Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Filipina Batasi Harga Beras Impor akibat Lonjakan Biaya Energi

Filipina Batasi Harga Beras Impor akibat Lonjakan Biaya Energi
ilustrasi beras (pexels.com/Justin Brinkhoff)
Intinya Sih
  • Pemerintah Filipina menetapkan batas harga beras impor 50 peso per kilogram untuk menjaga stabilitas ekonomi akibat lonjakan biaya energi dan logistik imbas konflik di Timur Tengah.
  • Kebijakan harga ini bertujuan mencegah spekulasi pasar serta memastikan akses pangan terjangkau tanpa merugikan petani lokal yang tengah memasuki masa panen raya.
  • Pemerintah menyiapkan dana bantuan darurat 20 miliar peso bagi petani dan nelayan, termasuk subsidi bahan bakar dan pupuk, guna menjaga produksi pangan selama krisis energi berlangsung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Filipina melalui Dewan Koordinasi Harga Nasional resmi merekomendasikan penerapan batas harga untuk beras impor. Langkah darurat ini diambil guna menjaga stabilitas ekonomi domestik menyusul konflik bersenjata di Timur Tengah yang mengganggu pasokan minyak dunia dan menaikkan biaya logistik internasional.

Kebijakan ini mengusulkan harga maksimal 50 peso Filipina (Rp14 ribu) per kilogram untuk beras impor dengan kadar butir patah 5 persen selama 30 hari. Saat ini, usulan tersebut telah mendapat dukungan instansi terkait dan menunggu pengesahan resmi dari Presiden Ferdinand Marcos Jr. melalui perintah eksekutif.

1. Konflik di Timur Tengah picu krisis minyak dan kenaikan biaya logistik

ilustrasi BBM
ilustrasi BBM (unsplash.com/engin akyurt)

Ketegangan militer di Timur Tengah menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur strategis bagi 20 persen pasokan minyak mentah dunia. Hal ini memicu krisis energi di Filipina, mengingat 98 persen impor minyak negara tersebut bergantung pada kawasan Timur Tengah.

Presiden Marcos Jr. telah menetapkan status darurat energi nasional pada 24 Maret 2026. Harga bahan bakar diesel diperkirakan melonjak hingga melampaui 130 peso Filipina (Rp36,48 ribu) per liter. Dampaknya, tarif angkut pengiriman beras dari Vietnam naik dua kali lipat, dari 20 dolar AS (Rp339,57 ribu) menjadi 40 dolar AS (Rp679,14 ribu) per metrik ton.

"Gangguan yang terus berlanjut di Selat Hormuz mendorong harga minyak lebih tinggi. Kondisi ini meningkatkan tarif angkutan dan biaya input pertanian esensial, termasuk pupuk dan bahan bakar di seluruh pelosok negeri," ujar Menteri Pertanian Filipina, Francisco Tiu Laurel Jr, dilansir Time.

Krisis ini juga diperburuk oleh melemahnya nilai tukar peso Filipina yang menyentuh rekor terendah 60,30 terhadap dolar AS pada 23 Maret 2026. Selain sektor pangan, industri penerbangan seperti Cebu Pacific dan Philippine Airlines mulai menangguhkan penerbangan untuk menghemat bahan bakar. Saat ini, cadangan minyak nasional menyusut menjadi 45 hari, yang mengakibatkan penutupan 425 SPBU.

Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah berupaya mengamankan 700 ribu barel minyak dari Rusia melalui mekanisme pengecualian sanksi. Intervensi harga beras dinilai krusial karena komoditas ini mencakup sepersepuluh pengeluaran rumah tangga warga Filipina.

2. Aturan harga beras Rp14 ribu untuk cegah spekulasi pasar

ilustrasi beras (vecteezy.com/Surya Saputra Hutagalung)
ilustrasi beras (vecteezy.com/Surya Saputra Hutagalung)

Batas harga beras Rp14 ribu per kilogram ditetapkan berdasarkan perhitungan harga internasional, biaya logistik, dan nilai tukar mata uang. Berlandaskan Undang-Undang Harga (Republic Act No. 7581), aturan ini bertujuan mencegah penimbunan dan lonjakan harga yang tidak wajar selama masa darurat.

"Batas harga yang diusulkan didasarkan pada harga internasional, biaya pengiriman, dan nilai tukar saat ini untuk memastikan pangan tetap terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah," kata Asisten Menteri Pertanian, Arnel de Mesa.

Pemerintah menjamin kebijakan ini hanya berlaku untuk beras impor agar tidak merugikan petani lokal yang sedang memasuki masa panen raya pada Maret hingga April. Gugus tugas khusus juga dibentuk untuk memantau harga pupuk urea dan NPK yang ikut naik akibat konflik global.

"Meskipun harga kebutuhan pokok saat ini masih stabil, batas harga tetap diperlukan sebagai langkah antisipasi terhadap spekulasi harga di masa mendatang," kata Menteri Perdagangan Cristina Roque, dilansir Manila Standard.

Danilo V. Fausto, Presiden Kamar Pertanian dan Pangan Filipina Inc., menilai kebijakan ini menguntungkan konsumen tanpa mengganggu harga beli gabah petani, sekaligus dapat mengurangi ketergantungan pada impor.

3. Pemerintah salurkan subsidi bagi petani dan nelayan

ilustrasi petani (unsplash.com/Eduardo Prim)
ilustrasi petani (unsplash.com/Eduardo Prim)

Guna meringankan beban operasional, pemerintah menyiapkan dana bantuan darurat sebesar 20 miliar peso Filipina (Rp5,61 triliun). Sebanyak 1 miliar peso Filipina (Rp280,68 miliar) dialokasikan khusus melalui Departemen Pertanian untuk subsidi bahan bakar nelayan dan bantuan pupuk bagi petani.

Setiap penerima akan mendapatkan bantuan tunai sebesar 2.300 peso Filipina (Rp645,57 ribu) yang didistribusikan mulai awal April melalui kartu kredit khusus. Bantuan ini diharapkan menjaga modal kerja produsen pangan di tengah mahalnya harga bahan bakar.

Sebagai strategi jangka panjang, pemerintah sedang mempertimbangkan penangguhan PPN bahan bakar dan penguatan kerja sama antarnegara (G2G) untuk pengadaan bahan pertanian murah. Pemerintah optimistis bantuan langsung dan kebijakan batas harga ini dapat membantu masyarakat melewati masa kritis selama 30 hari ke depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More