Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Filipina Minta Izin AS untuk Impor Minyak Rusia demi Atasi Krisis Energi
Bendera Filipina (unsplash.com/iSawRed)
  • Pemerintah Filipina resmi meminta izin khusus dari AS untuk melanjutkan impor minyak Rusia guna mengatasi krisis energi akibat terganggunya pasokan global dan blokade di Selat Hormuz.
  • Krisis pasokan menyebabkan pembatalan jutaan barel kiriman minyak, memaksa kilang Petron di Bataan mengandalkan cadangan minyak Rusia agar produksi bahan bakar nasional tetap berjalan.
  • Selain menunggu izin impor dari AS, Filipina juga menjajaki kerja sama energi dengan Kolombia, Argentina, Brunei, India, Kanada, dan AS demi diversifikasi sumber pasokan jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Filipina pada Selasa (14/4/2026), secara resmi mengumumkan langkah diplomatik untuk meminta izin khusus dari Amerika Serikat (AS) agar dapat melanjutkan pembelian minyak mentah dari Rusia. Langkah ini diambil sebagai strategi darurat untuk mengamankan stok energi nasional yang berkurang akibat terganggunya jalur pasokan global di tengah ketegangan militer di Timur Tengah.

Krisis energi yang melanda Manila saat ini dipicu oleh blokade di Selat Hormuz yang menghambat distribusi minyak mentah ke berbagai negara importir di kawasan Asia Tenggara. Pemerintah Filipina berupaya memastikan ketersediaan bahan bakar domestik tetap terjaga guna mencegah gangguan serius pada sektor transportasi dan industri nasional yang sangat bergantung pada pasokan energi luar negeri.

1. Permohonan dispensasi sanksi

Menteri Energi Filipina, Sharon Garin menyatakan, pemerintah telah mengirimkan permohonan resmi kepada AS untuk mendapatkan dispensasi terkait pembelian minyak dari Rusia. Koordinasi intensif telah dilakukan dengan Departemen Luar Negeri Filipina guna membuka celah kebijakan baru agar pengiriman minyak mentah yang terkena sanksi internasional dapat tetap masuk ke pelabuhan Manila secara legal.

Pemerintah Filipina merasa perlu memperpanjang masa berlaku pengecualian sanksi yang sebelumnya telah berakhir pada 11 April 2026 untuk menstabilkan pasar energi domestik yang fluktuatif.

"Kami telah berkomunikasi dengan Departemen Luar Negeri AS untuk meminta perpanjangan pengecualian sanksi, dan kami sangat optimistis dengan respons tersebut," kata Menteri Energi Sharon Garin, dilansir Channel News Asia.

Duta Besar Filipina untuk AS, Jose Manuel Romualdez menambahkan, Manila sedang bekerja keras memberikan rincian data yang diperlukan oleh Departemen Keuangan dan Departemen Luar Negeri AS. Informasi mengenai kuantitas minyak dan durasi waktu impor menjadi poin krusial dalam negosiasi diplomatik ini.

"Kemungkinan besar izin akan diberikan. Kami hanya perlu memberikan data mengenai jumlah dan durasi impor kepada Departemen Luar Negeri dan Departemen Keuangan AS," ungkap Romualdez.

Pemerintah AS sebelumnya telah memberikan pelonggaran sanksi selama 30 hari untuk pembelian minyak Rusia guna menyeimbangkan pasar energi global yang terganggu oleh konflik yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran. Kebijakan tersebut memungkinkan negara-negara yang bergantung pada impor untuk tetap mendapatkan pasokan bahan bakar.

Garin menjelaskan, permohonan ini merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah untuk melindungi rakyat dari dampak ekonomi akibat lonjakan harga energi dunia. Pihaknya terus memantau perkembangan di Washington untuk memastikan tidak ada kekosongan stok yang dapat menimbulkan kekhawatiran di kalangan konsumen di Filipina.

2. Krisis pasokan akibat blokade Selat Hormuz

citra satelit Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Blokade di Selat Hormuz oleh kekuatan militer Iran dan respons angkatan laut AS telah menyebabkan setidaknya empat juta barel kiriman minyak untuk Filipina dibatalkan. Gangguan distribusi ini berdampak langsung pada operasional kilang minyak Petron Corp di Bataan, satu-satunya fasilitas pengolahan minyak mentah di Filipina.

Di tengah krisis pasokan, kilang Petron berhasil mengamankan sekitar 2,5 juta barel minyak mentah Rusia pada bulan Maret untuk menjaga kelangsungan produksi bahan bakar. Pihak manajemen Petron menyatakan pembelian ini dilakukan untuk mencegah penghentian operasional kilang yang akan berdampak signifikan bagi ekonomi Filipina. Ketergantungan Filipina terhadap pasokan Timur Tengah mencapai 90 persen, di mana 30 persennya harus melewati Selat Hormuz.

"Departemen Energi melihat bahwa masalah pasokan ini bukan hanya untuk hari ini, minggu depan, atau bulan depan, melainkan berpotensi menjadi tantangan jangka panjang," kata Sharon Garin, dilansir Dawn.

3. Upaya diversifikasi sumber energi

Selain meminta izin untuk minyak Rusia, Filipina juga menjajaki kerja sama dengan produsen minyak di Amerika Selatan seperti Kolombia dan Argentina. Hal ini krusial agar Filipina tidak bergantung pada satu kawasan yang rentan konflik seperti Timur Tengah.

"Kami ingin mempertahankan opsi impor dari Rusia agar memiliki lebih banyak pilihan. Diversifikasi pasokan diperlukan supaya kita tidak bergantung pada satu negara saja," kata Garin.

Pemerintah juga mempertimbangkan peningkatan impor bahan bakar olahan dari negara tetangga seperti Brunei dan India, meski biayanya lebih mahal. Departemen Energi juga melirik potensi pasokan dari Kanada dan AS, yang diklaim masih bisa diolah oleh kilang Petron.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team