Daftar 13 Proyek Hilirisasi yang Diresmikan Prabowo Senilai Rp116 T

- Pemerintah meluncurkan 13 proyek hilirisasi nasional fase II senilai Rp116 triliun di empat sektor utama: energi, logam dan mineral, material konstruksi, serta agroindustri untuk memperkuat ekonomi domestik.
- Pertamina memimpin proyek kilang gasoline di Dumai dan Cilacap serta pembangunan terminal BBM di Indonesia Timur guna menekan impor bahan bakar dan meningkatkan kapasitas distribusi energi nasional.
- Berbagai BUMN seperti Krakatau Steel, PTPN III, dan PTBA mengembangkan fasilitas industri logam, aspal Buton, serta produk turunan sawit dan kelapa untuk menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja baru.
Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto telah meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan 13 proyek hilirisasi nasional fase II dengan total nilai investasi mencapai Rp116 triliun. Proyek tersebut terdiri dari empat sektor, yaitu energi, logam dan mineral, material konstruksi, serta agroindustri.
Secara keseluruhan, proyek hilirisasi fase kedua bertujuan untuk menurunkan ketergantungan impor, memperkuat rantai pasok industri nasional, dan meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik.
Selain itu, proyek ini juga ditargetkan untuk mendorong terciptanya peluang kerja serta aktivitas ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Berikut daftarnya!
1. Sektor energi dan infrastruktur BBM

Untuk sektor ini, terdapat proyek pembangunan fasilitas kilang gasoline yang dikelola oleh PT Pertamina (Persero) dengan lokasi di Dumai, Riau, serta Cilacap, Jawa Tengah. Proyek tersebut mengembangkan kapasitas kilang gasoline pada fasilitas eksisting RU II Dumai dan RU IV Cilacap dengan total kapasitas 62.000 barel per hari.
Ditargetkan beroperasi pada kuartal IV-2030, proyek ini ditujukan untuk mensubstitusi impor bensin hingga 2 juta kiloliter per tahun, mendukung pemenuhan Pertamax Series, serta menurunkan impor produk sampingan seperti propilena dan LPG.
Selain itu, Pertamina juga menjalankan proyek pembangunan tangki operasional BBM yang berlokasi di Palaran (Kalimantan Timur), Biak (Papua), serta Maumere (Nusa Tenggara Timur). Proyek ini mencakup pengembangan tiga terminal BBM dengan total tambahan kapasitas 153 ribu kiloliter, yang akan meningkatkan kapasitas penyimpanan nasional sebesar 3,1 persen.
Proyek yang dijalankan oleh Pertamina Patra Niaga ini ditargetkan beroperasi secara bertahap pada 2027 di Maumere serta pada 2028 di Palaran dan Biak untuk memperkuat keandalan distribusi energi di wilayah Indonesia Timur.
2. Fasilitas pengolahan batu bara menjadi DME

Pada sektor pengolahan batu bara, terdapat proyek pengembangan fasilitas pengolahan batu bara menjadi DME yang dikelola oleh PT Pertamina (Persero) bersama PT Mineral Industri Indonesia (Persero) di Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Fasilitas dengan kapasitas 1,4 juta ton per tahun ini menjadikan PTBA sebagai operator dan Pertamina Patra Niaga sebagai offtaker.
Proyek tersebut ditargetkan untuk mensubstitusi impor LPG yang saat ini memenuhi 80 persen kebutuhan nasional, guna memberikan efisiensi devisa serta menciptakan peluang kerja baru di industri hilir berbasis energi.
3. Sektor logam dan material konstruksi

Di sektor logam, terdapat proyek pengembangan fasilitas manufaktur baja nirkarat dari nikel di Indonesia Morowali Industrial Park oleh PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. dan mitra strategis. Fasilitas ini memiliki kapasitas produksi stainless steel slab sebesar 1,2 juta ton per tahun berbasis nikel lokal untuk meningkatkan nilai tambah mineral dan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan industri.
Di samping itu, Krakatau Steel dan mitra strategis juga mengembangkan fasilitas produksi slab baja karbon dari bijih besi lokal di Cilegon, Banten, dengan kapasitas 1,5 juta ton per tahun guna mencapai efisiensi operasional dan memperkuat fondasi industrialisasi nasional.
Proyek pada sektor material konstruksi juga mencakup ekosistem dan fasilitas produksi aspal Buton yang dikelola oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. di Karawang, Jawa Barat. Proyek ini diarahkan untuk meningkatkan pemanfaatan aspal Buton dari 5 ribu ton pada 2025 menjadi 300 ribu ton pada 2030.
Sementara itu, di Gresik, Jawa Timur, terdapat hilirisasi tembaga dan emas yang dikelola oleh PT Mineral Industri Indonesia (Persero) dan PT Len Industri (Persero) berupa pengembangan fasilitas brass mill, brass cup, dan manufaktur logam mulia berbasis anode slime untuk memperkuat industri strategis nasional.
4. Sektor agroindustri dan hasil bumi

Terakhir, pada sektor agroindustri dan hasil bumi, terdapat pengembangan klaster hilirisasi sawit menjadi oleofood dan biodiesel oleh PT Perkebunan Nusantara III (Persero) di Sei Mangkei, Sumatra Utara. Di Maluku Tengah, terdapat pula fasilitas pengolahan pala menjadi oleoresin untuk memperkuat ekonomi daerah dan meningkatkan pendapatan petani.
Kelompok usaha perkebunan tersebut juga mengembangkan fasilitas terpadu kelapa di Maluku Tengah yang menghasilkan MCT, tepung kelapa, dan karbon aktif guna mendorong diversifikasi produk berbasis kelapa dan memperluas akses pasar ekspor bernilai tinggi.

















![[QUIZ] Pilih Ide Bisnis, Kami Tebak Kepribadianmu Alpha, Beta, atau Omega](https://image.idntimes.com/post/20240219/pexels-startup-stock-photos-7103-a56a4ee6b878557b98051ffe7f93ee25-bae414e6e8f3154ea4ce8f51e23c7387.jpg)
![[QUIZ] Tebak Mata Uang Negara di Asia, Uji Pengetahuanmu!](https://image.idntimes.com/post/20241205/dileesh-kumar-dbppqnkhc7u-unsplash-d089e2e6e27dcbc257bd0b611ae3ac69.jpg)