Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan dari sisi eksternal, pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh sinyal kebijakan moneter ketat dari Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Pada Sabtu lalu, salah satu Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan tidak akan ragu untuk mendukung kenaikan suku bunga jika ekspektasi inflasi menyimpang dari target yang ditentukan. Kemungkinan besar, pandangan ini sejalan dengan pejabat bank sentral lainnya.
"Kemudian Kevin Warsh sendiri sebagai Gubernur Bank Sentral Amerika, dia mengatakan ya bahwa tidak naif ya tentang tantangan yang dihadapinya. Kemungkinan besar Kevin Warsh akan menaikkan suku bunga kalau inflasi masih cukup tinggi," kata Ibrahim.
Walaupun Presiden AS Donald Trump tidak menyerukan penurunan suku bunga dalam kondisi saat ini, pasar membaca adanya potensi era suku bunga tinggi atau higher for longer masih akan bertahan hingga akhir 2026.
Di samping itu, ketidakpastian pasar diperkirakan terus berlanjut karena pekan ini diwarnai rilis data ekonomi penting AS.
"Salah satunya adalah tentang Produk Domestik Bruto kuartal pertama tahun 2026, kemudian data perumahan, kemudian indikator inflasi pilihan Fed, kemudian indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti," ujar Ibrahim.