Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
FTSE Pertahankan Status Pasar Modal RI, Tak Masuk Daftar Pemantauan
Ikon Banteng Wulung di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • BEI menyampaikan perkembangan reformasi pasar modal Indonesia kepada FTSE Russell dalam pertemuan daring.

  • Reformasi yang dibahas mencakup transparansi, likuiditas, dan pengawasan perdagangan.

  • FTSE Russell menegaskan Indonesia tetap berstatus Secondary Emerging Market dan tidak masuk watchlist.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
6 Oktober

FTSE Russell menetapkan Indonesia tetap berada di status Secondary Emerging Market dalam laporan mereka.

23/10/2026

BEI menggelar pertemuan daring dengan FTSE Russell untuk membahas perkembangan reformasi pasar modal Indonesia.

26/10/2026

Jeffrey Hendrik menyampaikan hasil pertemuan tersebut dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    BEI membahas perkembangan reformasi pasar modal Indonesia dan mendapat penegasan status Indonesia dari FTSE Russell.
  • Who?
    Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dan penyedia indeks global FTSE Russell.
  • Where?
    Pertemuan dilakukan secara daring, sementara konferensi pers berlangsung di Gedung BEI, Jakarta.
  • When?
    Pertemuan dengan FTSE Russell berlangsung pada Jumat, 23 Oktober 2026. Konferensi pers digelar Senin, 26 Oktober 2026.
  • Why?
    Pertemuan membahas perkembangan reformasi pasar modal Indonesia dan penegasan klasifikasi pasar modal Indonesia.
  • How?
    BEI menyampaikan pembaruan reformasi dalam aspek transparansi, likuiditas, dan pengawasan perdagangan kepada FTSE Russell.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

BEI bertemu FTSE Russell lewat internet untuk membicarakan perubahan pasar modal Indonesia. Jeffrey Hendrik menjelaskan soal keterbukaan, jual beli, dan pengawasan. FTSE Russell bilang Indonesia tetap menjadi pasar Secondary Emerging Market. Indonesia juga tidak masuk daftar pantauan. Pertemuan itu dilakukan pada 23 Oktober 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Reformasi pasar modal Indonesia mendapat apresiasi dari FTSE Russell. Penegasan status sebagai Secondary Emerging Market serta tidak masuknya Indonesia dalam watchlist menunjukkan bahwa pembahasan mengenai transparansi, likuiditas, dan pengawasan perdagangan telah mendapat perhatian positif dari penyedia indeks global tersebut.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan pihaknya menggelar pertemuan daring dengan penyedia indeks global FTSE Russell pada Jumat (23/10/2026). Pertemuan tersebut membahas perkembangan reformasi pasar modal Indonesia.

"Di tanggal 23 Oktober, hari Jumat yang lalu, dapat kami laporkan bahwa dalam pertemuan tersebut yang dilakukan secara online seperti biasa dalam pertemuan reguler kami dengan para global index provider," katanya dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Senin (26/10/2026).

1. BEI paparkan reformasi pasar modal

Konferensi pers di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (26/10/2026). (IDN Times/Trio Hamdani)

Dalam pertemuan itu, BEI menyampaikan perkembangan reformasi pasar modal dalam tiga aspek, yakni transparansi, likuiditas, dan pengawasan perdagangan (surveillance).

"Kami menyampaikan update atas reform yang telah dilakukan oleh pasar modal Indonesia dalam tiga kelompok," ujar dia.

2. FTSE Russell tegaskan klasifikasi Indonesia

Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (IDN Times/Vadhia Lidyana)

BEI juga kembali meminta penegasan mengenai klasifikasi pasar modal Indonesia. FTSE Russell mengapresiasi langkah reformasi yang telah dilakukan dan menegaskan Indonesia tetap berstatus Secondary Emerging Market.

"FTSE menegaskan bahwa di dalam report mereka di tanggal 6 Oktober secara jelas sudah disampaikan bahwa FTSE menetapkan Indonesia di secondary emerging market," tuturnya.

3. Indonesia tidak masuk watch list FTSE Russell

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

FTSE Russell juga tidak memasukkan Indonesia ke dalam daftar pantauan (watchlist). Kepastian tersebut disampaikan kembali dalam pertemuan dengan BEI sebagai bagian dari pembahasan reformasi pasar modal Indonesia.

"Bahkan Indonesia tidak dimasukkan ke dalam watch list. Dan tentu itu adalah konfirmasi yang sangat kuat yang disampaikan oleh FTSE dan apresiasi yang diberikan atas reformasi yang kita lakukan," kata Jeffrey.

Curated For You

Editorial Team

Related Article