ilustrasi kapal (pexels.com/Alexander Bobrov)
Dilansir dari CNBC, sejumlah negara utama dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mulai mengurangi produksi sebagai langkah antisipasi. Kuwait Petroleum Corporation menurunkan volume produksi serta operasi kilangnya karena kekhawatiran terhadap ancaman Iran terhadap keselamatan kapal di Selat Hormuz, meskipun besaran pengurangan belum diumumkan.
Di Irak, produksi dari tiga ladang minyak besar di wilayah selatan merosot sekitar 70 persen menjadi 1,3 juta barel per hari dari sebelumnya 4,3 juta barel per hari menurut keterangan tiga pejabat industri. Pada saat yang sama, Uni Emirat Arab menyesuaikan produksi lepas pantai secara lebih berhati-hati untuk mengatur kapasitas penyimpanan, sementara Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) memastikan operasi di darat tetap berjalan normal.
Negara-negara Teluk lainnya turut menurunkan tingkat produksi karena tangki penyimpanan darat maupun terapung hampir penuh. Kondisi tersebut diperparah oleh keengganan kapal tanker melintasi Selat Hormuz sehingga minyak yang sudah diproduksi sulit dikirim ke pasar.
Presiden AS Donald Trump turut menanggapi lonjakan harga minyak melalui unggahan di Truth Socialsetelah harga menembus 100 dolar AS (setara Rp1,7 juta). Ia menyatakan bahwa kenaikan harga minyak dalam jangka pendek merupakan harga yang sangat kecil untuk dibayar demi menghancurkan ancaman nuklir Iran, dan menurutnya hanya orang bodoh yang berpikir sebaliknya. Trump juga menggambarkan kenaikan harga tersebut sebagai harga kecil demi keselamatan dan perdamaian AS serta dunia, sekaligus menyebutnya sebagai konsekuensi jangka pendek dari perang tersebut.
Seorang juru bicara Korps Garda Revolusi Iran merespons serangan terhadap fasilitas energi dengan memperingatkan potensi lonjakan harga minyak hingga melampaui 200 dolar AS (setara Rp3,39 juta) per barel jika konflik terus berlanjut.
Menteri Energi Chris Wright juga menilai arus kapal tanker melalui Selat Hormuz akan kembali pulih setelah AS menghilangkan kemampuan Iran mengancam pelayaran.
“Kita tidak akan lama lagi sebelum kalian melihat pemulihan lalu lintas kapal yang lebih teratur melalui Selat Hormuz. Saat ini kita masih jauh dari lalu lintas normal. Itu akan memakan waktu. Tapi lagi-lagi, skenario terburuk itu beberapa minggu, bukan berbulan-bulan,” katanya kepada CNN.
Laporan lain menyebutkan Iran telah menunjuk Mojtaba, putra Ayatollah Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru setelah kematian Khamenei pada hari-hari awal konflik.