Ekonomi E-Shaped: Si Kaya makin Kaya, Kelas Menengah Mulai Goyah

- Kelompok kaya meningkatkan belanja, kelompok rendah tertahan, kelas menengah stagnan.
- Kelas menengah kehilangan kekuatan konsumsi dan bisa tertekan.
- Kelompok kaya gaji naik cepat, kelas menengah lambat.
- Kelas menengah rentan secara ekonomi karena harga kebutuhan pokok meningkat.
- Ketimpangan kekayaan makin sulit dikejar.
Selama beberapa tahun terakhir, kamu mungkin sering mendengar istilah ekonomi berbentuk K untuk menggambarkan jarak antara si kaya dan si miskin. Sekarang, pola itu mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dan mengkhawatirkan.
Para ekonom melihat munculnya konsep baru bernama ekonomi E-shaped, di mana kelas menengah ikut terdorong menjauh dari dua sisi lainnya. Posisi mereka gak sekuat kelompok kaya, tapi juga gak separah kelompok miskin.
Kondisi ini membuat ketimpangan ekonomi terasa makin berlapis. Supaya kamu lebih paham dampaknya, yuk bahas fenomena ekonomi E-shaped lewat poin-poin berikut.
1. Perbedaan daya beli makin terlihat jelas

Dilansir Fortune, para ekonom dari Bank of America menilai bahwa pola pengeluaran masyarakat kini gak lagi membentuk huruf K. Kelompok berpenghasilan tinggi masih mampu meningkatkan belanja, sementara kelompok berpenghasilan rendah justru semakin tertahan. Kelas menengah berada di posisi tengah dengan pertumbuhan belanja yang sangat tipis. Situasi ini menciptakan jarak baru antara tiga lapisan ekonomi sekaligus.
Data internal Bank of America menunjukkan bahwa pertumbuhan belanja kelompok kaya jauh lebih tinggi dibanding kelompok lain. Kelompok berpenghasilan rendah hanya mengalami kenaikan kecil, sedangkan kelas menengah nyaris stagnan. Para ekonom melihat kondisi ini sebagai tanda bahwa kelas menengah mulai kehilangan kekuatan konsumsi. Jika dibiarkan, posisi mereka bisa semakin tertekan dalam beberapa tahun ke depan.
2. Pertumbuhan gaji gak seimbang antar kelompok

Tim ekonom Bank of America juga menyoroti perbedaan pertumbuhan gaji setelah pajak. Kelompok berpenghasilan tinggi menikmati kenaikan upah yang jauh lebih cepat dibanding kelas menengah. Para ekonom menyebut jarak pertumbuhan ini sebagai yang terlebar dalam hampir lima tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi gak dirasakan secara merata.
Kelas menengah hanya menerima kenaikan gaji kecil, sementara harga kebutuhan pokok terus meningkat. Kondisi tersebut membuat banyak keluarga harus menahan pengeluaran dan menunda rencana finansial. Tabungan menjadi lebih sulit dikumpulkan, bahkan sebagian mulai mengandalkan kartu kredit untuk menutup kebutuhan bulanan. Tekanan ini membuat kelas menengah semakin rentan secara ekonomi.
3. Ketimpangan kekayaan makin sulit dikejar

Pemantauan distribusi kekayaan oleh Federal Reserve menunjukkan bahwa jurang kekayaan sudah terbentuk sejak lebih dari satu dekade lalu. Kelompok 0,1 persen teratas menguasai aset dalam jumlah sangat besar dibanding 50 persen terbawah. Meskipun kelompok bawah mengalami pertumbuhan kekayaan, selisihnya masih sangat jauh dari kelompok terkaya. Para ekonom menilai bahwa kesenjangan ini semakin mengakar seiring waktu.
Dalam beberapa tahun terakhir, kekayaan kelompok terkaya tumbuh ratusan persen lebih cepat dibanding kelompok bawah. Kelas menengah berada di tengah tekanan karena sulit mengejar kenaikan aset seperti rumah atau investasi. Harga properti dan saham meningkat lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan mereka. Situasi ini membuat mobilitas ekonomi terasa semakin berat bagi generasi sekarang.
4. Utang dan risiko finansial terkonsentrasi di kelompok tertentu

Laporan dari Federal Reserve Bank of New York menunjukkan bahwa masalah keterlambatan pembayaran utang banyak terjadi di wilayah berpenghasilan rendah. Risiko ini juga meningkat di daerah dengan harga rumah yang menurun. Para ahli menilai bahwa tekanan ekonomi paling terasa di lapisan bawah, terutama untuk pinjaman rumah dan pinjaman pendidikan.
Meski begitu, secara umum tingkat utang masih relatif stabil karena sebagian masyarakat mulai lebih berhati-hati. Banyak rumah tangga berusaha melunasi kartu kredit secara penuh setiap bulan. Kebiasaan ini meningkat di hampir semua kelompok usia dan pendapatan. Perubahan perilaku tersebut mencerminkan kekhawatiran akan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya aman.
5. Pola belanja berubah menjadi lebih hemat

Bank of America mencatat adanya fenomena “trading-down” dalam kebiasaan belanja masyarakat. Konsumen kini lebih sering memilih toko dengan harga terjangkau dibanding toko premium. Pertumbuhan belanja di toko murah jauh lebih tinggi selama beberapa tahun terakhir. Para ekonom menilai hal ini sebagai strategi bertahan di tengah inflasi.
Kelas menengah dan kelas atas mulai menunjukkan pola belanja yang semakin mendekat karena sama-sama menahan pengeluaran di tengah tekanan harga. Namun, kelompok berpenghasilan rendah tetap mencatat pertumbuhan belanja tertinggi di toko murah. Hal ini menunjukkan bahwa kelas menengah mulai mengubah kebiasaan belanjanya ke arah yang lebih hemat, meski belum sedalam kelompok bawah. Jika pendapatan tidak segera membaik, strategi berhemat ini bisa berubah dari pilihan menjadi keharusan.
Ekonomi E-shaped menggambarkan bahwa ketimpangan kini gak hanya terjadi antara si kaya dan si miskin, tapi juga melibatkan kelas menengah. Analisis dari Bank of America, Federal Reserve, dan Federal Reserve Bank of New York menunjukkan bahwa perbedaan belanja, upah, dan kekayaan semakin melebar. Para ekonom menilai kondisi ini sebagai sinyal bahwa stabilitas ekonomi membutuhkan perhatian serius.
Untuk kamu yang berada di kelas menengah, fenomena ini menjadi pengingat penting untuk mengelola keuangan dengan lebih hati-hati. Dengan memahami arah perubahan ekonomi, kamu bisa lebih siap menghadapi tantangan finansial di masa depan.


















