembangan proyek tersebut.




















