Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (18/6/2026). (IDN Times/Trio Hamdani)
Amran menyebut, beras bukan lagi penyumbang inflasi utama. Ini sudah terjadi dua tahun berturut-turut. Adapun tingkat inflasi beras Indonesia secara bulanan sudah melandai dalam 2 tahun terakhir. Inflasi beras yang terakhir cukup tinggi pernah terjadi pada Mei 2024 di 3,59 persen.
Setelah itu, inflasi beras lebih stabil. Inflasi beras sempat berfluktuasi pada Juli 2025, tapi hanya 1,35 persen saja. Terbaru, inflasi beras di Mei 2026 berada di 0,38 persen.
Meskipun inflasi beras cukup rendah sampai saat ini, namun tidak menjadikan kondisi petani Indonesia tertekan. FAO dalam laporan terbarunya mengemukakan, harga produsen yang stabil di beberapa negara berhasil mendorong keinginan petani untuk lebih memilih menanam padi dibandingkan tanaman lain.
FAO menyebut hal tersebut terjadi di Indonesia, Korea Selatan, Pakistan, dan Filipina. Kondisi ideal tersebut punya andil positif terhadap peningkatan panen. Di sisi lain terdapat negara yang dilaporkan FAO mengalami penurunan produksi beras, antara lain Kamboja, India, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, dan Thailand.
Adapun indeks harga petani padi Indonesia sendiri dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) mencerminkan tren yang progresif. Indeks harga yang diterima petani padi pada Mei 2026 pun berada di 147,97 dan merupakan yang tertinggi dalam 7 tahun terakhir. Begitu pula, indeks Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan yang pada Mei berada di 113,79 dan menjadi indeks tertinggi pada tahun ini.