Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cadangan Devisa Tertekan, Defisit Transaksi Berjalan Bakal Melebar

Cadangan Devisa Tertekan, Defisit Transaksi Berjalan Bakal Melebar
Ilustrasi Cadangan Devisa (IDN Times/Arief Rahmat)
Intinya Sih
  • Cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 turun menjadi 145,3 miliar dolar AS, tertekan sentimen risk-off global dan intervensi BI untuk menstabilkan rupiah.
  • Permintaan domestik yang tinggi diperkirakan mempercepat impor, sementara ekspor melambat akibat pelemahan permintaan global dan ketidakpastian geopolitik.
  • Defisit transaksi berjalan 2026 diproyeksikan melebar menjadi 1-2 persen PDB; arus modal asing juga rentan terhadap gejolak pasar dan perubahan prospek utang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Ekonom memproyeksikan posisi cadangan devisa Indonesia masih berada di bawah tekanan dalam beberapa waktu ke depan. Tekanan tersebut dipicu oleh berlanjutnya sentimen risk-off di pasar keuangan global serta langkah Bank Indonesia (BI) yang terus melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Adapun posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 mencapai 145,3 miliar dolar AS atau Rp2.615 triliun. Angka tersebut turun tipis dibandingkan posisi pada akhir Juni yang sebesar 145,6 miliar dolar AS.

Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman menilai prospek cadangan devisa ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik global serta arah pergerakan defisit kembar (twin deficits), yakni defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal Indonesia.

"Prospek cadangan devisa ke depan terutama akan bergantung pada perkembangan geopolitik dan arah pergerakan defisit kembar (twin deficits) Indonesia," ungkap Faisal saat dihubungi, Jumat (7/8/2026).

1. Defisit transaksi berjalan dan neraca dagang akan hadapi tekanan

Ilustrasi neraca perdagangan. (IDN Times/Mardya Shakti)
Ilustrasi neraca perdagangan. (IDN Times/Mardya Shakti)

Ia menjelaskan, risiko terhadap sektor eksternal juga dinilai masih meningkat. Dari sisi transaksi berjalan, neraca perdagangan Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan akibat agenda kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.

"Kebijakan tersebut diperkirakan akan menjaga permintaan domestik tetap tinggi sehingga mendorong pertumbuhan impor lebih cepat," ujar Faisal.

2. Transaksi berjalan diproyeksi melebar 2 persen terhadap PDB

Cadangan Devisa Tertekan, Defisit Transaksi Berjalan Bakal Melebar
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

Di sisi lain, pertumbuhan ekspor diperkirakan mulai melambat setelah lonjakan pengiriman pada awal tahun lalu yang dilakukan eksportir untuk mengantisipasi penerapan tarif timbal balik. Pelemahan permintaan global, terutama dari China, serta ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dan perang dagang global juga diperkirakan akan menekan kinerja ekspor Indonesia.

"Dengan kondisi tersebut, defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) diproyeksikan melebar menjadi sekitar 1,0 persen hingga 2,0 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026, naik dibandingkan realisasi 0,11 persen terhadap PDB pada 2025," ujarnya.

3. Aliran modal asing masih rentan terhadap gejolak global

ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt)
ilustrasi 100 dolar AS (pexels.com/Engin Akyurt)

Sementara itu, dari sisi transaksi finansial, arus masuk modal portofolio diperkirakan masih rentan terhadap gejolak global maupun domestik. Meski sentimen sempat membaik seiring penurunan harga minyak dunia setelah adanya kemajuan dalam negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, selera risiko investor dinilai masih rapuh.

"Arus masuk investasi di pasar saham berpotensi tertahan setelah MSCI memutuskan untuk kembali meninjau klasifikasi pasar Indonesia pada November 2026," ujarnya.

Sentimen di pasar obligasi domestik juga masih menghadapi tantangan. Hal itu menyusul revisi prospek utang Indonesia menjadi negatif oleh Moody's dan Fitch. Meski demikian, lembaga pemeringkat S&P masih mempertahankan prospek peringkat kredit Indonesia pada level stabil.

Kondisi tersebut membuat posisi cadangan devisa Indonesia diperkirakan masih akan bergantung pada kemampuan BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global dan meningkatnya risiko terhadap keseimbangan eksternal.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More