Minyak Dunia Tembus 100 Dolar, Bahlil Jamin Harga BBM Subsidi Tak Naik

- Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan solar tidak naik hingga Lebaran 2026 meski harga minyak dunia tembus 100 dolar AS per barel.
- Kenaikan harga minyak dipicu ketegangan geopolitik global, namun stok nasional aman dan pemerintah fokus mencari solusi atas lonjakan harga internasional.
- Pemerintah menyiapkan percepatan program B50 dan E20 sebagai langkah efisiensi energi serta berkoordinasi dengan Kemenkeu untuk menjaga stabilitas fiskal.
Jakarta, IDN Times - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga Lebaran 2026.
Pemerintah akan mempertahankan harga BBM jenis Pertalite maupun solar subsidi meski harga minyak mentah dunia kini telah melampaui angka 100 dolar AS per barel.
"Saya pastikan agar masyarakat tidak usah merasa gimana menyangkut dengan harga, karena sampai dengan hari raya ini Insya Allah enggak ada kenaikan harga BBM untuk subsidi," kata dia di kantornya, Jakarta, Senin (9/3/2026).
1. Harga minyak melonjak akibat konflik global

Kenaikan harga minyak dunia merupakan dampak ketegangan geopolitik Iran, Israel, dan AS. Namun, Bahlil menegaskan persoalan utama Indonesia saat ini bukan pada ketersediaan stok, melainkan harga di level global.
"Problemnya kita sekarang bukan di stok. Stok enggak ada masalah, sudah ada semuanya. Kita itu sekarang tinggal di harga. Nah, kita lagi akan men-exercise untuk melakukan langkah-langkah yang komprehensif," ujar Bahlil.
2. Buka wacana percepat implementasi B50 dan E20

Sebagai strategi jangka panjang sekaligus langkah efisiensi, Bahlil mengungkapkan rencana pemerintah untuk mempercepat mandatori B50 (pencampuran 50 persen biodiesel dan minyak solar) dan penerapan E20 (pencampuran bensin dan 20 etanol).
Langkah itu dinilai lebih ekonomis dibanding terus bergantung pada minyak fosil murni saat harga dunia sedang tinggi. Menurutnya, melakukan blending atau pencampuran bahan bakar nabati lebih murah secara biaya.
"Kalau harga minyaknya fosil bisa melampaui 100 dolar AS per barel, maka itu lebih murah," kata dia.
3. Bahlil pastikan koordinasi dengan Kemenkeu

Mengingat harga minyak dunia sudah jauh melampaui asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sebesar 70 dolar AS per barel, Bahlil memastikan akan ada pembicaraan intensif di internal pemerintah.
"Itu nanti urusan pemerintah, itu pasti ada komunikasi dengan pemerintah ya," kata mantan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) itu.


















