Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai membawa perubahan besar dalam dunia kerja, termasuk di industri keuangan. Kali ini, American Express (Amex), perusahaan kartu kredit ternama asal Amerika Serikat, berencana memangkas ribuan karyawannya sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dan mempersiapkan pemanfaatan AI.
Demi Fokus ke AI, American Express PHK Ribuan Karyawannya

- American Express berencana memangkas sekitar 5% tenaga kerja global, berpotensi sekitar 3.850 posisi berdasarkan data akhir 2025, untuk merampingkan organisasi dan mempercepat inovasi.
- Restrukturisasi menyiapkan pemanfaatan AI dengan menyederhanakan proses, mengurangi lapisan manajemen, dan memperluas rentang kendali; Amex menargetkan personalisasi layanan serta agen digital melalui integrasi resmi.
- PHK dilakukan saat kinerja Amex tetap kuat: laba per saham kuartalan US$4,68, pendapatan naik 9% menjadi US$20,06 miliar, dan proyeksi laba tahunan dinaikkan.
Langkah American Express PHK ribuan karyawannya dilakukan ketika perusahaan ingin membuat operasionalnya lebih ramping. Selain itu, mereka berupaya untuk mempercepat inovasi teknologi. Keputusan ini pun menarik perhatian karena Amex masih mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan keuntungan yang cukup kuat. Lalu, apa alasan utama di balik keputusan PHK tersebut dan bagaimana perusahaan berencana memanfaatkan AI dalam operasionalnya? Berikut beberapa hal penting yang perlu diketahui.
1. American Express memangkas 5 persen karyawan global

ilustrasi PHK (magnific.com/Drazen Zigic) American Express berencana mengurangi sekitar 5 persen dari total tenaga kerjanya di seluruh dunia. CEO American Express, Stephen Squeri, menyampaikan rencana tersebut dalam konferensi pembahasan kinerja keuangan kuartal ketiga pada Jumat, 23 Oktober 2026. Hingga akhir 2025, perusahaan ini memiliki hampir 77.000 karyawan. Jika persentase pengurangan tersebut diterapkan pada jumlah tenaga kerja itu, PHK berpotensi mencakup sekitar 3.850 posisi.
Keputusan tersebut menjadi bagian dari restrukturisasi organisasi yang bertujuan meningkatkan efisiensi perusahaan. Dalam penjelasannya kepada para analis, Squeri menilai Amex perlu menjadi organisasi yang lebih gesit dan efisien agar mampu mempercepat inovasi serta memenangkan persaingan dalam beberapa tahun mendatang. Artinya, perusahaan ingin menata ulang struktur internalnya agar lebih siap menghadapi perubahan teknologi. Meski demikian, angka 3.850 merupakan perkiraan berdasarkan jumlah karyawan pada akhir 2025, bukan angka pasti karyawan yang akan terkena PHK.
Rencana tersebut juga menunjukkan bahwa perusahaan besar masih bisa mengambil langkah pengurangan tenaga kerja meskipun bisnisnya berjalan cukup baik. Dalam situasi seperti ini, keputusan perusahaan gak selalu berkaitan dengan penurunan pendapatan atau kerugian. Ada pula pertimbangan jangka panjang, seperti perubahan cara kerja, efisiensi biaya, dan kebutuhan akan keterampilan baru. Bagi pekerja, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa perubahan teknologi bisa memengaruhi kebutuhan tenaga kerja di berbagai industri.
2. AI menjadi alasan penting di balik restrukturisasi

