Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Fake BTS Marak, VIDA: Keamanan Digital Tak Cukup Andalkan Konsumen

2 min read
Fake BTS Marak, VIDA: Keamanan Digital Tak Cukup Andalkan Konsumen
Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur. (Dok/Istimewa).
  • Operasi fake BTS di sekitar Jakarta pada awal Oktober 2026 mengirim hingga 20.000 SMS phishing per hari yang menyamar sebagai pesan bank.
  • Pelaku mengarahkan korban ke situs palsu untuk mencuri PIN, OTP, dan nomor kartu kredit, lalu berpotensi mengambil alih akun serta melakukan transaksi tanpa izin.
  • VIDA menilai kewaspadaan masyarakat saja tidak cukup; edukasi perlu diimbangi penguatan sistem keamanan dan perlindungan identitas digital di sektor keuangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pembongkaran operasi fake Base Transceiver Station (BTS) atau perangkat pemancar sinyal seluler palsu di sekitar Jakarta, pada awal Oktober 2026, menjadi pengingat akan meningkatnya risiko penipuan digital di sektor keuangan.

Perangkat tersebut digunakan untuk mengirimkan hingga 20.000 SMS penipuan (phishing) per hari dengan menyamarkan pesan seolah-olah berasal dari pihak bank. Melalui pesan tersebut, pelaku mengarahkan korban ke situs palsu untuk mencuri data sensitif.

  1. 1. Perlindungan konsumen tidak bisa hanya mengandalkan kewaspadaan masyarakat

    Screenshot 2026-07-24 215550.jpg
    Logo Vida. (Dok/Istimewa).

    Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, menilai perlindungan konsumen dari kejahatan digital tidak bisa hanya mengandalkan kewaspadaan masyarakat. Pasalnya, pelaku terus mengembangkan modus penipuan dengan memanfaatkan teknologi untuk mengelabui korban.

    “Perlindungan konsumen tidak bisa hanya mengandalkan kewaspadaan masyarakat,” ujar Niki.

  2. 2. Sejumlah modus fake BTS

    ilustrasi tower pemancar sinyal (pexels.com/Miguel A. Padrinan)
    ilustrasi tower pemancar sinyal (pexels.com/Miguel A. Padrinan)

    Dalam modus fake BTS, pelaku mengirimkan SMS yang menyerupai komunikasi resmi bank. Korban kemudian diarahkan untuk memasukkan data sensitif, seperti PIN, kode one-time password (OTP), hingga nomor kartu kredit ke situs palsu.

    Data tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk mengambil alih akun korban (account takeover) dan membuka peluang terjadinya transaksi tanpa izin.

  3. 3. Tekankan pentingnya penguatan sistem keamanan digital untuk melindungi konsumen

    ilustrasi keamanan digital (pexels.com/Pixabay)
    ilustrasi keamanan digital (pexels.com/Pixabay)

    Menurut Niki, kasus tersebut memperlihatkan pentingnya penguatan sistem keamanan digital untuk melindungi konsumen. Edukasi masyarakat tetap diperlukan, tetapi perlu diimbangi dengan teknologi yang dapat membantu mencegah penyalahgunaan identitas dan data pribadi.

    Dengan demikian, penanganan penipuan digital tidak cukup hanya dengan meminta masyarakat lebih berhati-hati. Penguatan sistem keamanan dan perlindungan identitas digital juga menjadi bagian penting untuk menekan risiko kejahatan siber di sektor keuangan.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More