Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

CORE: Redam Rekanan Rupiah, BI Tak Bisa Hanya Andalkan Pasar Valas

CORE: Redam Rekanan Rupiah, BI Tak Bisa Hanya Andalkan Pasar Valas
ilustrasi valas (unsplash.com/Ibrahim Boran)
Intinya Sih
  • Cadangan devisa Indonesia menurun akibat intervensi Bank Indonesia di pasar valas untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.
  • Kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen dinilai mampu meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing.
  • Ekonom CORE menegaskan stabilisasi rupiah tidak bisa hanya mengandalkan intervensi valas, tetapi juga perlu dukungan kebijakan suku bunga agar fundamental tetap kuat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Ekonom menilai cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan di tengah upaya Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, ekonom menilai intervensi di pasar valuta asing (valas) tidak bisa menjadi satu-satunya instrumen yang diandalkan bank sentral untuk meredam tekanan terhadap rupiah.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan berkurangnya cadangan devisa memang tidak terlepas dari langkah intervensi yang dilakukan BI di pasar keuangan.

"Iya, cadangan devisa memang berkurang karena intervensi yang dilakukan oleh BI. Namun dalam situasi seperti sekarang, intervensi tidak bisa menjadi satu-satunya instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah," ujar Yusuf kepada IDN Times, Jumat (12/6/2026).

1. Cadangan devisa digunakan untuk intervensi dan kurangi volatilitas

ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)
ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)

Menurut Yusuf, penggunaan cadangan devisa pada dasarnya tidak hanya ditujukan untuk mendorong penguatan nilai tukar rupiah. Instrumen tersebut juga digunakan untuk mengurangi volatilitas atau gejolak pergerakan rupiah agar tetap berada dalam rentang yang terkendali.

Di sisi lain, BI juga mengandalkan instrumen suku bunga acuan untuk menarik kembali aliran modal asing (capital inflow) ke pasar domestik.

"Langkah tersebut dinilai penting untuk menopang nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global," ucapnya.

2. Kenaikan suku bunga acuan tingkatkan daya tarik aset keuangan

Ilustrasi suku bunga
Ilustrasi suku bunga (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Yusuf menjelaskan, kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen, meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik sehingga investor memiliki insentif lebih besar untuk menempatkan dananya di Indonesia.

"Logikanya, kenaikan suku bunga dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik sehingga investor memiliki insentif lebih besar untuk menempatkan dananya di Indonesia," katanya.

3. Stabilitas rupiah tidak boleh hanya bertumpu pada intervensi valas

ilustrasi lembaran uang rupiah Indonesia
ilustrasi lembaran uang rupiah Indonesia (pexels.com/Robert Lens)

Menurutnya, stabilisasi rupiah saat ini tidak hanya bertumpu pada intervensi di pasar valas yang berpotensi menguras cadangan devisa. Kebijakan suku bunga juga memiliki peran penting dalam menarik arus modal masuk dan memperkuat fundamental stabilitas nilai tukar.

"Stabilisasi rupiah saat ini tidak hanya bertumpu pada intervensi di pasar valas yang menguras cadangan devisa, tetapi juga pada kebijakan suku bunga yang bertujuan menarik kembali inflow dan memperkuat fundamental stabilitas nilai tukar," ucap Yusuf.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More