ilustrasi pengguna teknologi AI (vecteezy.com/Khoirul Arif) Direktur Keuangan American Express, Christophe Le Caillec, menjelaskan bahwa restrukturisasi tersebut dilakukan untuk membuat perusahaan lebih ramping, gesit, sekaligus mempersiapkan pemanfaatan AI. Dalam wawancaranya dengan CNBC, ia menekankan pentingnya membenahi proses kerja sebelum perusahaan mengotomatisasinya menggunakan teknologi. Menurut Le Caillec, mengotomatisasi proses yang belum tertata dengan baik justru bukan langkah yang ideal. Karena itu, Amex ingin memperbaiki struktur operasionalnya terlebih dahulu sebelum memperluas penggunaan AI dalam beberapa kuartal dan tahun mendatang.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengurangi lapisan manajemen dan memperluas rentang kendali atau jumlah bawahan yang dapat dikelola oleh seorang manajer. Perubahan ini diharapkan membuat pengambilan keputusan lebih sederhana dan mengurangi kerumitan dalam koordinasi pekerjaan. Dengan struktur organisasi yang lebih ringkas, perusahaan dapat memiliki ruang lebih besar untuk menerapkan otomatisasi. Harapannya, pekerjaan tertentu bisa diselesaikan dengan lebih cepat tanpa harus bergantung pada proses manual yang panjang.
Namun, rencana tersebut bukan berarti seluruh pekerjaan manusia akan langsung digantikan oleh AI, lho. Perusahaan masih perlu menentukan proses mana yang memang cocok untuk diotomatisasi dan bagaimana teknologi itu bisa digunakan secara efektif. Ada pekerjaan yang sifatnya berulang dan relatif mudah diotomatisasi, tapi ada pula tugas yang membutuhkan penilaian, komunikasi, serta pertimbangan manusia. Oleh karena itu, perubahan yang dilakukan Amex lebih tepat dipahami sebagai penataan ulang organisasi untuk menghadapi pola kerja baru yang semakin mengandalkan teknologi.
3. American Express ingin memanfaatkan AI untuk layanan pelanggan

ilustrasi customer service (pexels.com/Mikhail Nilov) Dalam pembahasan strategi perusahaan, Squeri juga memberikan perhatian khusus pada penggunaan AI untuk meningkatkan pengalaman pemegang kartu American Express. Salah satu peluang yang ingin dikembangkan adalah personalisasi layanan dan penawaran berdasarkan kebutuhan pelanggan. Dengan bantuan AI, perusahaan berpotensi memahami preferensi pelanggan secara lebih baik dan menyajikan rekomendasi yang lebih relevan. Pendekatan ini dapat membantu perusahaan meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkuat hubungan dengan para pemegang kartu.
AI juga membuka peluang penggunaan agen digital atau AI agents yang dapat menjalankan tugas tertentu atas nama pengguna. Teknologi tersebut berpotensi membantu pelanggan menyelesaikan sejumlah aktivitas dengan lebih praktis. Meski begitu, penggunaan agen AI dalam layanan keuangan membutuhkan pengawasan yang ketat karena sistemnya bisa berkaitan dengan informasi pribadi dan aktivitas finansial pelanggan. Kesalahan dalam memberikan akses atau menjalankan instruksi dapat menimbulkan risiko keamanan yang serius.
Karena alasan tersebut, Amex menegaskan tidak akan membiarkan agen AI mengakses sistem perusahaan tanpa kendali. Squeri menjelaskan bahwa perusahaan hanya akan mengizinkan agen yang memperoleh persetujuan melalui jalur integrasi resmi, seperti API atau MCP. API merupakan antarmuka yang memungkinkan aplikasi saling bertukar data dan menjalankan fungsi tertentu, sedangkan MCP adalah protokol yang membantu sistem AI terhubung dengan alat atau layanan eksternal secara terstruktur. Dengan pembatasan ini, Amex ingin memanfaatkan kemampuan AI tanpa mengabaikan perlindungan pelanggan dan mitra pedagangnya.
4. Langkah Amex mencerminkan tren PHK di industri keuangan

