Giant Sea Wall Bakal Dilengkapi MRT dan Pembangkit Tenaga Angin

- Megaproyek Giant Sea Wall di Teluk Jakarta akan dibangun di laut sedalam 14 meter, dilengkapi jalan tol, MRT, serta pembangkit listrik tenaga angin di bagian atas tanggul.
- Area dalam tanggul difungsikan sebagai waduk retensi raksasa seluas total 9.000 hektare yang juga dipasangi panel surya terapung untuk mendukung pasokan energi hijau dan air tawar Jakarta.
- Tanggul sepanjang 42,18 kilometer ini dibangun sekitar 6 kilometer dari garis pantai dengan jembatan setinggi 80 meter agar aktivitas pelabuhan dan logistik tetap berjalan lancar.
Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf membeberkan detail teknis megaproyek Giant Sea Wall (GSW) di Teluk Jakarta. Dia menjelaskan tanggul laut raksasa tersebut akan dibangun di kedalaman laut 14 meter dengan lebar dasar struktur mencapai 362 meter hingga 1.200 meter jika mencakup area pengembangan.
Didit menyebutkan bagian atas tanggul memiliki lebar 60 meter yang dirancang untuk menampung infrastruktur pendukung konektivitas, serta pembangkit listrik dari energi terbarukan melalui pemanfaatan tenaga angin.
"Di situ ada jalan tol dan MRT dan bisa dimanfaatkan dengan menggunakan tenaga angin untuk listrik," katanya dalam media briefing di Jakarta, Senin (23/2/2026).
1. Waduk retensi dan panel surya terapung

Didit memaparkan area di sisi dalam tanggul akan difungsikan sebagai waduk retensi raksasa. Selain sebagai penampung air, permukaan waduk tersebut akan dipasang panel surya untuk mendukung pasokan energi hijau.
"Dan ada area pengembangan juga untuk pembangunan kegiatan area development nantinya di luar, setelah tanggulnya ini jadi," tuturnya.
2. Waduk retensi untuk memenuhi kebutuhan air tawar

Didit mengungkapkan proyek tersebut memiliki fungsi ganda sebagai penyedia cadangan air tawar. Dia memproyeksikan perolehan lahan waduk sekitar 7.000 hektare di sisi barat dan 2.000 hektare di sisi timur.
Total 9.000 hektare ini diklaim mampu memenuhi kebutuhan air bersih Jakarta yang sulit didapat karena keterbatasan lahan di darat. Dia membandingkan kondisi tersebut dengan penyusutan drastis embung-embung di Jakarta.
Didit menegaskan membangun waduk di daratan Jakarta saat ini hampir mustahil secara sosial dan lahan, sehingga mitigasi melalui tanggul laut menjadi langkah strategis untuk mengamankan stok air tawar di masa depan.
"Nah, dengan kondisi seperti itu maka hari ini dengan kita merencanakan ini akan menjadi air tawar," kata pria yang juga menjabat Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan itu.
3. Tanggul dibangun 6 km dari garis pantai

Didit menekankan proyek tanggul laut berbeda dengan tanggul pantai konvensional yang menempel di bibir pantai. Giant Sea Wall akan dibangun menjorok ke tengah laut dengan jarak sekitar 6 kilometer dari garis pantai Teluk Jakarta.
Pihaknya tengah melakukan studi mendalam terkait bathymetry dan investigasi tanah (soil investigation) untuk memastikan keamanan struktur. Di Teluk Jakarta sendiri, tanggul akan membentang sepanjang 42,18 kilometer dengan konfigurasi melengkung.
Didit memastikan keberadaan tanggul tidak akan mematikan aktivitas logistik, karena akan dibangun jembatan setinggi 80 meter untuk mendukung kegiatan pelabuhan.
"Di atasnya ada jembatan dengan ketinggian sekitar 80 meter. Di situ tetap berfungsinya pelabuhan-pelabuhan yang sekarang ini ada," kata dia.


















