Pendapatan Fiskal China Capai Rp46.624 Triliun hingga Kuartal III-2026

- Pendapatan anggaran publik China mencapai 17,23 triliun yuan atau Rp46.624,38 triliun hingga September 2026, tumbuh 5,1 persen secara tahunan.
- Penerimaan pajak naik 6,1 persen menjadi 14,07 triliun yuan, ditopang PPN dan pajak penghasilan badan, meski pajak akta serta apresiasi nilai tanah menurun.
- Belanja publik mencapai 21,02 triliun yuan, dengan kenaikan besar pada kesehatan dan jaminan sosial; pemerintah menyiapkan fiskal proaktif untuk memperluas permintaan domestik.
Jakarta, IDN Times - Pendapatan fiskal China tumbuh secara stabil pada sembilan bulan pertama 2026. Data resmi Kementerian Keuangan China yang dilaporkan Xinhua pada Jumat (23/10/2026) di Beijing mencatat pendapatan anggaran publik umum mencapai 17,23 triliun yuan atau setara Rp46.624,38 triliun (kurs Rp2.706). Realisasi tersebut menandai pertumbuhan sebesar 5,1 persen secara tahunan.
Laju pertumbuhan pendapatan negara pada periode Januari hingga September 2026 tersebut tercatat lebih tinggi 0,4 poin persentase dibandingkan capaian pada paruh pertama tahun ini. Kinerja makroekonomi yang secara umum stabil dilaporkan mengamankan perolehan pendapatan maupun belanja fiskal negara tersebut.
1. Realisasi penerimaan pajak dan pos pendapatan

ilustrasi dokumen perhitungan pajak (unsplash.com/Kelly Sikkema) Penerimaan pajak China pada tiga kuartal pertama 2026 membukukan total sekitar 14,07 triliun yuan atau setara Rp38.073,42 triliun. Nilai penerimaan perpajakan ini naik 6,1 persen secara tahunan. Tingkat pertumbuhan sektor pajak tersebut tercatat 0,8 poin persentase lebih tinggi dibandingkan capaian pada paruh pertama tahun ini.
Pada rincian pos penerimaan tertentu, pajak pertambahan nilai menyumbang sekitar 5,54 triliun yuan atau setara Rp14.991,24 triliun, atau naik 6 persen secara tahunan. Sementara itu, penerimaan pajak penghasilan badan mencapai sekitar 3,48 triliun yuan atau setara Rp9.416,88 triliun dengan pertumbuhan 7,1 persen.
Berbeda dengan kedua pos tersebut, penerimaan dari pajak akta dan pajak apresiasi nilai tanah mencatatkan penurunan pendapatan. Laporan tersebut tidak merinci besaran angka penurunan pada kedua pos penerimaan tersebut.
2. Alokasi belanja negara dan pengeluaran publik

ilustrasi rumah sakit (pexels.com/Pixabay) Dari sisi belanja fiskal, realisasi pengeluaran anggaran publik umum pada tiga kuartal pertama 2026 mencapai 21,02 triliun yuan atau setara Rp56.880,12 triliun. Total pengeluaran kas negara tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 1 persen secara tahunan.
Belanja negara pada sektor kesehatan mencapai 1,69 triliun yuan atau setara Rp4.573,14 triliun, meningkat 7,7 persen secara tahunan. Di sisi lain, pengeluaran untuk pos jaminan sosial dan ketenagakerjaan menyerap 3,67 triliun yuan atau setara Rp9.931,02 triliun, naik 5,2 persen secara tahunan.
Kedua pos tersebut mencatatkan kenaikan terbesar di antara kategori pengeluaran utama, yang menegaskan dukungan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Kementerian Keuangan China juga mencatat pengeluaran fiskal untuk bidang pendidikan mengalami kenaikan sebesar 1,1 persen secara tahunan. Melalui peningkatan tersebut, alokasi anggaran belanja pada sektor pendidikan mencapai 3,2 triliun yuan atau setara Rp8.659,2 triliun.
3. Pertumbuhan ekonomi dan rencana kebijakan fiskal

ilustrasi pesawat kargo (unsplash.com/Patrick Campanale) PDB China hingga kuartal III tahun ini tumbuh 4,6 persen secara tahunan. Capaian pertumbuhan ini menyoroti ketahanan ekonomi China sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia.
Kementerian Keuangan China dalam laporan pelaksanaan kebijakan yang dirilis awal bulan ini menyatakan akan menerapkan kebijakan fiskal yang lebih proaktif secara efektif dan bertenaga. Langkah tersebut direncanakan melalui percepatan pencairan dana serta percepatan penerbitan obligasi pemerintah untuk memperluas permintaan domestik dan memajukan inovasi teknologi serta industri.





















