Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Minyak Dunia Kembali di Atas 100 Dolar AS Dipicu Konflik Iran

Harga Minyak Dunia Kembali di Atas 100 Dolar AS Dipicu Konflik Iran
ilustrasi pabrik minyak (pexels.com/Zakelj)
Intinya Sih
  • Harga minyak mentah dunia menembus 100 dolar AS atau setara Rp1,8 juta per barel pertama kalinya dalam dua bulan.

  • Kenaikan Harga minyak dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah.

  • Minyak mentah Brent melonjak lebih dari 6 persen setelah mencatat kenaikan beruntun menyusul meningkatnya serangan militer AS terhadap Iran.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN TimesHarga minyak mentah dunia kembali menembus 100 dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp1,8 juta per barel untuk pertama kalinya dalam dua bulan. Kenaikan itu dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah yang memunculkan kekhawatiran terhadap terganggunya pasokan energi global. Sehari sebelumnya, harga minyak acuan masih berada di kisaran 95 dolar AS (setara Rp1,7 juta) per barel.

Berdasarkan laporan media, minyak mentah Brent melonjak lebih dari 6 persen setelah mencatat kenaikan beruntun menyusul meningkatnya serangan militer AS terhadap Iran. Lonjakan tersebut juga dipengaruhi serangan kelompok Houthi terhadap kapal tanker minyak di Laut Merah yang mengancam jalur ekspor utama Arab Saudi.

1. Serangan Houthi memicu kenaikan harga minyak

ilustrasi perang
ilustrasi perang (pexels.com/Mohammed Ibrahim)

Dalam keterangan resminya, dilaporkan The Guardian, kelompok Houthi menyatakan telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi, Encelia dan Layla, menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, serta drone hingga menyebabkan satu kapal terbakar. Kelompok tersebut juga menuduh awak kapal telah melanggar blokade laut yang mereka berlakukan di Laut Merah. Harga minyak kemudian terus meningkat setelah nota kesepahaman antara AS dan Iran gagal tercapai sehingga memicu kembali permusuhan di kawasan Teluk.

Harga minyak mentah Brent sebelumnya sempat melampaui 100 dolar AS (setara Rp1,8 juta) per barel pada Maret setelah serangan udara AS dan Israel ke Iran hampir menghentikan ekspor bahan bakar fosil dari Selat Hormuz. Nilainya kemudian mencapai puncak 126 dolar AS (setara Rp2,3 juta) per barel pada April. Setelah itu, harga turun ke bawah 100 dolar AS pada akhir Mei dan sempat menyentuh 71 dolar AS (setara Rp1,3 juta) per barel pada awal Juli.

2. Kegagalan gencatan senjata mendorong harga energi

ilustrasi bahan bakar fosil
ilustrasi bahan bakar fosil (pexels.com/cottonbro studio)

Data perkembangan pasar menunjukkan harga minyak sempat kembali ke level sebelum aksi militer pada 28 Februari 2026 setelah adanya gencatan senjata sementara. Harga kemudian kembali meningkat ketika kesepakatannya gagal.

Mengenai situasi itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa orang-orang yang memegang kendali di Iran belum siap untuk membuat kesepakatan, menurut laporan BBC.

Dampaknya juga terasa pada biaya energi di sejumlah negara. Di Inggris, harga gas naik menjadi sekitar 150 pence per therm dari 98 pence pada akhir Juni. Harga bensin turut meningkat 5 pence per liter dalam dua setengah minggu hingga mendekati 1,56 pound sterling Inggris (setara Rp37,2 ribu) per liter, sedangkan harga solar rata-rata mencapai 1,72 pound sterling Inggris (setara Rp41 ribu) per liter berdasarkan data organisasi otomotif RAC.

3. Kenaikan harga energi membebani inflasi

ilustrasi Federal Reserve
ilustrasi Federal Reserve (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Di AS, menurut kelompok advokasi pengendara AAA, harga bensin rata-rata naik menjadi lebih dari 4 dolar AS (setara Rp71,9 ribu) per galon dari 3,92 dolar AS (setara Rp70,4 ribu) pada bulan sebelumnya. Kenaikan harga minyak juga berpotensi meningkatkan biaya berbagai kebutuhan, termasuk makanan, karena ongkos distribusi ikut bertambah. Ketua Bank Sentral AS (The Fed), Kevin Warsh, menyampaikan kepada Kongres bahwa bank sentral tidak memiliki toleransi terhadap inflasi yang terus meningkat, sebagaimana diberitakan BBC.

Sebelum menunjuk Warsh, Presiden AS Donald Trump meminta pendahulunya, Jerome Powell, memangkas suku bunga dan berharap ketua baru dapat menurunkan biaya pinjaman publik. Pada pertemuan pertamanya bulan lalu, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga AS di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen, sementara Warsh menegaskan komitmennya untuk mengembalikan stabilitas harga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More