- Bath Thailand menguat 0,04 persen
- Rupee India melemah 0,05 persen
- Pesso Filipina melemah 0,14 persen
- Won Korea memguat 4,22 persen
- Dolar Taiwan melemah 0,06 persen
Rupiah Menguat ke Rp17.896 per Dolar AS Usai Rilis Cadev

- Rupiah ditutup menguat 27 poin atau 0,15 persen ke level Rp17.896 per dolar AS pada perdagangan spot Jumat, 7 Agustus 2026.
- Penguatan rupiah ditopang sentimen positif ekonomi domestik yang tetap solid serta kembalinya aliran dana asing ke SBN dan pasar saham sepanjang Juli 2026.
- Penurunan tipis cadangan devisa Juli tidak menekan rupiah; dolar AS mendatar dan koreksi harga minyak turut meredakan kekhawatiran inflasi global serta kebutuhan devisa impor energi.
Jakarta, IDN Times - Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat pada Jumat (7/8/2026). Mata uang Garuda ditutup pada level Rp17.896 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 27 poin atau 0,15 persen dibandingkan penutupan kemarin.
1. Mata uang di Asia bergerak variatif
Mayoritas mata uang di Asia terpantau bergerak variatif, rinciannya:
2. Alasan rupiah ditutup menguat sore ini
Pengamat pasar uang, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah ditopang oleh membaiknya sentimen pasar terhadap perekonomian domestik, seiring dengan serangkaian data ekonomi yang dirilis dalam beberapa waktu terakhir yang menunjukkan kondisi yang tetap solid. Selain itu, kembalinya aliran dana asing ke pasar keuangan domestik, baik ke Surat Berharga Negara (SBN) maupun pasar saham sepanjang Juli 2026.
"Kondisi ini turut memberikan dukungan terhadap pergerakan rupiah," ujar Lukman.
3. Turun tipisnya cadangan devisa tidak beri tekanan ke nilai tukar rupiah
Sementara itu, data cadangan devisa (cadev) Indonesia yang hanya mencatat penurunan tipis pada Juli 2026 dinilai tidak memberikan tekanan berarti terhadap nilai tukar rupiah. Dari eksternal, pergerakan dolar AS cenderung mendatar karena pelaku pasar masih menunggu katalis baru.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia yang terkoreksi tipis turut meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan kebutuhan devisa untuk impor energi. Dengan kombinasi faktor domestik yang positif dan sentimen global yang relatif kondusif, pergerakan rupiah diperkirakan tetap stabil dalam jangka pendek, meski pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan data ekonomi Amerika Serikat dan arah kebijakan suku bunga bank sentral global.



















