Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Demo Mahasiswa Dinilai Cerminkan Keresahan yang Dirasakan Investor
Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus gelar demo di Bundaran HI, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat (12/6/2026). (IDN Times/Irfan Fathurohman)
  • Aksi demonstrasi mahasiswa dianggap mencerminkan keresahan yang juga dirasakan investor terkait kebijakan ekonomi dan pengelolaan anggaran pemerintah.
  • Pasar keuangan tetap stabil, dengan IHSG menguat dan rupiah terapresiasi, menunjukkan aksi damai tidak memicu sentimen negatif di kalangan investor.
  • Fokus utama investor tetap pada faktor fundamental ekonomi seperti inflasi, nilai tukar, cadangan devisa, serta arah kebijakan fiskal pemerintah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Aksi demonstrasi mahasiswa yang berlangsung pada Jumat (13/6/2026), tidak memberikan sentimen negatif ke pasar keuangan. Sebaliknya, aksi tersebut dinilai mencerminkan berbagai kekhawatiran yang sebelumnya juga telah disuarakan oleh pelaku usaha dan investor terkait kondisi ekonomi serta arah kebijakan pemerintah.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan unjuk rasa merupakan salah satu mekanisme koreksi dalam sistem demokrasi. Menurutnya, aksi mahasiswa muncul karena berbagai aspirasi yang disampaikan sebelumnya dinilai belum memperoleh respons yang memadai dari pemerintah.

"Tuntutan mahasiswa, mulai dari penghentian pemborosan APBN, penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, hingga evaluasi program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih, pada dasarnya sejalan dengan kekhawatiran yang lebih dulu muncul di kalangan investor," ujarnya kepada IDN Times, Sabtu (13/6/2026).

1. Mahasiswa dan investor soroti persoalan yang sama

Situasi aksi demonstrasi mahasiswa di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat pada Jumat (12/6/2026). 9IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Yusuf menjelaskan, jauh sebelum aksi berlangsung, pasar telah mencermati potensi tekanan fiskal dari berbagai program belanja pemerintah yang dinilai berisiko memperlebar defisit anggaran dan memengaruhi stabilitas ekonomi. Karena itu, demonstrasi lebih tepat dipandang sebagai cerminan dari persoalan yang telah lebih dulu menjadi perhatian pasar.

"Dengan kata lain, mahasiswa dan investor sedang membaca persoalan yang sama, hanya menggunakan bahasa yang berbeda. Karena itu, demonstrasi bukan penyebab tekanan ekonomi, melainkan salah satu gejala dari masalah yang sudah lebih dahulu dirasakan," tegasnya.

2. Pasar tak respon negatif atas aksi demonstrasi

ilustrasi IHSG (IDN Times/Muhammad Surya)

Dari sisi pasar keuangan, Yusuf menilai tidak terdapat indikasi bahwa aksi mahasiswa memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap sentimen investor. Hal itu tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat, sementara nilai tukar rupiah sempat terapresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Menurutnya, pergerakan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti perkembangan geopolitik global dan aksi beli investor setelah pasar mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir.

"Investor umumnya memahami bahwa aksi damai yang berlangsung tertib bukan merupakan variabel utama dalam pengambilan keputusan investasi," katanya.

3. Fokus investor tetap pada fudamental ekonomi

ilustrasi IHSG (IDN Times/Aditya Pratama)

Yusuf menambahkan, perhatian pelaku pasar saat ini lebih tertuju pada faktor-faktor fundamental ekonomi, seperti pergerakan inflasi, nilai tukar rupiah, posisi cadangan devisa, serta arah kebijakan fiskal pemerintah. Menurutnya, faktor-faktor tersebut memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap persepsi investor dibandingkan aksi demonstrasi.

"Pelemahan rupiah, tekanan inflasi, penurunan cadangan devisa, serta ketidakpastian arah kebijakan fiskal merupakan faktor yang lebih diperhatikan pasar. Kepercayaan investor pada akhirnya dibangun oleh kredibilitas kebijakan ekonomi, bukan oleh ada atau tidaknya aksi demonstrasi," jelasnya.

Editorial Team

Related Article