ilustrasi Barclays, bank di Inggris, perbankan (unsplash.com/Jose Marroquin) American Express bukan satu-satunya perusahaan keuangan yang melakukan pengurangan tenaga kerja di tengah perkembangan teknologi. Barclays, bank asal Inggris, juga mengonfirmasi rencana memangkas sekitar 5.000 pekerjaan pada Kamis, 22 Oktober 2026. Jumlah tersebut setara dengan kurang lebih 5 persen dari total tenaga kerjanya. Langkah Barclays juga berkaitan dengan inisiatif penghematan biaya dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Kedua perusahaan mengambil langkah tersebut ketika industri keuangan masih menikmati keuntungan dari belanja konsumen yang kuat dan kondisi kredit yang relatif tangguh. Situasi ini memperlihatkan bahwa perkembangan AI dapat mendorong perusahaan untuk meninjau kembali kebutuhan tenaga kerja, bahkan ketika kinerja bisnisnya tidak sedang mengalami kemerosotan. Perusahaan berusaha mencari cara agar operasional menjadi lebih efisien dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan yang terus berubah. Dalam jangka panjang, perubahan tersebut bisa memengaruhi jenis pekerjaan yang dibutuhkan oleh industri keuangan.
Bagi kamu yang sedang membangun karier, tren ini layak diperhatikan tanpa perlu langsung menganggap bahwa semua pekerjaan akan hilang akibat AI. Kemampuan menggunakan teknologi, menganalisis informasi, memecahkan masalah, dan berkomunikasi tetap penting dalam menghadapi perubahan dunia kerja. Pekerja yang mampu memadukan keterampilan manusia dengan pemanfaatan teknologi berpotensi memiliki lebih banyak pilihan ketika kebutuhan perusahaan berubah. Karena itu, memahami perkembangan AI dan mulai mempelajarinya bisa menjadi salah satu langkah untuk menjaga daya saing karier.
5. Kinerja keuangan tetap kuat meski perusahaan melakukan PHK

ilustrasi American Express, kartu kredit (pexels.com/DΛVΞ GΛRCIΛ) Di tengah rencana pengurangan karyawan, American Express justru melaporkan hasil keuangan kuartalan yang melampaui ekspektasi analis untuk laba per saham yang telah disesuaikan. Perusahaan mencatatkan laba per saham sebesar US$4,68, lebih tinggi dibandingkan perkiraan rata-rata analis sebesar US$4,48. Amex juga menaikkan proyeksi laba per saham setahun penuh menjadi US$18,30–US$18,60 dari sebelumnya US$17,30–US$17,90. Kenaikan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa perusahaan memiliki keyakinan terhadap prospek keuangannya.
Dari sisi pendapatan, Amex mencatatkan kenaikan sebesar 9 persen menjadi US$20,06 miliar atau sekitar Rp335 triliun, dengan asumsi kurs Rp16.700 per dolar AS. Meski mengalami pertumbuhan, angka tersebut masih sedikit di bawah perkiraan analis sebesar US$20,12 miliar atau sekitar Rp336 triliun. Pihak eksekutif menjelaskan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi belanja adalah penghentian sejumlah kemitraan kartu co-brand untuk bisnis kecil. Kemitraan semacam ini memungkinkan perusahaan kartu kredit bekerja sama dengan merek atau bisnis tertentu dalam menawarkan produk kartu kepada pelanggan.
Amex juga mencatatkan biaya restrukturisasi sebesar US$336 juta atau sekitar Rp5,61 triliun. Sebagian rencana restrukturisasi tersebut terbantu oleh hasil penjualan kepemilikan perusahaan di Global Business Travel Group, menurut penjelasan Le Caillec. Meskipun hasil keuangan perusahaan cukup kuat, saham Amex sempat turun sekitar 4 persen dalam perdagangan pada sore hari setelah pengumuman tersebut. Pergerakan saham itu menunjukkan bahwa investor tetap memperhatikan berbagai faktor, termasuk prospek pertumbuhan, biaya restrukturisasi, dan dampak perubahan strategi terhadap bisnis perusahaan.
Rencana American Express PHK ribuan karyawannya memperlihatkan bagaimana perusahaan besar mulai menata ulang operasionalnya untuk menghadapi perkembangan AI. Pengurangan tenaga kerja tersebut dilakukan bersamaan dengan upaya menyederhanakan struktur organisasi, meningkatkan efisiensi, dan mengembangkan layanan yang lebih personal bagi pelanggan.
Di sisi lain, Amex juga menegaskan pentingnya menjaga keamanan ketika AI mulai terhubung dengan sistem keuangan perusahaan. Bagi kamu yang sedang merintis karier, perkembangan ini bisa menjadi pengingat untuk terus meningkatkan keterampilan dan memahami teknologi agar lebih siap menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja.





















