Tim Luhut Kaji Fenomena Anomali Ekonomi yang Disorot Prabowo

- Dewan Ekonomi Nasional di bawah Luhut Binsar Pandjaitan meneliti anomali ekonomi, di mana pertumbuhan nasional disertai peningkatan kemiskinan dan penyusutan kelas menengah akibat kenaikan harga barang.
- Luhut menekankan pentingnya efisiensi anggaran, koordinasi lintas sektor, serta pemanfaatan bonus demografi agar target Indonesia Emas 2045 tetap tercapai dengan dukungan teknologi buatan anak bangsa.
- Presiden Prabowo menyoroti ketimpangan hasil pertumbuhan ekonomi dan mengungkap indikasi kebocoran kekayaan negara yang hanya dinikmati segelintir pihak, sehingga pemerintah berkomitmen melakukan evaluasi menyeluruh.
Jakarta, IDN Times - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) telah melakukan kajian atas fenomena pertumbuhan ekonomi yang diiringi dengan peningkatan jumlah penduduk miskin serta penurunan kelas menengah di Indonesia.
Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan, fenomena bertambahnya angka kemiskinan tersebut kemungkinan besar dipicu oleh faktor kenaikan harga-harga barang. DEN sendiri telah mengantongi dan menghitung data terkait persoalan tersebut.
"Ya, itu terjadi bisa mungkin karena kenaikan harga. Kita ada datanya, saya enggak ingat. Nanti saya bisa jelaskan. Dewan Ekonomi sudah menghitung mengenai itu," kata Luhut kepada jurnalis di Kantor DEN, Jakarta, Rabu (24/6/2026).
1. Singgung efisiensi anggaran dan pemanfaatan sisa bonus demografi

Menanggapi ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi makro dan kondisi riil masyarakat, Luhut menekankan pentingnya aspek efisiensi dan ketepatan sasaran dalam setiap program kerja pemerintah.
Menurutnya, koordinasi dan kekompakan seluruh pihak menjadi kunci utama untuk mengantisipasi habisnya masa bonus demografi Indonesia yang diproyeksikan terjadi sepuluh tahun dari sekarang, demi menjaga peluang pencapaian target Indonesia Emas pada 2045.
"Apalagi dengan government technology ini akan pasti mengurangi korupsi dan ini teknologi dan semua ini dibuat anak-anak Indonesia," ujarnya.
2. Prabowo soroti anomali penyusutan kelas menengah

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyoroti ketidaksesuaian data dalam tujuh tahun terakhir, di mana ekonomi tumbuh 5 persen setiap tahunnya. Berdasarkan logika matematika tersebut, akumulasi pertumbuhan itu seharusnya membuat Indonesia menjadi jauh lebih kaya dari kondisi sebelumnya.
Namun, Prabowo mengaku merasa terpukul setelah mendapati laporan riil yang muncul dua bulan pasca-dirinya resmi menjabat sebagai Presiden. Dia menganggap hal tersebut sebagai sebuah anomali yang aneh.
"Kenyataan bahwa setelah tujuh tahun tumbuh 5 persen, masa penduduk miskin tambah? Negara tambah kaya, rakyat miskin tambah. Ini kan sesuatu yang aneh, yang anomali. Yang kelas menengah, yang sudah tadinya lepas dari kemiskinan, turun," ujar Prabowo.
Kondisi tersebut membuat Prabowo memperingatkan jajarannya untuk waspada, sebab pertumbuhan kekayaan negara tersebut ternyata hanya dinikmati secara sepihak oleh segelintir orang saja.
3. Pemerintah evaluasi kebocoran kekayaan negara

Prabowo mengungkapkan adanya indikasi hilangnya kekayaan negara dalam jumlah besar akibat kelemahan sistem terdahulu. Itu perlu dihadapi secara terbuka sebagai bentuk kelalaian bersama, bukan untuk mencari-cari kesalahan pihak tertentu.
"Tapi saya disumpah untuk menjaga kepentingan bangsa dan rakyat. Karena itu, saya harus melaksanakan yang terbaik yang bisa saya laksanakan, supaya saya tidak ingkar sumpah saya kepada bangsa dan rakyat," kata Prabowo.


















