Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ekspor Mobil Korsel Turun 5,5 Persen Imbas Ketegangan Timur Tengah

3 min read
Ekspor Mobil Korsel Turun 5,5 Persen Imbas Ketegangan Timur Tengah
ilustrasi ekspor mobil (pexels.com/abdo alshreef)
  • Nilai ekspor otomotif Korea Selatan turun 5,5 persen secara tahunan menjadi 6,05 miliar dolar AS pada September 2026, dipengaruhi ketegangan Timur Tengah dan pengetatan regulasi mobil bekas.
  • Ekspor ke Asia anjlok 60 persen dan Timur Tengah turun 7,1 persen, sementara Amerika Utara naik 9,2 persen serta Uni Eropa tumbuh 15,3 persen.
  • Ekspor kendaraan ramah lingkungan naik 5,9 persen, produksi lokal bertambah 3,7 persen, tetapi penjualan domestik turun 14,3 persen akibat berkurangnya hari kerja selama libur Chuseok.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Nilai ekspor otomotif Korea Selatan (Korsel) mengalami penurunan sebesar 5,5 persen secara tahunan pada September 2026. Penurunan nilai pengiriman ke luar negeri ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah dan berkurangnya ekspor mobil bekas akibat pengetatan regulasi di pasar-pasar ekspor utama.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Korsel yang dirilis pada Senin (19/10/2026), total nilai ekspor otomotif mencapai 6,05 miliar dolar AS atau setara Rp109,13 triliun. Nilai tersebut tercatat lebih rendah dibandingkan capaian pada September tahun sebelumnya yang mencapai 6,4 miliar dolar AS atau setara Rp115,44 triliun.

  1. 1. Kontraksi pengiriman ke Asia dan kawasan Timur Tengah

    ilustrasi pengiriman mobil
    ilustrasi pengiriman mobil (pexels.com/Julien Goettelmann)

    Nilai ekspor otomotif Korsel ke pasar Asia mengalami penurunan sebesar 60,0 persen menjadi 329 juta dolar AS atau setara Rp5,93 triliun pada September 2026. Selain wilayah Asia, nilai pengiriman unit ke kawasan Timur Tengah juga turun sebesar 7,1 persen menjadi 354 juta dolar AS atau setara Rp6,39 triliun. Pelemahan di kedua kawasan tersebut turut menekan kinerja total ekspor kendaraan Korsel.

    Sebaliknya, ekspor kendaraan Korsel ke kawasan Amerika Utara mencatatkan kenaikan sebesar 9,2 persen menjadi 3,07 miliar dolar AS atau setara Rp55,38 triliun. Pengiriman ke kawasan Uni Eropa juga tumbuh sebesar 15,3 persen hingga mencapai nilai 1,11 miliar dolar AS atau setara Rp20,02 triliun.

    Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Korsel memaparkan faktor eksternal yang membebani kinerja ekspor tersebut. "Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan penurunan pengiriman mobil bekas akibat pengetatan regulasi di pasar ekspor utama membebani ekspor," kata pihak kementerian seperti dikutip The Korea Times.

  2. 2. Pengapalan kendaraan ramah lingkungan tetap tumbuh

    ilustrasi mobil listrik
    ilustrasi mobil listrik (unsplash.com/Charlie Deets)

    Di tengah penurunan nilai ekspor secara total, kategori kendaraan ramah lingkungan Korsel membukukan kenaikan nilai pengapalan sebesar 5,9 persen secara tahunan menjadi 2,89 miliar dolar AS atau setara Rp52,13 triliun pada September 2026. Kategori ramah lingkungan ini mencakup mobil listrik, kendaraan listrik sel bahan bakar, serta model hybrid dan plug-in hybrid.

    Secara volume unit, Korsel mengapalkan sebanyak 237.443 unit kendaraan ke luar negeri pada September 2026, naik 4,1 persen dibanding bulan yang sama tahun lalu. Namun, nilai pengiriman komponen suku cadang kendaraan mengalami penurunan sebesar 7,2 persen menjadi 1,77 miliar dolar AS atau setara Rp31,93 triliun.

  3. 3. Produksi lokal meningkat meski penjualan domestik turun

    ilustrasi pabrik perakitan mobil
    ilustrasi pabrik perakitan mobil (pexels.com/Hyundai Motor Group)

    Aktivitas perakitan mobil di pabrik-pabrik lokal Korsel mencatat kenaikan produksi sebesar 3,7 persen secara tahunan menjadi 346.618 unit pada bulan lalu. Kenaikan operasional ini dilakukan produsen mobil lokal untuk mengejar kehilangan volume produksi sebelumnya usai menyelesaikan negosiasi upah tahunan dengan serikat buruh.

    Di sisi lain, angka penjualan kendaraan di pasar domestik Korsel turun 14,3 persen secara tahunan menjadi 135.396 unit pada September 2026. Dilansir Xinhua, penurunan penjualan domestik ini dipicu oleh berkurangnya hari kerja efektif akibat libur Chuseok yang jatuh pada September tahun ini, berbeda dari tahun lalu yang berlangsung pada Oktober.

    Pemerintah Korsel menyatakan rencananya untuk mendukung pertumbuhan industri otomotif secara berkelanjutan dengan menjalin komunikasi erat bersama pihak industri. Langkah tersebut disiapkan seiring dengan meningkatnya persaingan dari produsen mobil asal China.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More