Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ekonom Soroti Program Strategis Prabowo Belum Tentu Capai Target
Ngobrol Seru di IDN Times: Mengulik Pidato Tahunan Presiden Prabowo, RUU APBN, dan Nota Keuangan. (IDN Times/Jujuk Erna)
  • Ekonom CELIOS Nailul Huda menilai capaian program strategis Prabowo, termasuk Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, harus diuji lewat kondisi lapangan, bukan sekadar klaim pemerintah.
  • Target defisit APBN 2027 sebesar 1,8–2,4 persen dinilai bergantung pada pengendalian belanja negara, karena tax ratio masih sekitar 9,8–10 persen dan penerimaan belum optimal.
  • Klaim penyerapan 2,7 juta tenaga kerja perlu ditelaah lebih lanjut karena kenaikan jumlah pekerja disebut banyak berasal dari sektor informal, seperti pengemudi ojek online dan pedagang keliling.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Jumat

Nailul Huda menilai klaim keberhasilan program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih belum optimal serta perlu dibandingkan dengan kondisi lapangan. Ia juga menyoroti dominasi sektor informal dalam klaim penyerapan 2,7 juta tenaga kerja.

2027

Target defisit APBN sebesar 1,8 hingga 2,4 persen dinilai bergantung pada pengendalian belanja negara karena penerimaan dan tax ratio belum optimal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Ekonom CELIOS menilai sejumlah program strategis Presiden Prabowo Subianto, termasuk Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, target pertumbuhan ekonomi, dan defisit APBN 2027, belum tentu mencapai sasaran pemerintah.
  • Who?
    Direktur Ekonomi Digital CELIOS Nailul Huda menyoroti klaim pemerintah mengenai program-program tersebut dan penyerapan tenaga kerja 2,7 juta orang pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan dalam acara Ngobrol Seru IDN Times bertema “Pidato Tahunan Presiden Prabowo, RUU APBN dan Nota Keuangan” di Jakarta.
  • When?
    Nailul Huda menyampaikan penilaiannya pada Jumat, 14 Agustus 2026.
  • Why?
    Menurut Nailul, pelaksanaan MBG dan Koperasi Desa Merah Putih masih menghadapi persoalan, penerimaan negara belum optimal, tax ratio sekitar 9,8–10 persen, serta penyerapan kerja dinilai banyak berasal dari sektor informal.
  • How?
    Pencapaian target dinilai bergantung pada eksekusi program, pengendalian belanja negara untuk mencapai defisit APBN 2027 sebesar 1,8–2,4 persen, dan kemampuan pemerintah mempertahankan sumber pertumbuhan ekonomi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Seorang ekonom bernama Nailul Huda bilang program Presiden Prabowo belum tentu berhasil sesuai target. Ia melihat Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa masih punya masalah. Ia juga bilang uang negara harus dijaga. Banyak dari 2,7 juta pekerjaan baru adalah kerja tidak tetap, seperti ojek online dan jualan kopi keliling.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sorotan ekonom terhadap program strategis pemerintah membuka ruang evaluasi yang lebih terukur, dengan menempatkan kondisi lapangan, kualitas penyerapan kerja, dan pengendalian belanja sebagai ukuran penting. Perhatian pada MBG, koperasi desa, penerimaan negara, serta defisit APBN menunjukkan bahwa pelaksanaan program dapat dinilai secara lebih transparan daripada sekadar melalui klaim keberhasilan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sejumlah program strategis yang diusung pada masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dinilai belum tentu mencapai target sebagaimana yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Direktur Ekonomi Digital lembaga kajian Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda menilai pencapaian program tidak dapat dilihat hanya dari klaim pemerintah, akan tetapi perlunya ada perbandingan dengan kondisi nyata di lapangan.

Nailul Huda menyoroti program yang mencakup Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, pertumbuhan ekonomi, hingga target defisit APBN 2027. Hal itu ia sampaikan dalam acara Ngobrol Seru IDN Times dengan topik "Pidato Tahunan Presiden Prabowo, RUU APBN dan Nota Keuangan" pada Jumat (14/8/26).

1. Klaim keberhasilan program dinilai belum optimal

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya saat Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR Tahun Sidang 2026-2027 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Nailul Huda menilai bahwa pemerintah harus berhati-hati dalam mengklaim keberhasilah suatu program. Ia menyoroti MBG dan Koperasi Desa Merah Putih yang menurutnya masih memiliki sejumlah persoalan dalam pelaksanaan.

Ia bahkan menilai persoalan korupsi tidak hanya terjadi di daerah, tetapi juga berpotensi muncul dalam program pemerintah pusat.

"Nah inilah yang memang kita sesalkan ketika pemerintah itu klaim berhasil terkait dengan MBG, terkait dengan KDKMP, tapi pada kenyataannya itu tidak bisa kita bilang ya, tidak optimal juga gitu," ujarnya.

2. Target defisit APBN 2027 tergantung pada pengendalian belanja

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan dalam rangka Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya saat Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR Tahun Sidang 2026-2027 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026). (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Target defisit APBN 2027 sebesar 1,8 hingga 2,4 persen turut menjadi perhatian. Nailul menilai target tersebut membutuhkan kebijakan yang lebih ketat. Ia menyebut tax ratio masih berkutat di kisaran 9,8 hingga 10 persen. Dengan kondisi penerimaan yang belum optimal, pemerintah dinilai sangat perlu mengendalikan belanja negara.

"Nah kemudian kalau kita lihat dengan kinerja penerimaan yang belum optimal, tentu seharusnya pemerintah harus mengerem dari sisi belajaran negara yang tidak semestinya dilakukan dengan secara masif.," katanya.

Dengan berbagai catatan tersebut, ekonom menilai pencapaian target program strategis Prabowo masih sangat bergantung pada bagaimana program tersebut dieksekusi dan apakah pemerintah mampu mempertahankan sumber pertumbuhan ekonomi pada tahun berikutnya.

3. Penyerapan tenaga kerja 2,7 juta masih banyak dari sektor informal

Ilustrasi Tenaga Kerja Indonesia (IDN Times/Galih Persiana)

Nailul menjelaskan bahwa pidato Prabowo mengenai penyerapan tenaga kerja perlu dilihat lebih jauh. Ia mengakui jumlah orang yang bekerja saat ini meningkat, akan tetapi ia melihat kenaikan tersebut berasal dari pekerja informal.

"Kemarin saya diwawancara juga terkait dengan ojek online, terkait dengan orang yang menggayuh jualan kopi keliling. Itu disebut sebagai pekerja mandiri dan itu disebut sebagai pekerja juga. Makanya inilah yang kita sebutkan klaim-klaim Pak Prabowo yang dia 2,7 juta. Ternyata itu diserapnya adalah sektor-sektor yang informal," ungkapnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article