Profil 4 BUMN yang Disebut Dony Oskaria Berpeluang IPO

- Dony Oskaria menyebut Pegadaian, Pupuk Indonesia, Pelindo, dan Angkasa Pura Indonesia berpeluang melantai di Bursa Efek Indonesia karena memiliki kapitalisasi pasar yang baik.
- Rencana IPO menjadi bagian peta jalan BUMN lima tahun ke depan untuk mendorong penciptaan nilai tambah di lingkungan perusahaan negara.
- Keempat BUMN bergerak di sektor gadai dan pembiayaan, pupuk-petrokimia, pengelolaan pelabuhan, serta operasional 37 bandara melalui InJourney Airports.
Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria membeberkan ada empat BUMN yang menurutnya memiliki kapitalisasi pasar yang bagus.
Keempat BUMN itu menurutnya berpeluang untuk melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia. Empat BUMN itu adalah PT Pegadaian (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, dan PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau API.
“Banyak perusahaan-perusahaan kita yang bagus, yang akan segera IPO. Contohnya masih ada Pegadaian, ada Pupuk Indonesia, banyak, ada Pelindo, ada Angkasa Pura, dan banyak sekali perusahaan-perusahaan yang memang itu secara market cap bagus untuk kita IPO-kan nanti,” ucap Dony.
Adapun IPO merupakan salah satu upaya mendorong penciptaan nilai tambah (value creation) di lingkup BUMN, dan masuk dalam peta jalan (road map) BUMN lima tahun ke depan.
Berikut profil keempat perusahaan tersebut.
1. Pegadaian

Pegadaian adalah BUMN yang menyediakan layanan pinjaman dana cepat dengan sistem gadai, investasi emas, serta pembiayaan usaha mikro. Sejarah Pegadaian dimulai sejak 1746, di masa pemerintahan Hindia Belanda. Kala itu, VOC mendirikan Bank Van Leening yang memberikan kredit dengan sistem gadai.
Pada 1811, Pemerintah Inggris mengambil alih bank tersebut, dan masyarakat diberi keleluasaan mendirikan usaha pergadaian. Lalu, pada 1901 pergadaian negara pertama berdiri di Sukabumi, Jawa Barat. Pada 1905, cikal bakal Pegadaian berdiri dengan nama JAWATAN, hingga seiring berjalannya waktu berubah menjadi Pegadaian berstatus Perseroan Terbatas (PT).
Pegadaian kini menjadi bagian dari Holding Ultra Mikro PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Sebanyak 99,99 persen saham seri B (Biasa) Pegadaian dimiliki BRI, dan 0,00002 persen dimiliki Pemerintah Republik Indonesia dalam bentuk saham seri A Dwiwarna.
2. Pupuk Indonesia
Sejarah Pupuk Indonesia dimulai sejak 1959, di mana kala itu berdiri PT Pupuk Sriwidjaja. Pada 1997-1998, Pupuk Sriwidjaja menjadi perusahaan induk yang membawahi lima anak usaha, yakni PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT), PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Kujang, PT Pupuk Iskandar Muda, dan PT Mega Eltra.
Pada 2010, PT Pupuk Sriwidjaja berubah fungsi menjadi Strategic and Investment Holding. Kala itu, didirikanlah PT Pupuk Sriwidjaja Palembang. Lalu, pada 2012, PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) berubah nama menjadi PT Pupuk Indonesia (Persero).
Saat ini, Pupuk Indonesia telah menjadi salah satu produsen pupuk terbesar di Asia. Perusahaan memproduksi beragam jenis pupuk seperti urea, NPK, SP36, ZA, dan lain-lain untuk kebutuhan pertanian, baik itu sektor pangan, perkebunan dan hortikultura.
Grup Pupuk Indonesia juga memproduksi dan memasarkan produk-produk petrokimia seperti amoniak, asam sulfat, asam fosfat dan lain sebagainya. Pupuk Indonesia memiliki 10 anak perusahaan. Adapun produknya dipasarkan di seluruh Indonesia. Perusahaan juga memenuhi kebutuhan urea dan amonia untuk pasar internasional. Selain itu, Pupuk Indonesia Group juga bergerak di bidang EPC, logistik, utilitas, perdagangan dan bisnis pangan.
3. Pelindo

PT Pelabuhan Indonesia (Persero) perusahaan yang bisnis utamanya mengelola pelabuhan. Namun, secara total perusahaan memiliki 13 tugas dan fungsi. Pelindo adalah gabungan dari PT Pelabuhan Indonesia I (Persero), PT Pelabuhan Indonesia II (Persero), PT Pelabuhan Indonesia III (Persero), dan PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero).
Pelindo I, III, dan IV dilebur ke PT Pelabuhan Indonesia II yang bertindak sebagai surviving entity. Adapun keputusan itu berlaku efektif sejak 2021. Pada 1 Oktober 2021, perusahaan resmi berganti nama menjadi PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo.
4. Angkasa Pura Indonesia

PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau disingkat API (InJourney Airports) adalah gabungan dari PT Angkasa Pura I (AP I) dan PT Angkasa Pura II (AP II). Angkasa Pura didirikan oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1962 dengan nama Perusahaan Negara (PN) Angkasa Pura Kemayoran.
Pada tanggal 20 Februari 1964, PN Angkasa Pura Kemayoran secara resmi mengambil alih seluruh aset dan operasional Bandara Kemayoran dari Kementerian Perhubungan dan diberi tanggung jawab mengelola bandara di wilayah tengah dan timur Indonesia.
Pada 1984, Pemerintah Indonesia mendirikan Perusahaan Umum (Perum) Bandar Udara Jakarta Cengkareng untuk mengelola Bandara Soekarno-Hatta. Pada tahun 1986, nama perusahaan ini berubah menjadi Perum Angkasa Pura II. Hal ini juga diikuti dengan perubahan nama Perum Angkasa Pura menjadi Perum Angkasa Pura I yang ditugaskan untuk mengelola bandara di kawasan timur Indonesia.
Pada tanggal 6 September 2024, PT Angkasa Pura Indonesia dibentuk di bawah bendera InJourney. Angkasa Pura Indonesia mengoperasikan sebanyak 37 bandara yang tersebar di wilayah barat, tengah, dan timur Indonesia; serta menjadi pengelola bandara terbesar nomor 5 di dunia.

















