Perusahaan minyak nasional Abu Dhabi, ADNOC, mulai mengatur jumlah produksi minyak di ladang lepas pantai mereka. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi penuhnya tangki penyimpanan minyak di dalam negeri. Dengan mengatur tingkat produksi, ADNOC berharap bisa menjaga kelancaran operasional agar nantinya dapat segera kembali bekerja normal setelah gangguan di Selat Hormuz berakhir.
Keputusan ini menjadi cara perusahaan untuk mengatasi hambatan pengiriman minyak sejak pecahnya konflik besar di kawasan Timur Tengah pada akhir Februari 2026. Fokus pengaturan pada ladang minyak di laut dilakukan karena jalur pengiriman lewat air lebih berisiko dibandingkan operasional di darat. Hingga saat ini, otoritas energi Uni Emirat Arab melaporkan bahwa kegiatan di darat masih berjalan seperti biasa.
Pimpinan tertinggi ADNOC, Dr. Sultan Ahmed Al Jaber, menyatakan bahwa keselamatan kerja menjadi prioritas utama dalam situasi sulit ini.
"ADNOC telah menjalankan protokol keamanan dan berkoordinasi dengan otoritas demi melindungi seluruh staf, aset, serta operasional kami," ujar Al Jaber, dilansir The Star.
Meskipun produksi dikurangi, Uni Emirat Arab masih memiliki keunggulan berupa jalur pipa minyak Habshan-Fujairah. Jalur pipa ini mampu mengalirkan minyak langsung ke wilayah Teluk Oman tanpa harus melewati Selat Hormuz yang saat ini sedang dalam kondisi berbahaya bagi kapal tanker. Infrastruktur ini menjadi tumpuan utama bagi kelangsungan ekspor minyak ke pasar internasional, terutama untuk memenuhi kontrak dengan pembeli di Asia.
Namun, para pengamat mengingatkan bahwa kapasitas pipa alternatif tersebut belum cukup untuk mengangkut seluruh total produksi minyak harian Uni Emirat Arab. Hal inilah yang mendasari perlunya pengurangan produksi pada sumur-sumur minyak yang tidak terhubung dengan jalur pipa darat. Selain itu, pihak manajemen risiko ADNOC terus memantau keamanan pelabuhan di Fujairah karena adanya risiko serangan yang bisa mengganggu pengiriman setiap harinya.