Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bukan Cuma Gaji, Gen Z Mulai Sadar Pentingnya Asuransi saat Cari Kerja

2 min read
Bukan Cuma Gaji, Gen Z Mulai Sadar Pentingnya Asuransi saat Cari Kerja
ilustrasi asuransi kesehatan (pexels.com/Leeloo The First)
  • Generasi muda mulai menilai fasilitas asuransi sebagai pertimbangan ketika mencari pekerjaan, bukan hanya melihat besaran gaji.

  • Pandemik COVID-19 meningkatkan kesadaran tentang risiko dan kebutuhan perlindungan asuransi.

  • Industri asuransi Indonesia memasuki fase pembenahan melalui penguatan keuangan, digitalisasi, peningkatan SDM, dan penyesuaian produk.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Yulius Bhayangkara menilai potensi asuransi di kalangan generasi muda bergantung pada kemampuan industri menyesuaikan produk dan layanan dengan kebutuhan mereka.

Relevansi menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan agar asuransi dapat menjangkau berbagai generasi, termasuk generasi Z. Yulius juga melihat adanya kebutuhan baru di kalangan generasi muda terhadap perlindungan asuransi.

"Yang paling atas adalah relevansi kita dengan generasi apa lah namanya, mau X, Y, Z, segala macam, dan tetapi saya melihat adanya kebutuhan baru," kata dia dalam peringatan Hari Asuransi ke-20 Tahun 2026 di Gedung Grha AAJI, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

  1. 1. Asuransi mulai dipertimbangkan selain gaji

    ilustrasi asuransi kesehatan
    ilustrasi asuransi kesehatan (magnific.com/rawpixel.com)

    Menurut Yulius, generasi muda mulai mempertimbangkan ketersediaan asuransi ketika mencari pekerjaan. Pertimbangan mereka tidak lagi hanya soal besaran gaji, tetapi mencakup ada atau tidaknya fasilitas asuransi dari perusahaan tempat bekerja.

    "Jadi sekarang generasi yang baru ini sudah lebih ngerti. Kalau mau kerja, dia langsung nanya, "Asuransinya ada enggak, Pak?" Gitu. Itu bener enggak berpikir gitu kerjanya? Udah bukan cuman gaji doang, sekarang mau nanya-nanya," ujar dia.

  2. 2. Pandemik membuka kesadaran tentang risiko

    Ilustrasi asuransi kesehatan
    Ilustrasi asuransi kesehatan (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Yulius mengatakan, pandemik COVID-19 membuka kesadaran masyarakat mengenai kebutuhan asuransi. Pengalaman selama pandemik menunjukkan seseorang tidak selalu memiliki uang ketika menghadapi situasi tertentu.

    "Jadi, pas COVID itu ada sesuatu yang kita buka, yaitu kebutuhan bahwa ternyata memang kita butuh, kita begini, kita tidak selalu punya uang. Kita tidak selalu punya uang, tapi selalu ada risiko. Jadi punyanya asuransi jadi penting," tuturnya.

  3. 3. Industri asuransi RI masuk fase reset

    20261020_101933.jpg
    Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Yulius Bhayangkara. (IDN Times/Trio Hamdani)

    Yulius menyebut industri asuransi Indonesia sedang memasuki fase reset atau pembenahan besar, mencakup penguatan keuangan perusahaan, digitalisasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), hingga penyesuaian produk dengan kebutuhan masyarakat.

    Yulius menyampaikan hal itu dalam rangkaian peringatan Hari Asuransi 2026. Dia menilai, perubahan regulasi yang berlangsung berdekatan membuat industri perlu menyesuaikan diri agar tetap mampu melayani masyarakat.

    Selain itu, edukasi mengenai asuransi perlu disampaikan dengan bahasa sederhana agar pesan yang diberikan dapat dipahami masyarakat. Dia menilai, pendekatan edukasi yang terlalu rumit berisiko membuat pesan mengenai manfaat asuransi tidak tersampaikan dengan baik.

    Di sisi lain, dia menegaskan industri asuransi tetap berkomitmen melayani masyarakat Indonesia di tengah perubahan yang terjadi. Dia membagi proses pembenahan industri tersebut ke dalam tiga lapisan.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More