AI hingga Wellness Economy Diprediksi Jadi Peluang Bisnis Menjanjikan

- Sandiaga Uno menilai sektor AI, ekonomi hijau, dan wellness economy berpotensi jadi motor pertumbuhan baru meski ekonomi global masih penuh tantangan.
- Survei BCG menunjukkan 74 persen pekerja sudah memakai AI, dengan 40 persen di antaranya menghemat waktu kerja hingga satu hari per minggu.
- Mikhael Lalwani menekankan pentingnya organisasi adaptif dan komunikasi efektif agar perusahaan mampu menghadapi risiko serta perubahan yang sulit diprediksi.
Jakarta, IDN Times - Peluang bisnis baru diperkirakan akan muncul seiring percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI), berkembangnya ekonomi hijau (green economy), serta meningkatnya minat masyarakat terhadap sektor kesehatan dan kebugaran (wellness economy).
Namun, para pelaku usaha dinilai perlu mengubah pendekatan bisnis konvensional menjadi lebih inovatif dan kolaboratif, agar dapat memanfaatkan peluang tersebut di tengah ketidakpastian ekonomi global.
1 . Peluang usaha tetap ada meski perekonomian hadapi tantangan

Pengusaha sekaligus mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Uno, mengatakan peluang usaha tetap tersedia meski perekonomian menghadapi tantangan.
Menurutnya, sektor AI dan ekonomi digital, ekonomi hijau, serta wellness economy berpotensi menjadi motor pertumbuhan baru dalam beberapa tahun mendatang.
"Kesempatan itu ada di setiap tikungan. Saat ekonomi mengalami perlambatan, selalu ada peluang yang muncul. Ke depan mungkin di bidang AI dan digital economy, green economy, serta wellness economy," ujar Sandiaga.
2. AI hemat waktu kerja hingga sehari per pekan bagi 40 persen pekerja

Sementara itu, Partner Boston Consulting Group (BCG) Edwin Utama menyoroti pesatnya perkembangan teknologi AI yang dinilai melampaui laju adopsi berbagai teknologi sebelumnya.
Mengacu pada survei BCG terhadap 12.000 pekerja di berbagai negara, sebanyak 74 persen responden mengaku telah menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari. Adapun sekitar 40 persen responden menyebut teknologi tersebut mampu menghemat waktu kerja hingga satu hari dalam sepekan.
Menurut Edwin, tantangan berikutnya bukan lagi pada tingkat penggunaan AI oleh individu, melainkan bagaimana perusahaan dapat mengubah peningkatan produktivitas tersebut menjadi kinerja organisasi secara keseluruhan.
"Yang membedakan satu perusahaan dengan perusahaan lain ke depan adalah bagaimana menggabungkan kekuatan manusia dan AI. AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi memperkuat kemampuan manusia," kata Edwin
3. Peluang dan risiko selalu jalan beriringan

Sementara itu, CEO Corim Group Mikhael Lalwani mengingatkan bahwa peluang dan risiko akan selalu berjalan beriringan. Karena itu, perusahaan perlu membangun organisasi yang adaptif dan responsif terhadap perubahan yang semakin sulit diprediksi.
Menurutnya, kemampuan beradaptasi tidak cukup bergantung pada individu, tetapi harus menjadi bagian dari sistem dan budaya perusahaan.
"Perusahaan harus memiliki kerangka kerja yang jelas agar organisasi mampu menjadi adaptif, proaktif, dan responsif terhadap berbagai perubahan. Selain itu, komunikasi yang efektif dari level pimpinan hingga seluruh organisasi juga menjadi faktor penting," ujar Mikhael.




![[QUIZ] Tebak Pekerjaan Karakter Spongebob, Bisa Betul Semua?](https://image.idntimes.com/post/20260426/untitled_ed317754-35d8-4cfe-9cfd-5824b065d8cf.png)













