Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ekonom Beberkan Faktor Penyebab Turunnya Daya Saing RI ke Peringkat 48

Ekonom Beberkan Faktor Penyebab Turunnya Daya Saing RI ke Peringkat 48
ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)
Intinya Sih
  • Peringkat daya saing Indonesia turun dari posisi ke-40 menjadi ke-48 dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026 akibat kombinasi faktor global dan persoalan struktural domestik.
  • Masalah utama terletak pada kualitas institusi, efisiensi bisnis, serta kepastian regulasi yang masih lemah sehingga menurunkan daya tarik investasi meski pertumbuhan ekonomi tetap stabil.
  • Penurunan ini menjadi peringatan bagi pemerintah untuk memperkuat fondasi jangka panjang melalui reformasi kelembagaan, peningkatan SDM, kesehatan, pendidikan, dan percepatan transformasi digital.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Penurunan peringkat daya saing Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2026 dinilai tidak semata-mata dipengaruhi oleh ketidakpastian global, tetapi juga mencerminkan berbagai persoalan struktural yang masih membayangi perekonomian nasional.

Dalam laporan tersebut, peringkat daya saing Indonesia turun dari posisi ke-40 pada 2025 menjadi ke-48 pada 2026 dari total 70 negara yang disurvei.

Pengamat Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan faktor eksternal memang turut memberikan tekanan terhadap daya saing Indonesia.

"Penurunan peringkat daya saing Indonesia dalam IMD 2026 memang dipengaruhi oleh ketidakpastian global, mulai dari volatilitas geopolitik, tekanan inflasi, hingga pengetatan kondisi keuangan dunia. Namun, jika melihat detail laporannya, persoalan utamanya justru bersifat struktural," ujar Yusuf kepada IDN Times, Kamis (25/6/2026).

1. Ada masalah struktural berkaitan dengan kualitas, efisiensi bisnis

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Arief Rahmat)
ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Arief Rahmat)

Menurut Yusuf, kinerja ekonomi Indonesia sejatinya masih relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan inflasi berada pada level yang rendah. Namun, ada catatan masalah struktural yang mengalami penurunan cukup tajam, terutama yang berkaitan dengan kualitas institusi, efisiensi bisnis, dan infrastruktur pendukung.

"Artinya, selama ini pertumbuhan ekonomi yang baik cenderung menutupi kelemahan mendasar yang kini mulai terlihat lebih jelas," katanya.

Ia menilai berbagai reformasi yang telah dilakukan pemerintah belum sepenuhnya tercermin dalam peningkatan daya saing nasional. Bukan karena reformasi tersebut gagal, melainkan karena indikator daya saing global kini semakin menitikberatkan pada kualitas tata kelola, kepastian hukum, dan kemampuan institusi dalam menciptakan lingkungan usaha yang dapat diprediksi.

"Reformasi administratif dan penyederhanaan perizinan memang penting, tetapi tidak cukup jika belum diikuti penguatan kelembagaan yang konsisten," ujarnya.

2. Birokrasi dan kepastian regulasi masih jadi hambatan

ilustrasi ASN (Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi)
ilustrasi ASN (Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi)

Menurut Yusuf, lemahnya kualitas institusi tersebut juga dirasakan langsung oleh dunia usaha. Birokrasi dan kepastian regulasi masih menjadi tantangan utama bagi investor sebelum mempertimbangkan ukuran pasar maupun prospek pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Ketika kualitas institusi dan regulasi dinilai kurang kuat, biaya dan risiko berusaha meningkat sehingga daya tarik investasi Indonesia berpotensi kalah dibandingkan negara-negara pesaing.

Di sisi lain, Yusuf melihat adanya paradoks dalam perekonomian Indonesia. Meski pertumbuhan ekonomi masih cukup terjaga, efisiensi dunia usaha justru mengalami pelemahan.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir masih banyak ditopang oleh besarnya pasar domestik serta tingginya harga komoditas. Sementara itu, peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, dan kualitas manajemen perusahaan belum bergerak secepat laju pertumbuhan ekonomi.

"Ketika dukungan dari komoditas mulai berkurang, kelemahan tersebut menjadi lebih terlihat," jelasnya.

3. Penurunan peringkat daya saing jadi alarm bagi pemerintah

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (pixabay.com/Tumisu)
ilustrasi pertumbuhan ekonomi (pixabay.com/Tumisu)

Lebih lanjut, Yusuf menilai penurunan peringkat daya saing ini harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang. Upaya tersebut tidak hanya melalui perbaikan regulasi, tetapi juga investasi pada sumber daya manusia dan teknologi.

Ia menyoroti kualitas pendidikan, layanan kesehatan, serta infrastruktur digital yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Padahal, faktor-faktor tersebut merupakan penentu utama produktivitas dan daya saing ekonomi dalam jangka panjang.

Yusuf menegaskan perekonomian Indonesia saat ini masih memiliki daya tahan yang cukup baik. Namun, tanpa perbaikan kualitas institusi, kepastian regulasi, pendidikan, kesehatan, dan transformasi digital, kemampuan Indonesia dalam menarik investasi serta menciptakan lapangan kerja berkualitas berisiko tertinggal dari negara-negara pesaing, termasuk Vietnam.

"Dengan kata lain, mesin pertumbuhan masih berjalan, tetapi fondasinya perlu segera diperkuat agar pertumbuhan tersebut tetap berkelanjutan," pungkasnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi

Related Articles

See More